Lampung Utara (LB): Di tengah gencarnya berbagai program yang digalakkan pemerintah, baik dari tingkat pusat hingga daerah, demi meruntuhkan angka kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, kisah Mbah Suminem justru menjadi catatan menyayat hati sekaligus pertanyaan besar atas pelaksanaan kebijakan tersebut.
Warga Desa Bindu, Kecamatan Abung Kunang, Lampung Utara ini kini menginjak usia 70 tahun, hidup sebatang kara dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Rumah tempat berteduhnya pun sudah tak lagi layak huni, dan sampai detik ini beliau belum memiliki jamban atau toilet yang layak digunakan.
Aiptu Husni Tamrin, kasubsektor Abung Kunang, menceritakan setahun yang lalu dirinya bersama Tim Lokmin Kecamatan sudah bergerak lebih dulu menggalang dana donasi dari masyarakat. Hasilnya, mereka berhasil membeli kloset, semen, pasir, besi hingga pipa yang dibutuhkan untuk membangunkan jamban bagi Mbah Suminem. Seluruh bantuan material itu diserahkan pada 27 September 2025 silam, dan pada saat itu Kepala Desa Bindu menyanggupi sepenuhnya untuk menyelesaikan pemasangannya.

MENUNGGU JANJI. Mbah Suminem duduk di beranda rumahnya yang sederhana. Dia masih menunggu janji pemerintah untuk membuatkan jamban terealisasi. (Foto: Ist)
“Sudah setahun berlalu, semennya sudah mengeras menjadi batu, tapi jamban itu tak pernah juga terbangun. Di mana letak rasa tanggung jawab dan kepedulian seorang pemimpin wilayah, jika janji yang sudah diucapkan begitu saja diabaikan?” ungkap Husni dengan nada kecewa, Rabu (29/7/2026).
Kekecewaan Husni tak berhenti di situ. Beberapa waktu lalu, pihaknya justru dihubungi lewat pesan WhatsApp oleh Dinas Sosial Kabupaten Lampung Utara, diminta bersiap mendampingi Kepala Dinas Sosial berkunjung ke kediaman Mbah Suminem. Ia pun menunggu seharian penuh sesuai kesepakatan, namun tak kunjung ada kabar. Belakangan diketahui, Kepala Dinas Sosial Imam Hanafi beserta rombongan ternyata sudah mendatangi lokasi secara terpisah untuk menyerahkan bantuan sembako dan uang santunan.
“Saya merasa seolah dibohongi. Mengapa menghubungi dan berjanji jika pada akhirnya justru berangkat sendiri? Waktu saya sia-siakan menunggu, padahal niatnya hanya ingin memastikan semuanya berjalan tepat sasaran,” keluhnya.
Kondisi yang dialami Mbah Suminem ini ibarat sepotong cermin buram yang memantulkan realitas kemiskinan yang sesungguhnya masih melekat di Lampung Utara. Program pengentasan kemiskinan yang kerap disuarakan tampaknya masih berjalan di tempat, lebih banyak tampil seremonial dibandingkan benar-benar menyentuh akar masalah.
Kisah ini yang kini menyebar luas di media sosial menjadi pengingat keras bahwa masih banyak warga di lapisan terbawah yang hidup di bawah garis kemiskinan dan sangat membutuhkan perhatian nyata dari para pemangku kebijakan. Pemerintah Desa Bindu diharapkan tak lagi berlepas tangan, sementara langkah yang diambil Dinas Sosial pun dinilai terlambat jauh dibandingkan kepedulian yang ditunjukkan aparat keamanan beserta warga biasa setahun silam. (Ardi)
Tidak ada komentar