x

Ketua JMSI Lampung Ingatkan Ide Orisinal Lebih Bernilai Daripada AI

waktu baca 2 minutes
Rabu, 29 Jul 2026 15:11 0 61 admin

Bandar Lampung (LB): Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini semakin mudah diakses berbagai kalangan, ide asli yang lahir dari pemikiran, pengalaman, dan hati manusia tetap memiliki nilai yang tak tergantikan.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Lampung, Ahmad Novriwan, saat memaparkan pengalaman kunjungannya ke Republik Rakyat Tiongkok, tepatnya di wilayah Kunming, Pu’er, hingga Xishuangbanna, baru-baru ini.

Novriwan mengungkapkan keberhasilan daerah-daerah tersebut mengembangkan sektor pariwisata dengan pesat tidak lepas dari kemampuan masyarakat dan pemerintah setempat dalam menjaga, merawat, serta mengangkat nilai-nilai budaya lokal sebagai daya tarik utama yang khas.

“Seberapa canggih pun alat bantu teknologi, ide asli yang lahir dari pemikiran, pengalaman, dan hati manusia tetap memiliki nilai yang tak tergantikan. Jangan biarkan otak Anda beristirahat. Ide yang sederhana, tetapi lahir dari pemikiran sendiri, jauh lebih berharga daripada sesuatu yang dihasilkan AI,” ucap Anov, sapaan akrabnya, saat ditemui di kantor JMSI, Jl. Sultan Agung, Way Halim, Bandar Lampung, Rabu (29/7/2026).

Menurutnya, kemajuan pesat Tiongkok yang tetap menjaga budaya dan nilai-nilai warisan leluhur, menjadi bukti nyata bahwa gagasan yang tumbuh dari akar budaya dan pemikiran mandiri adalah kunci kemajuan yang tidak bisa digantikan atau disalin dari hasil kecerdasan buatan semata.

Novriwan menegaskan teknologi AI memang mampu menyajikan tulisan, gagasan, hingga karya dalam waktu yang sangat singkat. Namun, hasil yang dihasilkan pada dasarnya merupakan rangkuman atau gabungan dari data yang sudah ada sebelumnya.

Berbeda dengan ide asli manusia yang lahir dari pengamatan mendalam, perenungan, pengalaman pribadi, hingga nilai-nilai dan perasaan yang dimiliki. Ide semacam ini, menurutnya, membawa keunikan, jiwa, dan sudut pandang yang belum pernah ada sebelumnya.

“AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti daya cipta manusia. Ia bisa membantu merapikan kata, mencari data, atau memberikan gambaran awal, namun semangat dan orisinalitas hanya bisa tumbuh dari dalam diri manusia,” ungkapnya.

Dia menegaskan mengandalkan sepenuhnya pada hasil buatan AI justru dikhawatirkan akan menumpulkan kemampuan berpikir kritis, menurunkan daya imajinasi, serta memudarkan ciri khas diri masing-masing. Oleh karena itu, dia mengingatkan teknologi hendaknya dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung, bukan meniadakan proses penemuan gagasan asli.

“Saya mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya pelajar, penulis, dan pekerja kreatif untuk terus melatih kemampuan berpikir dan berkreasi. Jangan malas berpikir karena terbiasa meminta jawaban pada mesin. Karya yang lahir dari ide sendiri meskipun sederhana, jauh lebih berharga dan membanggakan dibanding karya yang sempurna namun tidak memiliki jiwa karena hanya disusun oleh kecerdasan buatan,” pungkasnya. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
LAINNYA