x

‎Tapal Batas: Kisah Wahidin, Monolog Sunyi Kaum Miskin

waktu baca 4 minutes
Kamis, 26 Jun 2025 01:17 0 674 admin

Penulis: Anton Kurniawan (sebuah catatan dari Munas II JMSI di Jakarta)

LANGIT Jakarta pada Minggu, 20 Juni 2025 malam itu dibaluri mendung. Di salah satu hotel di Jalan Salemba Raya, Munas II Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) berlangsung lancar dan sukses, dan menetapkan Teguh Santosa kembali memimpin organisasi para pemilik media siber ini untuk periode 2025-2030.

‎Acara Munas yang diikuti 29 Pengurus Daerah dari seantero Nusantara ini juga dihadiri para tokoh penting; mulai dari menteri, tokoh pers dan sejumlah pejabat penting lainnya. Sorot kamera wartawan tak henti membidik para tokoh tersebut untuk mendapatkan gambar dan video terbaik, lalu kemudian tayang di berbagai media cetak, online maupun elektronik.

‎Berselang beberapa jam kemudian, usai makan malam, saya dan beberapa kawan menyusuri trotoar Jalan MH Thamrin untuk mencari segelas kopi hangat. Tepat saat kami memesan kopi pada penjual kopi keliling yang lewat, di bawah benderang lampu di tepi Jalan MH Thamrin yang padat, tampak lelaki tua duduk dengan lutut setengah menekuk, bersandar pada sebatang tiang lampu jalan. Mata tuanya yang sayu tak sanggup melawan kepungan cahaya lampu yang melesat menawarkan harapan dan ilusi kepada para perantau. Tangannya yang ringkih menggengam karung plastik besar berisi barang rongsok hasil memulung.

‎Wahidin nama lelaki itu, mengaku berasal dari Pemalang, Jawa Tengah dan merantau ke Jakarta di kisaran tahun 1980 saat usianya baru 23 tahun. Dia mengaku datang ke Jakarta dengan membawa semangat untuk mengubah nasib dan berharap bisa sukses. Namun hingga kini di usianya yang sudah 68 tahun, kesuksesan tak kunjung didapat. Alih-alih, sekadar bertahan hidup pun dia harus bertarung sengit menahan ribuan luka dan lapar.

‎Kini kakek empat cucu yang sempat menjadi penarik becak ini, harus berjuang menghidupi keluarga dengan memulung barang-barang plastik; botol bekas minuman atau apa saja yang laku dijual agar tetap bertahan di tengah angkuhnya Ibu Kota Jakarta.

‎”Saya sempat lama narik becak, tapi sekarang sudah nggak lagi karena sudah nggak kuat. Sekarang saya mulung untuk menyambung hidup dan bayar kontrakan,” ucap ayah dua anak ini lirih.

‎Langit kian mendung, dan malam mulai menuju larut, tapi Wahidin tua seperti tak terlalu peduli. Tak terlihat gelisah di wajahnya yang mulai keriput. Baginya siang dan malam nyaris tidak berbeda, karena dia harus terus berjibaku agar tidak kelaparan dan bisa tetap bertahan hidup di sisa usia hingga kelak ajal menjemput.

‎”Sekarang saya di rumah hanya bersama istri, karena dua anak saya sudah menikah dan ikut suaminya masing-masing. Kami ngontrak di Cakung Rp 500 ribu per bulan,” ungkapnya.

‎Lelaki tua itu, masih bersandar di tiang lampu jalan di ruas MH Thamrin yang padat, di bawah langit Jakarta yang kelam. Tepat di seberangnya, gedung-gedung megah rimbun berdiri dengan angkuh; mall, hotel, juga gedung pemerintah. Sebuah papan reklame bertuliskan merk minuman luar negeri terpampang jelas di bawah cahaya lampu, kian menegaskan betapa jelas tapal batas kesenjangan menganga terlampau lebar.

‎Wahidin tidak sendiri. Jutaan lainnya juga bernasib serupa; menanggung beban berat hanya untuk bertahan hidup di sebuah negeri yang kaya dan makmur tapi salah urus. Sebuah negeri yang pejabatnya kerap pamer kekayaan hasil korupsi, negeri yang para pejabatnya sering tiba-tiba berubah autis dan lupa ingatan sehingga hanya sibuk mengurus diri sendiri dan melupakan rakyat yang seharusnya dia layani.

‎Kisah Wahidin adalah sebuah fakta yang sering terpinggirkan oleh pemberitaan media dan sorot kamera. Sebab, Wahidin bukan pejabat, bukan tokoh atau sosok penting sehingga dianggap layak untuk diabaikan.

‎Anggapan seperti ini tidak boleh dibiarkan tumbuh semakin subur. Media sebagai kontrol harus peka dan menjadi katalisator perubahan penyambung lidah rakyat sekaligus kontrol pemerintah sehingga mendapat kepercayaan publik, bukan sebaliknya sekadar menjadi “humas” yang bertugas menyampaikan rilis berbagai program kerja dan kegiatan para pejabat negara maupun pejabat daerah.

‎Seperti yang diingatkan Ketua JMSI Teguh Santosa, “JMSI harus menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah pers nasional. Profesionalisme menjadi fondasi utama agar media siber tetap dipercaya publik.”

‎Selamat atas terselenggaranya Munas II JMSI, semoga JMSI tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah media siber. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Juni 2025
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
LAINNYA