Pesawaran (LB): Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 329-330 Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) membuka open donasi untuk pembangunan SDN 18 Way Ratai Pesawaran, Provinsi Lampung.
Open donasi dilakukan karena mereka merasa prihatin terhadap kondisi SDN 18 Pesawaran, menurut mereka sangat menyedihkan karena kurangnya perhatian dari pemerintah.
Koordinator mahasiswa KKN Kelompok 229-230 UIN RIL, Diah Patricia, mengatakan sangat prihatinan terhadap kondisi SDN 18 Way Ratai yang telah berdiri selama 40 tahun dan telah melahirkan generasi penerus bangsa.
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Gedung sekolah yang terbuat dari papan, kondisinya sudah rusak parah; dindingnya sudah rapuh, bangku dan meja yang seadanya, lantainya masih tanah, atap yang beresiko ambruk, serta plafon yang banyak yang runtuh,” ungkap Diah, Sabtu (10/8/2024).

MEMPRIHATINKAN. Beginilah kondisi gedung SDN 18 Pesawaran yang sangat memprihatinkan. (Foto: lampungbarometer.id)
Diah juga mengungkapkan saat ini guru dan murid menggunakan potongan triplek sebagai papan tulis, di dalam kelas juga tidak ada jam terpasang, dan tidak ada tempat sampah. Selain itu, kondisi ruangan yang tidak kondusif membuat 1 ruangan diskat menjadi 2 kelas.
Dia juga mengaku telah membagikan kondisi sekolah tersebut di instastory dan mengajak siapa pun yang peduli terhadap pendidikan untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
“Meskipun dengan keterbatasan, sekolah ini tetap memberikan harapan bagi adik-adik untuk mengejar cita-cita mereka. Walaupun bersekolah di gubuk tua dengan segala keterbatasannya, semangat mereka untuk meraih mimpi tetap menyala,” ucapnya.
Mahasiswa KKN UIN RIL mengadakan kegiatan Ecoprint pada totebag untuk mengekspresikan kreativitas murid dan memberikan dampak positif pada lingkungan sekitar.
Sementara itu, Kepala Desa Hardidi mengatakan SDN 18 Way Ratai tidak dapat dibangun menggunakan Dana APBD karena berdiri di wilayah kawasan hutan lindung.
“Pembangunan SDN 18 Pesawaran ini tidak bisa dianggarkan melalui APBD karena gedung sekolahnya berdiri di wilayah kawasan hutan lindung,” ungkap Hardidi. (*/Andi)
Tidak ada komentar