x

‎Kolaborasi dengan Itera, KTH Wono Harjo Desa Banjaran Olah Buah Pala Jadi Permen Herbal

waktu baca 2 minutes
Senin, 20 Okt 2025 21:32 0 338 admin

‎Pesawaran (LB): Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Harjo, Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung mendapat pelatihan mengolah buah pala menjadi produk permen herbal lewat Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang dilakukan dosen dan mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera (Itera), baru-baru ini.

‎Melalui kegiatan ini, masyarakat desa hutan kini memiliki peluang baru untuk meningkatkan nilai tambah hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan memperkuat ekonomi lokal.

‎Kegiatan ini merupakan bagian Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Itera Tahun 2025 yang diketuai Maeda Wahyuningrum, S.Hut., M.Si.
‎Pelatihan dilaksanakan di Balai KTH Wono Harjo dan diikuti anggota kelompok tani serta masyarakat sekitar.

‎Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali keterampilan mulai dari teknik pengolahan buah pala menjadi permen herbal, cara menjaga kandungan bioaktif alami pala, hingga strategi pengemasan dan pemasaran produk lokal berkelanjutan.

‎Kegiatan ini juga memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular, yakni limbah hasil olahan pala dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan tambahan pupuk organik atau produk turunan lainnya.

‎Maeda Wahyuningrum menjelaskan potensi buah pala di wilayah Pesawaran sangat besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan desa hutan.

‎“Melalui pelatihan ini kami ingin masyarakat mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi tanpa meninggalkan prinsip kelestarian hutan,” ujarnya, Senin (20/10/2025).

‎Program ini juga mendapat dukungan pendanaan dari Itera melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025 (Nomor Kontrak: 1999ag/IT9.2.1/PM.01.01/2025), yang memungkinkan pelaksanaan pelatihan aplikatif sekaligus pendampingan lanjutan bagi masyarakat desa hutan.

‎Melalui kegiatan ini, KTH Wono Harjo diharapkan tumbuh menjadi kelompok tani hutan produktif, inovatif, dan berdaya saing, serta menjadi contoh keberhasilan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu di Kabupaten Pesawaran. (*/red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA