x

Ekonomi Lampung Tumbuh 5,29 Persen, Tertinggi Kedua di Sumatera

waktu baca 4 minutes
Jumat, 6 Nov 2026 12:46 0 229 admin

Bandar Lampung (LB): Perekonomian Provinsi Lampung mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,29 persen secara kumulatif hingga triwulan III 2026. Capaian tersebut menempatkan Lampung di posisi kedua sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera, hanya berada di bawah Kepulauan Riau yang tumbuh 7,19 persen.

Lampung juga menyumbang 10,05 persen terhadap perekonomian Sumatera. Kontribusi tersebut menjadi yang terbesar keempat setelah Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan.

Capaian itu disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik (BRS) di Aula Radin Imba Kusuma, Kantor BPS Provinsi Lampung, Kamis (5/11/2026).

Dalam pemaparan tersebut, BPS mengungkap lima indikator strategis, yakni pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026, kondisi ketenagakerjaan Agustus 2026, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2026, serta luas panen dan produksi padi dan jagung berdasarkan angka sementara hasil Kerangka Sampel Area (KSA) September 2026.

“Berdasarkan BRS Nomor 75, ekonomi Lampung pada triwulan III 2026 tumbuh 5,02 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) dan 0,43 persen secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q). Sementara secara kumulatif (cumulative-to-cumulative/c-to-c), pertumbuhannya mencapai 5,29 persen,” ucap Ahmadriswan.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung atas dasar harga berlaku pada triwulan III 2026 tercatat sebesar Rp150,55 triliun. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp80,42 triliun.

“Pertumbuhan ekonomi Lampung masih ditopang sejumlah lapangan usaha utama. Namun, dinamika pada sektor pertanian, terutama akibat kondisi cuaca, tetap menjadi tantangan yang perlu diantisipasi,” ujarnya.

Dari sisi produksi, penjualan listrik meningkat 10,40 persen. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi dan kebutuhan energi. Pengadaan semen juga tumbuh 6,63 persen, mengindikasikan penguatan aktivitas pembangunan dan konstruksi. Sementara itu, industri pengolahan menunjukkan kinerja positif seiring peningkatan ekspor produk industri.

Di sisi lain, fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat berpotensi mengganggu pola tanam dan produktivitas pertanian. Dari sisi konsumsi, inflasi Lampung tercatat 3,51 persen, sedikit melampaui sasaran inflasi nasional sebesar 3,50 persen. Aktivitas perdagangan digital melalui e-retail dan marketplace juga terus berkembang.

Berdasarkan lapangan usaha, tiga sektor dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Lampung pada triwulan III 2026 adalah pertanian sebesar 21,17 persen, industri pengolahan 19,38 persen, dan perdagangan 13,68 persen.

Dari sisi pertumbuhan, industri pengolahan meningkat 5,63 persen dengan kontribusi 20,73 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Sektor perdagangan tumbuh 5,78 persen dengan kontribusi 16,50 persen. Adapun pertanian tumbuh 2,05 persen dengan kontribusi 10,73 persen.

Sementara itu, pertumbuhan tertinggi dicatat sektor pengadaan listrik dan gas sebesar 9,74 persen, disusul penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 9,46 persen.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama perekonomian dengan kontribusi 59,23 persen dan pertumbuhan 4,87 persen. Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,08 persen, sedangkan ekspor meningkat 2,63 persen. Konsumsi pemerintah juga tumbuh 5,77 persen.

Secara kumulatif hingga triwulan III 2026, sektor pertanian dengan distribusi 27,42 persen tumbuh 4,50 persen dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 21,36 persen. Industri pengolahan tumbuh 5,30 persen dengan kontribusi 18,33 persen, sedangkan perdagangan meningkat 6,89 persen dengan kontribusi 19,18 persen.

Pertumbuhan kumulatif tertinggi dicapai sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,22 persen. Berikutnya, jasa keuangan tumbuh 7,81 persen serta pengadaan listrik dan gas sebesar 7,32 persen.

Pada komponen pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,08 persen dengan kontribusi 57,86 persen terhadap pertumbuhan ekonomi kumulatif. Investasi atau PMTB meningkat 4,53 persen dan ekspor tumbuh 2,55 persen. Adapun konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,63 persen.

Selain pertumbuhan ekonomi, BPS juga mencatat peningkatan kualitas pembangunan manusia di Lampung. IPM 2026 mencapai 74,74 atau naik 0,76 poin dibandingkan 2025. Capaian tersebut menempatkan Lampung dalam kategori pembangunan manusia tinggi.

Peningkatan IPM ditopang sejumlah indikator. Umur harapan hidup saat lahir mencapai 74,93 tahun, harapan lama sekolah 12,80 tahun, dan rata-rata lama sekolah 8,70 tahun. Sementara itu, pengeluaran riil per kapita mencapai Rp12,327 juta atau meningkat Rp644 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sektor ketenagakerjaan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Agustus 2026 mencapai 70,76 persen, naik 0,32 poin persentase dibandingkan Agustus 2025.

Sebaliknya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,01 persen atau berkurang 0,20 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Namun, sektor pertanian masih menghadapi tekanan. Berdasarkan angka sementara, produksi padi Lampung sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 3.093,57 ribu ton gabah kering giling (GKG), turun 4,89 persen dibandingkan 2025,” ungkap Ahmadriswan.

“Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras Lampung diperkirakan mencapai 1,78 juta ton. Sementara itu, produksi jagung pipilan kering diproyeksikan sebesar 1.254,58 ribu ton atau turun 0,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) Provinsi Lampung, Ganjar Jationo, mengapresiasi BPS beserta seluruh pihak yang berkontribusi dalam penyediaan dan pengolahan data statistik.

Menurutnya, data statistik memiliki peran penting sebagai landasan penyusunan informasi dan kebijakan pembangunan daerah. Karena itu, hasil pemaparan BPS diharapkan menjadi rujukan bersama bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam membaca perkembangan ekonomi serta potensi pembangunan Lampung.

Ganjar juga mengajak seluruh pihak tetap optimistis terhadap berbagai capaian pembangunan, sekaligus menjadikan data statistik sebagai pijakan untuk mengidentifikasi persoalan dan merumuskan langkah penanganan yang tepat.

Dengan pertumbuhan ekonomi 5,29 persen, peningkatan IPM, serta perbaikan indikator ketenagakerjaan, Lampung menunjukkan tren pembangunan yang positif.

“Meskipun demikian, penurunan produksi padi dan jagung menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan,” ujar Ganjar. (lpg)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

November 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
LAINNYA