x

‎’Jihan’, Tokoh Adat, dan Pelajaran yang Lahir dari Panggung Krakatau Festival ‎

waktu baca 4 minutes
Selasa, 8 Jul 2025 11:39 0 863 admin

‎Oleh: Feragi Azizun Putra,M.Pd.

MUNGKIN tidak banyak yang menyadari bahwa Festival Krakatau 2025 bukan hanya ruang hiburan, bukan pula sekadar tempat berpesta tradisi. Bila dicermati lebih dalam, perhelatan budaya tahunan ini sejatinya telah berubah menjadi semacam kelas terbuka, tempat masyarakat terutama tokoh adat dan para elite lokal, diam-diam sedang diajak kembali ke sekolah nilai.

‎Siapa Sang pengajarnya? Bukan siapa-siapa, melainkan Wakil Gubernur Lampung, dr. Jihan Nurlela, M.M., seorang perempuan muda yang dalam diamnya mampu menyampaikan pelajaran paling mendasar tentang siapa kita sebagai orang Lampung.

‎Dalam pidatonya di pembukaan Festival Krakatau Ke‑34, Jihan tidak bicara soal angka APBD, tidak pula membual soal target investasi. Ia memilih berbicara tentang “Nemui Nyimah”, sebuah falsafah tua yang nyaris tak lagi dikenali oleh sebagian besar generasi baru, bahkan oleh mereka yang mengklaim diri sebagai Tokoh Adat dan Tokoh Budaya. Sangat ironis.

‎Kalimatnya lembut namun menusuk: “Ini bukan sekadar tema festival. Ini adalah jati diri kita. Nemui Nyimah adalah cara hidup kita sebagai orang Lampung,” demikian ucap Wakil Gubernur. Kalimat sederhana, tapi bila direnungkan lebih dalam, adalah sebuah sindiran halus yang menyadarkan: nilai-nilai hidup itu telah lama kita abaikan, atau lebih tepatnya, kita jadikan ornamen tanpa makna.

‎Sungguh menarik bahwa pelajaran ini datang justru dari seorang Wakil Gubernur, bukan dari tokoh adat atau pemangku kebudayaan. Ini semacam pembalikan posisi sosial. Di saat para pemimpin adat sibuk mengatur prosesi dan simbol, Jihan datang dan bertanya dengan sikap: “Apakah kalian masih tahu makna dari simbol-simbol itu?”

‎Bukankah ini sebuah ironi yang luar biasa, namun juga bentuk kepemimpinan yang menyejukkan?

‎Dalam seluruh rangkaian festival mulai dari Festival Kanik’an, Lomba Sambal Seruit, Lampung Mask Street Carnaval, hingga Malam Pesona K‑Fest yang dibangun adalah bukan sekadar atraksi budaya, melainkan skema pendidikan nilai yang hidup. Ratusan peserta berdandan adat, menari, menyajikan makanan khas, berkompetisi. Namun, di balik itu, seolah ada pesan yang dihamparkan di tengah panggung: “Kenalilah kembali siapa dirimu.”

‎Dan inilah letak keberanian Jihan. Ia tidak hanya melibatkan diri sebagai pejabat yang menyambut tamu, tapi menjadi sosok yang menyusupkan ajaran-ajaran moral budaya di tengah keramaian, tanpa terlihat sedang menggurui. Ia menggunakan festival, bukan untuk tampil, tapi untuk menanam nilai.
‎Yang membuatnya makin simbolis adalah: di hadapan para Tokoh Adat, pelajaran itu dilontarkan bukan lewat diskusi, bukan seminar budaya, tapi melalui tindakan, simbol, dan cara memaknai.

‎Jihan mengajarkan kepemimpinan di Lampung ke depan harus menyentuh akar, bukan sekadar menjaga batang.
‎Tidak berlebihan bila kita mengatakan bahwa Festival Krakatau tahun ini bukan saja sukses sebagai acara pariwisata, tapi telah menjadi panggung pendidikan budaya paling efektif.

‎Dengan satu tema “Nemui Nyimah”, Jihan menghidupkan ruang refleksi yang selama ini tidak disentuh. Di saat banyak pemimpin adat sibuk menjaga ritus, ia justru menjaga ruh. Ini tentu bukan bentuk pengabaian terhadap posisi pemimpin adat, tapi justru peringatan lembut: bahwa simbol tanpa pemahaman akan hampa, dan tradisi tanpa refleksi akan membatu.

‎Jika falsafah lokal hanya tinggal di pidato-pidato adat, dan tidak menjadi pedoman dalam cara kita menyambut, berinteraksi, atau memimpin, maka kita sedang menggerogoti budaya dari dalam.
‎Pelajaran ini datang dari seorang dokter muda yang telah memilih jalur pemerintahan. Dalam diamnya, ia menegur, dalam senyumnya, ia menggugah, dan dalam ketulusannya, ia mengajari kita semua bahkan mereka yang lebih tua untuk kembali menengok jati diri Lampung yang sesungguhnya.

‎Kita, masyarakat Lampung, berutang kepada beliau atas keberanian ini. Karena tidak semua pemimpin punya hasrat untuk merawat akar, apalagi saat banyak yang lebih tergoda meraih mahkota. Tapi Jihan memilih menanam; bukan menanamkan kekuasaan, melainkan nilai.

‎Festival bisa diadakan tiap tahun. Tapi momen seperti ini, ketika seorang pejabat muda mampu “mendidik kembali” para pemimpin adat melalui cara yang halus dan bermartabat, adalah peristiwa langka. Dan ketika sejarah Lampung kelak ditulis kembali, semoga momen ini dikenang sebagai awal mula kebangkitan kembali nilai-nilai yang nyaris punah. ***

Penulis merupakan dosen dan pemerhati budaya lokal Lampung

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Juli 2025
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
LAINNYA