Lampung Utara (LB): Suasana meriah Turnamen Futsal Piala Bupati Lampung Utara 2026 yang berlangsung di GOR Sukung Kotabumi sejak 21 Agustus lalu, berakhir dengan duka dan protes.
Sebuah insiden celaka menimpa seorang penonton muda, sekaligus memunculkan tuduhan ketidakprofesionalan dan ketidaktanggungjawaban pihak penyelenggara.
Korban berinisial BLQ, warga Jalan Bougenville Stadion Sukung Kotabumi, justru hadir atas permintaan panitia. Melalui surat resmi, panitia meminta setiap sekolah di Kabupaten Lampung Utara untuk mengirimkan suporter guna memeriahkan kompetisi. Namun kehadiran itu justru membawa malapetaka.
Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, sekitar pukul 16.09 WIB, saat pertandingan berlangsung, mata kanan BLQ terkena percikan api dari kembang api Boom Smoke yang digunakan dalam acara. Korban langsung kesakitan dan menangis hebat. Ironisnya, penanganan pertama dari panitia hanya sekadar memberi cairan alkohol, tanpa ada upaya merujuk ke tenaga medis atau fasilitas kesehatan terdekat.
Orang tua korban, Sabirin, terpaksa segera membawa anaknya sendiri ke Balai Pengobatan Alaya Medika Kotabumi untuk mendapatkan pertolongan. Dari sana, tenaga medis justru menyarankan agar korban dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap di Kedaton, Bandar Lampung, mengingat kondisi matanya yang cukup serius.
Kekecewaan Sabirin memuncak lantaran sikap panitia yang dinilai tak acuh sama sekali. “Setelah kejadian itu, tidak ada satu pun panitia yang datang menjenguk, apalagi membantu pengobatan. Padahal anak saya mengalami luka di mata. Ini bukan hal sepele! Terkesan panitia hanya mementingkan keuntungan semata, bukan keselamatan penonton,” tegas Sabirin dengan nada emosi.
Hingga berita ini disusun, berlalu dua hari sejak insiden terjadi, pihak panitia belum sekaligus berkunjung ke kediaman korban untuk menanyakan kabar. Karena hal itu, Sabirin mengancam akan melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian jika dalam beberapa hari ke depan tidak ada tanggapan maupun tanggung jawab dari panitia penyelenggara.
“Kalau luka mata anak saya tidak kunjung membaik, dan panitia tetap diam saja, saya pasti melaporkan ini ke pihak berwajibkan. Ini bentuk kelalaian dan ketidaktanggungjawaban yang tidak bisa dibiarkan begitu saja,” tegasnya.
Masalah kian melebar, tak hanya soal keselamatan. Banyak suporter yang mengeluhkan kebijakan tiket masuk senilai Rp10.000 per orang. Padahal, para pelajar itu hadir atas permintaan panitia sendiri untuk mengisi tribun mulai babak 16 besar hingga final.
“Kami pikir karena diminta datang sebagai suporter, kami bisa masuk gratis. Ternyata tetap harus bayar. Kalau tahu begitu, mana mau kami datang,” keluh salah satu suporter dari Kecamatan Bukit Kemuning yang enggan disebutkan namanya.
Turnamen yang diikuti 137 tim dari berbagai tingkatan ini resmi berakhir pada Minggu, 30 Agustus 2026. Namun hingga penutupan acara, berbagai keluhan penonton dan insiden luka tersebut belum mendapatkan tanggapan resmi.
Ketua Panitia, Taufik Hidayat, tidak dapat dihubungi, pesan WhatsApp tidak dibalas dan nomor ponselnya dalam keadaan tidak aktif. (Ardi)
Tidak ada komentar