Lampung Utara (LB): Air mengalir dengan tenang, tawa bergema memenuhi tepian, dan riuh sorak-sorai anak-anak berpadu dengan keceriaan orang dewasa. Minggu pagi, 30 Agustus 2026, aliran Kali Merah di Desa Sawojajar, Kecamatan Kotabumi Utara, berubah menjadi panggung kegembiraan yang tak terlupakan.
Di sanalah warga Dusun Sawojajar I menutup rangkaian perayaan HUT Ke-81 Republik Indonesia dengan tradisi hangat bernama Ngubek Kali, sebuah perayaan yang sekaligus menjadi doa, kebersamaan, dan penjaga alam.
Bukan sekadar penutup perayaan kemerdekaan. Kegiatan ini adalah benang yang terus-menerus dipintal untuk menguatkan ikatan kekeluargaan antarwarga, sekaligus menjadi ruwatan, penyucian dan pembersihan sungai yang telah memberi kehidupan turun-temurun. Air adalah sumber kehidupan, dan menjaganya adalah menjaga kehidupan bersama.
“Selain sebagai upaya menguatkan ikatan silaturahmi antarwarga, kegiatan ini juga sebagai upaya agar aliran air Kali Merah tetap terjaga,” ujar Kepala Dusun Sawojajar I, Hi. Abdul Ghofur, yang turut melebur bersama warga dalam kegiatan Ngubek Kali.

NGUBEK KALI. Warga Dusun Sawojajar I dengan gembira menangkap ikan bersama menjadi acara penutup kemeriahan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI.
Menurutnya, sungai bukan sekadar aliran air, ia adalah urat nadi kehidupan desa, warisan yang wajib dijaga agar tetap bening dan mengalir abadi bagi generasi mendatang.
Suasana begitu hidup. Puluhan warga, tua muda, lelaki perempuan, anak-anak yang melompat riang dan orang dewasa yang tersenyum bangga, semua turun ke air bersama. Ikan-ikan lele telah dilepas lebih dulu ke aliran Kali Merah, dan kini tangan-tangan bergerak lincah menyapa permukaan air.
Ada yang tertawa saat tangannya tergelincir, ada yang bersorak berhasil meraup seekor, dan tak jarang ikan itu meloloskan diri disambut gelak tawa yang makin memeriahkan suasana.
Di sana tak ada sekat. Kaya dan miskin berdampingan basah kuyup bersama. Tak ada atasan dan bawahan, yang ada hanyalah tetangga, saudara, sesama warga Sawojajar yang bergandengan hati.
Semangat gotong royong yang diwariskan leluhur tampak nyata, melebur dalam riuh air dan canda tawa. Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya, bebas bersatu, bebas berbagi kebahagiaan, bebas menjaga rumah bersama.
Sorak tertinggi meledak ketika waktu berlalu dan penghitungan dimulai. Bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang paling beruntung dan tekun. Warga yang berhasil mengumpulkan ikan terbanyak pun dianugerahi penghargaan berupa hadiah uang tunai, bukan semata sebagai balasan, melainkan tanda penghormatan atas semangat, ketangkasan, dan keikutsertaan yang penuh sukacita.
Saat matahari mulai naik meninggi dan riuh perlahan mereda, ada yang terasa berbeda di udara. Air Kali Merah tetap mengalir tenang, bersih kembali setelah dibersihkan bersama-sama. Namun yang jauh lebih jernih dan mengalir kuat hari ini adalah hati warga Sawojajar, makin erat bersatu, makin teguh berjanji untuk terus menjaga alam dan persaudaraan yang menyatukan mereka.
Di tepian Kali Merah itu, kemerdekaan Ke-81 bukan sekadar angka atau tanggal di kalender. Ia hidup dalam senyum, dalam genggaman tangan, dalam kesepahaman bahwa sungai yang bersih berarti desa yang sehat, dan persaudaraan yang kuat berarti masa depan yang cerah. Sebuah penutup perayaan yang indah, sekaligus awal perjalanan menjaga warisan alam dan persaudaraan, terus mengalir tak henti, bagai air Kali Merah yang senantiasa memberi kehidupan. (Ardi)
Tidak ada komentar