Lampung Selatan (LB): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat sebagai instrumen strategis memperluas akses pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur dalam acara Open House Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Provinsi Lampung di kawasan Kota Baru, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (31/7/2026).
Di hadapan ratusan orang tua dan calon siswa, Gubernur Mirza mengingatkan pendidikan adalah jalan paling nyata untuk memutus rantai kemiskinan.
“Kalau derajat keluarga mau naik, kuncinya satu, anak harus lebih pintar daripada orang tuanya,” ujarnya.
Mirza menilai Sekolah Rakyat bukan sekadar menghadirkan layanan pendidikan gratis, tetapi menjadi ruang yang membuka kesempatan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mengubah masa depan mereka.
“Tahun lalu Sekolah Rakyat dimulai dengan menerima 71 siswa SMA dari berbagai daerah di Provinsi Lampung. Mereka dipilih melalui proses pendampingan Program Keluarga Harapan (PKH), benar-benar anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan,” ungkapnya.

SAPA SISWA. Tampak Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyapa dan berbincang dengan siswa dalam kunjungannya ke Sekolah Rakyat di Kota Baru Lampung Selatan, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan sebagian besar siswa angkatan pertama berasal dari keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi sehingga terancam putus sekolah. Sebagian bahkan telah bekerja membantu orang tua sebagai buruh, pekerja kebun, maupun pekerjaan non formal lainnya.
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap kelompok anak tersebut karena pendidikan merupakan jalan paling efektif untuk mengangkat derajat keluarga.
“Kalau ingin menaikkan martabat sebuah keluarga, anak-anaknya harus memperoleh pendidikan yang lebih baik daripada orang tuanya. Oleh karena itu, negara hadir melalui Sekolah Rakyat untuk memberikan kesempatan yang sebelumnya tidak mereka miliki,” katanya.
Menurut Gubernur, setelah satu tahun berjalan, hasil pembinaan mulai terlihat. Dia menyebut sejumlah siswa telah menunjukkan perkembangan signifikan, mulai dari kemampuan berbahasa Inggris, bahasa Jepang, hingga bahasa Arab, yang sebelumnya sulit dijangkau anak-anak dari latar belakang serupa.
Gubernur mengatakan perkembangan tersebut menjadi bukti kesempatan yang sama disertai pendidikan berkualitas mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul.
“Program yang baik akan mengangkat derajat anak-anak ini. Mereka bukan hanya mengangkat derajat keluarganya, tetapi juga akan mengangkat derajat Provinsi Lampung dan Indonesia,” ujarnya.
Oleh sebab itu, dia mengajak para orang tua untuk terus memberikan dukungan dan doa kepada anak-anak selama menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat. Ia juga berpesan kepada seluruh siswa agar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan belajar sungguh-sungguh.
Gubernur Mirza menitipkan pesan kepada 401 siswa yang kini menjadi bagian dari Sekolah Rakyat agar belajar dengan sungguh-sungguh karena mereka memikul harapan keluarga sekaligus masyarakat Lampung.
“Kalian bukan hanya membawa harapan orang tua, tetapi juga harapan masyarakat Lampung. Masa depan daerah ini ada di pundak generasi muda yang sedang dipersiapkan hari ini,” katanya.
Ia berharap nilai-nilai falsafah hidup masyarakat Lampung, seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, dan Nengah Nyappur, turut menjadi bagian dari kehidupan di lingkungan sekolah.
“Anak-anak ini harus tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, memiliki kepedulian sosial, dan kelak kembali membangun daerahnya,” tegasnya.
Suasana Open House semakin hangat ketika Gubernur Mirza berbincang dengan salah seorang siswa angkatan pertama, Muhammad Ridwan Pratama.
Ridwan yang merupakan putra seorang buruh bengkel asal Sukaraja, Bandar Lampung tersebut, menceritakan bagaimana kehidupannya berubah setelah bersekolah di Sekolah Rakyat.
Ia mengaku kini memiliki banyak teman, mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari karate hingga renang, serta mulai mengembangkan cita-citanya menjadi seorang chef.
“Senang banget, bahagia,” ujar Ridwan ketika ditanya mengenai pengalamannya selama belajar di Sekolah Rakyat.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung Asis Prasetyo menjelaskan sekolah yang semula hanya menyelenggarakan jenjang SMA kini berkembang menjadi Sekolah Rakyat Terintegrasi dengan tiga jenjang pendidikan, yakni Sekolah Rakyat Dasar (SRD), Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP), dan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA).
Saat ini, jumlah peserta didik telah mencapai 401 siswa, terdiri atas 60 siswa jenjang SD, 150 siswa SMP, serta 191 siswa SMA.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya jangkauan program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan.
Asis mengatakan selain menggunakan Kurikulum Nasional, Sekolah Rakyat memberikan penguatan melalui sistem pendidikan berasrama yang berfokus pada pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian, serta pengembangan potensi peserta didik.
Seluruh kebutuhan pendidikan siswa dipenuhi, mulai dari tempat tinggal, seragam, perlengkapan sekolah, konsumsi, hingga dukungan pembelajaran digital. Sekolah Rakyat juga menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dan radikalisme.
“Lingkungan yang aman menjadi syarat utama agar siswa dapat tumbuh secara optimal,” ucap Asia.
Berbagai kegiatan pengembangan diri juga menjadi bagian dari kehidupan siswa, mulai dari matrikulasi, literasi, penguatan karakter, kepemimpinan, pembelajaran berbasis proyek, hingga beragam ekstrakurikuler seperti pencak silat, futsal, pramuka, paskibra, PMR, English Club, tari, hadrah, paduan suara, dan handball.
Para guru juga rutin melakukan home visit ketika masa libur untuk memastikan perkembangan siswa tetap terjaga.
Dengan mengusung semangat “Cerdas Bersama, Tumbuh Setara”, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi ruang bagi lahirnya generasi unggul yang tidak hanya mampu mengubah masa depan keluarga, tapi juga berkontribusi bagi kemajuan Provinsi Lampung dan Indonesia. (lpg)
Tidak ada komentar