Artikel Dan Opini

COretan Dinding: Peringatan 78 Tahun Merdeka, Euforia Palsu Sampul Tanpa Jiwa

61
×

COretan Dinding: Peringatan 78 Tahun Merdeka, Euforia Palsu Sampul Tanpa Jiwa

Sebarkan artikel ini

AGUSTUS menjadi puncak perjuangan bangsa ini dalam memperjuangkan kemerdekaan, bulan paling penting dalam sejarah Bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, tepatnya Tanggal 17 Agustus Tahun 1945, 78 tahun silam, dimotori oleh para pemuda, di antaranya: Chaerul Saleh, Soekarni, Sayuti Melik, Wikana, BM Diah, Yusuf Kunto dan Sudiro, Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya yang dibacakan “Putra Sang Fajar” Ir. Soekarno didampingi Mohammad Hatta di Jl. Pegangsaan Timur No. 56. Jakarta.

Ketika itu (tak sanggup kita membayangkan) pada 17 Agustus 78 tahun silam, magma dalam jiwa setiap pemuda dan seluruh Bangsa Indonesia mendidih dan meledak menyemburkan lahar panas perjuangan yang membuat gempar seluruh dunia. Ledakan yang menjadi penanda lahirnya kebebasan setelah beratus tahun terbelenggu penjajah. Kebebasan yang direbut! Kebebasan yang menumpahkan darah serta merenggut jiwa dan raga tak terhingga.

Jika kita membaca dan mengulik sejarah, betapa heroik bangsa ini dalam perjuangan merebut kemerdekaannya. Ratusan suku bangsa dengan berbagai bahasa dengan ragam warna kulit dan agama, dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Pulau Rote, bersatu padu mengepalkan tinju bahu-membahu mengusir penjajah berkorban jiwa dan raga tanpa rasa takut. Betapa dahsyat!

Dan kali ini, pada Agustus yang ke-78 pasca Proklamasi Kemerdekaan dibacakan, kita saksikan di seluruh penjuru negeri Bendera Merah Putih berkibar menantang angin, menahan terik matahari dan melawan serbuan hujan. Ingar bingar perihal narasi kemerdekaan dibangun dan digaungkan, menggema mulai dari Istana Negara hingga di daerah paling umbul (pelosok). Juga tak kurang beragam pernak-pernik bernuansa merah putih terpasang di berbagai tempat; Istana Negara, institusi pemerintah, perguruan tinggi dan instansi pendidikan, markas militer, rumah sakit, tepi jalan, pintu rel kereta api, kolong jembatan, bahkan di lengan dan kepala para pekerja.

Orang-orang (baca: warga Negara Indonesia) di berbagai belahan bumi, mulai pejabat istana sampai masyarakat biasa di dusun-dusun juga tak luput, turut merayakan Hari Kemerdekaan dengan menggelar beragam tangkai lomba dan permainan yang terlihat sangat meriah.

Sayangnya… itu hanyalah sampul tanpa isi, semua hanya mengesankan sekadar seremoni, tanpa jiwa, tanpa roch (meminjam istilah Bung Karno), sebuah perayaan hampa tanpa semangat rela berkorban tanpa pamrih. Perayaan ke-78 tahun kemerdekaan hari ini adalah sebuah pekik kemerdekaan palsu, teriakan kelaparan dan ketidakadilan bagi masyarakat bawah masih kerap terdengar.

78 tahun kemerdekaan hari ini masih menampilkan nyanyian sumbang Indonesia Raya dalam sebuah upacara atau lomba, pekik para petani yang hasil buminya dibeli murah, tangis para pekerja pabrik yang keringatnya diperas habis, keluh para guru honorer yang gajinya setiap bulan hanya cukup untuk membeli bedak dan gincu, hingga kisah pengayuh becak yang tak mampu membayar biaya bersalin istrinya yang melahirkan di rumah sakit.

Yang juga tidak kalah dramatis, 78 Tahun kemerdekaan, Indonesia Raya Tanah Airku masih menulis tentang lakon dan laku Sengkuni dalam ragam versi; pejabat korup hilir mudik memberi materi tentang pendidikan karakter, aparatur hukum bermain pasal menjadi makelar kasus dan pura-pura berbicara perihal keadilan, pejabat dan politisi korup makin beringas menimbun kekayaan dengan slogan bekerja demi rakyat sibuk mencari piagam penghargaan agar disebut berhasil dalam pembangunan.

Di sudut lain, para perampok berkedok ahli agama menjual ayat Tuhan demi ‘Cuan’, sosok yang mengaku tokoh meski pendiriannya tak lagi kokoh mempertontonkan cara mencuri dengan kostum malaikat paling suci.

Sementara itu, sistem pendidikan di sekolah hanya mengajarkan rumus-rumus dan mencetak pekerja juga melahirkan robot-robot tanpa jiwa. Guru dan sekolah, perlahan mulai berubah menjadi mesin produksi yang bisa meluluskan ribuan alumni dengan nilai hanya serupa angka-angka. Lalu ribuan doktor, profesor, dan para ahli sibuk membangun eksistensi demi gengsi hingga tertangkap korupsi.

Inilah sebuah anomali, sekaligus realita mengerikan di negeri yang konon katanya Gemah Ripah Loh Jinawi, Negeri Zamrud Katulistiwa yang katanya masyarakatnya adil makmur sejahtera.

Barangkali, setelah 78 tahun, inilah saat yang tepat bagi kita untuk kembali menyusuri jalan yang benar, berbenah menggali semangat dan jiwa rela berkorban para pahlawan agar Indonesia benar-benar Melaju semakin Maju Gemah Ripah Loh Jinawi. Semua bergantung kepada kita sekarang. Terus Melaju Untuk Indonesia Maju?

Anton Kurniawan, warga biasa tinggal di Provinsi Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *