Oleh: Anton Kurniawan
ALLAHU Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu. Hari ini, 10 Zulhijah 1447 Hijriah, seluruh umat muslim di dunia merayakan Hari Raya Idul Adha yang juga disebut Hari Raya Haji. Pada hari ini umat Islam yang menunaikan ibadah haji sedang melaksanakan puncak ibadah haji, yakni Wukuf di Arafah. Para jamaah haji membaca kalimat talbiyah dengan mengenakan pakaian ihram, yaitu pakaian tanpa berjahit berwarna putih yang melambangkan bahwa di hadapan Allah Swt. derajat manusia sama dalam segala segi kehidupan, yang membedakan adalah ketakwaannya.
Selain itu, Hari Raya Idul Adha juga dinamakan Hari Raya Kurban. Karena pada hari ini Allah Swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan menyembelih hewan kurban sebagai simbol kecintaan dan ketakwaan. Kemudian, daging hewan kurban tersebut dibagikan kepada masyarakat, khususnya masyarakat kurang mampu.
Hari Raya Idul Adha merupakan sebuah momentum bagi seluruh umat manusia, khususnya umat muslim untuk merenung, introspeksi, mengkaji diri, belajar memahami tentang makna cinta sejati. Cinta yang membangun kesadaran tentang sabar, ikhlas dan keteguhan iman. Cinta kepada Allah Swt.
Secara historis, perayaan Idul Adha berkaitan erat dengan ketakwaan dan keteguhan iman Nabi Ibrahim alaihi salam kepada Allah Swt. dalam menjalani semua cobaan.
Imam Al Ghazali dalam kitab “Misykatul Anwar” menyebut, konon Nabi Ibrahim merupakan miliuner di zamannya dengan memiliki 12.000 ekor ternak. Ketika seseorang bertanya kepada Nabi Ibrahim, “Milik siapa ternak sebanyak ini?” Maka dijawab Nabi Ibrahim “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anakku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.”
Dalam tafsir “Al-Quran’ul Adzim” Ibnu Katsir mengemukakan bahwa pernyataan Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki Allah itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian. Allah menguji Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia menyembelih anaknya, Ismail.
Mendapat mimpi itu, Nabi Ibrahim menyampaikan pada anak semata wayangnya, Ismail. Dalam Al-Qur’an Allah mengisahkan cerita itu, yaitu:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى
Artinya, “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sungguh aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’” (Surat As-Saffat ayat 102).
Mendengar cerita ayahnya, dengan tegas dan tenang Nabi Ismail menjawab,
قَالَ ياأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَآءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya, “Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’” (Surat As-Saffat ayat 102).
Sebagai hamba Allah yang taat, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihi salam melakukan apa yang telah menjadi ketetapan bagi keduanya. Semua mereka lakukan sebagai manifestasi bahwa seorang hamba harus mengikuti semua perintah Tuhan-Nya. Setelah keduanya sepakat untuk melakukan penyembelihan itu, Nabi Ibrahim dengan hati yang teguh penuh keikhlasan membawa putranya, Ismail ke sebuah lembah yang berada di Mina, kemudian membaringkannya. Ismail yang telah siap untuk dikorbankan, dibaringkan di tanah dan pisau tajam telah dipegang oleh Nabi Ibrahim.
Tepat saat Nabi Ibrahim hendak menyembelih Ismail, Allah menurunkan wahyu untuk menghentikan tindakan tersebut dan sebagai gantinya, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih seekor domba jantan.
Peristiwa kurban ini mengajarkan kepada umat manusia setelahnya, betapa taat Nabi Ibrahim kepada Allah Swt. bahkan bersedia mengorbankan apapun demi menjalankan perintah-Nya, termasuk harus menyembelih anaknya yang sangat ia sayangi. Kisah ini juga menjadi simbol pengorbanan, keikhlasan dan keteguhan iman, dalam beribadah kepada Allah.
Semoga Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang bertepatan dengan 27 Mei 2026 ini menjadi momentum bagi seluruh rakyat Indonesia untuk belajar ikhlas dan sabar dalam menjalankan ketetapan Tuhannya di jalan kebenaran.
Dialog Nabi Ibrahim yang meminta persetujuan Nabi Ismail sebelum menjalankan perintah Tuhannya untuk menyembelih sang anak, seharusnya menjadi pembelajaran bagi para pemimpin, hendaknya mendengar keluhan dan aspirasi rakyat sebelum mengambil kebijakan agar cita-cita menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur benar-benar terwujud. Indonesia yang adil dan makmur
Dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kita belajar tentang keteguhan, keikhlasan, kesabaran, dan cinta. Semoga negeri kita tercinta, Indonesia, menjadi negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku rakyatnya. Wallahualam bishawab. [*]
Anton Kurniawan. Warga biasa, tinggal di Bandar Lampung.
Tidak ada komentar