x

Musyawarah Burung: Ketika Manusia Mencari Jalan Pulang Pada Diri Sendiri

waktu baca 3 minutes
Senin, 14 Sep 2026 09:14 0 51 admin

Bandar Lampung (LB): Seekor burung mungkin dapat terbang melintasi gunung, lembah, gurun, dan badai. Namun, perjalanan terjauh ternyata bukanlah menuju tempat yang jauh, melainkan ke dalam diri sendiri.

Gagasan inilah yang menjadi napas “Musyawarah Burung”, pertunjukan Teater Satu Lampung yang menafsir ulang karya klasik sufi Persia Mantiq al-Tayr karya Fariduddin Attar secara kontekstual.

Disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Iswadi Pratama, pertunjukan ini akan dipentaskan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung pada 14–15 September 2026 pukul 15.00 WIB. Didukung Bakti Budaya Djarum Foundation, pementasan ini menghadirkan karya seni yang berakar pada khazanah sastra klasik Islam sekaligus berdialog dengan persoalan kemanusiaan kontemporer.

Dalam Mantiq al-Tayr, sekumpulan burung menempuh perjalanan panjang mencari Simurgh, Raja Burung yang diyakini membawa mereka menuju kebenaran, melewati tujuh lembah dan menghadapi rintangan serta kelemahan diri masing-masing. Iswadi Pratama tidak sekadar memindahkan kisah itu ke panggung, tetapi membongkar maknanya untuk kehidupan manusia hari ini.

Burung-burung dalam “Musyawarah Burung” menjadi cermin kondisi batin manusia modern yang bergulat dengan kekuasaan, pencitraan, cinta, pengetahuan, trauma, skeptisisme, aktivisme, hingga perasaan tidak berharga. Perjalanan menuju Simurgh pun bertransformasi dari pencarian sosok mitologis menjadi perjalanan batin menemukan kesadaran.

PENTAS Naskah “Musyawarah Burung” garapan Sutradara Iswadi Pratama bakal digelar di Gedung Teater Tertutup,Taman Budaya,14 – 15 September 2026 (Dok. Teater Satu Lampung)

Pertanyaan yang muncul sederhana namun sulit dijawab: apa sesungguhnya yang paling menghalangi manusia menemukan dirinya sendiri? Di situlah transformasi para burung menjadi Penempuh memperoleh makna dramatik—mereka harus melepaskan identitas semu seperti jabatan, status sosial, citra diri, bahkan luka masa lalu. Semakin banyak identitas palsu yang dilepaskan, semakin dekat manusia kepada hakikat dirinya. Perjalanan spiritual dalam pertunjukan ini bukan perjalanan geografis, melainkan perjalanan pulang.

Melalui bahasa tubuh, dialog, musik, cahaya, dan pengolahan ruang, “Musyawarah Burung” membangun pengalaman teater yang kontemplatif. Gurun, gunung, lembah, dan badai hadir sebagai metafora perjalanan batin. Salah satu titik penting adalah adegan “Pengadilan Batin”, ketika para tokoh dipaksa berhadapan dengan ego, motif, ketakutan, dan kebenaran yang selama ini disembunyikan.

Pertunjukan tidak menawarkan jawaban tuntas, melainkan membuka ruang muhasabah—mengajak manusia bermusyawarah dengan dirinya sendiri sebelum sibuk mencari jawaban di luar. Bagi Iswadi Pratama, karya Attar yang lahir berabad-abad silam tetap relevan karena krisis identitas, hasrat pengakuan, perebutan kuasa, trauma, dan kegelisahan mencari makna hidup masih menjadi persoalan manusia hari ini. Khazanah tasawuf tidak ditempatkan sebagai artefak masa lalu, tetapi sumber refleksi untuk memahami manusia masa kini.

“Musyawarah Burung” pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang burung yang mencari Simurgh, melainkan kisah tentang manusia yang terus bergerak mencari jalan pulang—kepada dirinya, kesadarannya, dan Tuhan. Dan mungkin, perjalanan yang kita kira sedang ditempuh oleh para pemain di atas panggung, sesungguhnya adalah perjalanan yang sedang kita jalani sendiri.

Pementasan ini menegaskan bahwa teater bukan hanya tontonan, tetapi cermin yang memaksa penonton bertanya: sudah sejauh mana kita berjalan, dan apakah kita benar-benar sedang menuju pulang, atau hanya tersesat dalam identitas yang kita ciptakan sendiri? Dalam keheningan usai pertunjukan, pertanyaan itulah yang tinggal—bukan sebagai beban, tetapi sebagai undangan untuk memulai musyawarah yang paling jujur dengan diri sendiri. (Ch Saputro)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
LAINNYA