Lampung Utara (LB): Puluhan siswa SMAN 1 Abung Semuli (SMANSA Muli) Lampung Utara, Provinsi Lampung mengikuti Workshop Jurnalistik dalam Literasi Sekolah dengan Tema “Jurnalisme Pelajar: Menulis Sekolah, Membaca Peristiwa” yang digelar di gedung Laboratorium Biologi sekolah tersebut, Rabu (30/9/2026) dengan menghadirkan narasumber Anton Kurniawan dan Syaifullah.
Hampir 100-an siswa berpakaian rapi, sejak pagi pukul 08.30 WIB hingga kegiatan berakhir pada pukul 15.00 WIB, terlihat semangat dan antusias mengikuti setiap materi yang dipaparkan para narasumber. Sehingga kegiatan yang dilaksanakan berlangsung dengan “suasana meriah” dan interaktif.
Bukan hanya peserta, narasumber juga mengapresiasi cara kerja panitia dalam kegiatan ini yang “gercep” dan sigap dalam melakukan tugasnya sehingga kegiatan berlangsung lancar.
“Cara kerja panitianya bagus,” ucap Syaifullah memberikan apresiasi.
Pada sesi pemaparan materi, para siswa terlihat serius mengikuti kemudian silih berganti memberikan pertanyaan atau menjawab pertanyaan yang diberikan oleh para narasumber.

WAWANCARA. Terlihat peserta Workshop Jurnalistik ‘Jurnalisme Pelajar: Membaca Sekolah, Menulis Peristiwa’ sedang simulasi praktik wawancara, Rabu (30/9/2026).
“Menurut saya berita yang menarik ditulis adalah sesuatu yang baru terjadi sehingga mampu menarik minat pembaca,” ucap Gilang, salah satu siswa peserta workshop, ketika ditanya “Jika harus menulis berita terkait sekolah ini, berita apa yang akan kamu tulis?
Jawaban berbeda disampaikan Nuru. Menurutnya, jika harus menulis berita terkait sekolahnya, dia akan menulis berita tetang sesuatu yang belum banyak diketahui khalayak. Sebab dengan diberitakan, ujarnya, peristiwa atau prestasi yang tidak terpublikasi bisa tersampaikan dengan masyarakat.
“Kalau saya, lebih tertarik menulis sesuatu peristiwa yang belum banyak diketahui. Kalau ada hal yang belum diketahui banyak orang, jika diberitakan maka akan mengundang masyarakat untuk membaca. Selain itu kita bisa memberikan pengetahuan untuk pembaca,” kata Nuru.
Sementara itu, Davi, lebih tertarik terhadap pembahasan tentang bagaimana sebuah berita harus akurat dan tidak boleh hoak. Dia juga menanyakan apakah berita sama dengan informasi.
“Berita itu sudah pasti benar karena sudah melalui konfirmasi terhadap narasumber berita hingga pengecekan langsung ke lokasi, sedangkan informasi belum dipastikan kebenarannya karena masih memerlukan konfirmasi,” jawab Leo peserta lainnya.

ANTUSIAS. Seluruh peserta Workshop ‘Jurnalisme Pelajar: Membaca Sekolah, Menulis Peristiwa’ terlihat antusias mengikuti setiap sesi kegiatan. (Foto: lampungbarometer.id)
Dalam kegiatan ini, selain dikenalkan dengan metode untuk mendapatkan informasi dengan menanyakan hal-hal terkait pemberitaan yang dikenal dengan 5W + 1H, para peserta juga melakukan simulasi praktik wawancara dengan narasumber.
Dalam simulasi ini, Citra, salah satu peserta, terlihat begitu antusias membuat list pertanyaan yang akan dia tanyakan kepada narasumber. “Apakah dengan adanya kegiatan ini, Bapak yakin sekolah ini akan maju ke depan,” tanyanya saat memerankan sebagai reporter dalam simulasi tersebut.
Hal lain yang cukup menarik perhatian para peserta dalam simulasi, ketika salah satu siswa bernama Michael Ferdi memerankan sebagai narasumber. Dalam simulasi tersebut, tampak Ferdi yang merupakan “penggemar sound horeg” berencana akan mengikuti kompetisi sound horeg tingkat dunia.
Jelang keberangkatannya, dia melakukan konferensi pers. “Target saya adalah juara dan mengharumkan negara kita,” ucapnya saat seorang peserta yang berperan sebagai reporter menanyakan terget yang akan diraih dalam kompetesi internasional yang akan dia ikuti.
“Saat ini saya sedang melakukan persiapan, dengan mendengarkan secara seksama musik sound system, apakah volumenya terlalu tinggi atau bass-nya keliwat rendah,” ujar Ferdi yang disambut gelak para peserta.
Bukan hanya teknik mencari dan menulis berita, dalam workshop ini peserta juga mendapat pemaparan tentang platform digital dan etika bermedsos. “Hati-hati saat kalian berselancar di media sosial sebab banyak informasi hoak berseliweran. Jangan sampai kalian ikut menyebarkan berita bohong atau hoak karena terancam UU ITE.
“Saring sebelum sharing, pastikan sumber informasi benar dan terkonfirmasi. Kalau sampai ada hal yang salah berkaitan dengan video, gambar atau tulisan yang kita share di medsos maka kita bisa kena pasal UU ITE. Ancamannya 12 tahun penjara. Bukan hanya yang membuat, tapi juga yang menyebarkan. Jadi hatii-hati,” ujar Syaiful.
Sedangkan Anton Kurniawan, menyampaikan jurnalistik berkaitan dengan tulis-menulis dan komunikasi, sehingga membutuhkan kemampuan kemampuan bahasa dan berbahasa yang baik. Untuk mencapainya harus disiplin dan terus belajar.
“Ini baru awalan untuk menjadi jurnalis sekolah, tugas selanjutnya akan lebih berat. Terus belajar dan jaga disiplin,” kata Anton.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Abung Semuli Aruji Karyawinata, M.Pd.I. melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Elfri Familia Puspita, S.Pd. mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang bertujuan meningkatkan minat menulis siswa.
“Kegiatan ini tujuannya adalah membangkitkan minat membaca dan menulis siswa. Kegiatan ini langkah awal untuk melahirkan jurnalis sekolah,” ujarnya. (Herdi)
Tidak ada komentar