x

Coretan Dinding// Tentang Gilang, Tawuran dan Potret Gagalnya Pengelolaan Pendidikan Kita

waktu baca 4 minutes
Rabu, 1 Nov 2023 00:33 0 196 Admin

SEDIH dan memilukan! Itulah frase yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi pendidikan kita saat ini. Hari-hari belakangan, sejak beberapa tahun terakhir, beragam peristiwa kelam dunia pendidikan di Provinsi Lampung terus terjadi.

Laksana gelombang sinetron kejar tayang di laut pendidikan kita, episode demi episode muram menerjang tak terkendali dan menghancurkan tatanan nilai dan norma yang dipercaya Bangsa ini sejak ribuan tahun lalu, hingga membuat kita ternganga nyaris tak percaya.

Menyikapi situasi dan realita ini, mungkin banyak dari kita yang pesimis dan skeptis menghadapi masa depan sehingga pada akhirnya hanya bisa pasrah dan mengatakan, “Sekarang zamannya memang sudah beda, sekarang eranya teknologi, mau gimana lagi.” Sebuah ungkapan kepasrahan yang nirmotivasi.

Namun itulah yang terjadi hari ini, ungkapan-ungkapan seperti ini berseliweran menjadi tameng yang dianggap sebagai pembenaran untuk beragam peristiwa yang menunjukkan karut marut dan gagalnya kerja-kerja pengelolaan pendidikan kita saat ini.

Sekadar mengingat kembali beberapa potret muram pendidikan kita (Provinsi Lampung) dalam beberapa tahun terakhir. Sebut saja misalnya, tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) paling rendah di Sumatera (berdasar data BPS 2022), sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang kacau dan terus menjadi masalah, dosen cabul, kisah rektor perguruan tinggi negeri ditangkap KPK gegara korupsi, keluhan nasib guru honorer yang terlunta dan menyedihkan, attitude siswa yang mengalami kebangkrutan hingga mahasiswa yang tak lagi peka terhadap peristiwa yang merongrong sisi humanisme yang terjadi di sekitarnya.

Dan hebatnya, semua terus terjadi bahkan sebagian berulang di depan mata kita. Dan kita hanya diam, sementara pihak-pihak yang berwenang seakan bingung bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Lalu cuci tangan dengan melimpahkan semua kesalahan kepada sekolah. Kepada guru!

Dan hari ini kita (pendidikan di Lampung) dikejutkan “gempa bumi dan ledakan dahsyat” yang membuat gempar sekaligus pilu; seorang pelajar SMK BLK Bandar Lampung, Gilang Ihsan Zikri namanya, masih berusia 17 tahun, meninggal dunia akibat sabetan senjata tajam yang dialaminya saat tawuran dengan sesama pelajar di Jalan Soekarno-Hatta Bandar Lampung pada Senin, 30 Oktober 2023, sekitar Pukul 18.00 WIB.

Peristiwa ini begitu memilukan, kita semua sedih dan kaget. Ini menjadi bukti sahih pengelolaan pendidikan kita telah gagal. Peristiwa ini menjadi antitesis dan mematahkan semua hipotesis terkait catatan keberhasilan yang kerap didengungkan jajaran Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten dalam mengelola serta meningkatkan kualitas pendidikan di Lampung.

Ditinjau dari sudut manapun, peristiwa ini telah menafikan segala retorika, wacana terkait keberhasilan berbagai program pendidikan yang konon disebut demi pendidikan karakter (character building).

Peristiwa kepulangan Gilang Ihsan Zikri menghadap Sang Khalik, ini bukan peristiwa biasa. Peristiwa ini tidak bisa hanya dianggap sebagai sebuah takdir (given) dari Allah SWT, Tuhan Pencipta Semesta Alam. Peristiwa ini tidak terjadi tiba-tiba. Peristiwa ini adalah sebuah titik kulminasi, letupan dari rangkaian panjang gerbong kegagalan pengelolaan pendidikan kita yang bertahun-tahun mengendap.

Karena itu, untuk menyelesaikan sengkarut pendidikan ini tidak bisa hanya dengan cara-cara biasa yang bersifat seremonial “asal bapak senang”. Harus ada pola dan metode baru sebagai solusi. Tentu saja kerja ini tidak bisa sendiri, harus melibatkan banyak pihak. Dinas tidak bisa hanya membebankan hal ini kepada pihak sekolah. Mesti ada kolaborasi, kerja gotong royong dari semua pihak; Dinas Pendidikan, DPRD, masyarakat pemerhati pendidikan, aparatur penegak hukum, orang tua, termasuk pers dan pihak-pihak lain.

Tentu saja kerja gotong royong yang didasari kejujuran dan keinginan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Ya, perlu komitmen yang kuat untuk membangun pendidikan di Provinsi Lampung supaya maju. Bahkan jika dianggap perlu,  revitalisasi dan revolusi tatanan sistem pengelolaan pendidikan kita.

Ini penting. Jika kita memang betul-betul berkomitmen untuk membangun pendidikan, maka dibutuhkan orang-orang yang berintegritas dan memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Bukan ‘pemain sinetron’ yang sekadar mengumpulkan pundi-pundi dengan memerankan lakon seakan peduli pendidikan lalu memanfaatkan jabatan sebagai cara supaya cepat kaya. Jika tidurmu terganggu karena kutu busuk maka “Bunuh kutu busuknya maka tidurmu akan lelap!” Tabiik.

*****
Selamat jalan Gilang Ihsan Zikri, semoga Tuhan Yang Maha Esa menerima semua amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Maafkan kami gagal membuatmu menjadi generasi yang hebat dan berkarakter demi masa depan bangsa ini.

Anton Kurniawan, Ketua DPD FGII Provinsi Lampung.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

November 2023
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
LAINNYA