Bandar Lampung (LB): Komunitas Berkat Yakin (Kober) sukses mementaskan pertunjukan bertajuk “Hilang Huma(n): Sebuah Esai Performatif” di panggung Gedung Teater Tertutup (GTT) Taman Budaya Provinsi Lampung pada 15-16 Februari 2026.
Pertunjukan yang disutradarai Ari Pahala Hutabarat ini bukan sekadar tontonan estetis. Ia adalah sebuah interogasi terhadap realitas pahit: alih fungsi lahan yang memicu bencana alam dan krisis pangan di Sumatera, bahkan Indonesia.
Ari Pahala Hutabarat menjelaskan pementasan ini memiliki watak yang unik, yakni argumentatif dan reflektif. Berbeda dengan teater konvensional, para aktor tidak sepenuhnya melebur menjadi karakter fiktif.
“Aktor menjadi dirinya sendiri sekaligus medium untuk menyampaikan opini. Ada tarik-ulur antara presentasi dan representasi. Yang paling penting adalah tersampaikannya opini secara maksimal melalui komposisi musik, koreografi, dan sedikit sentuhan drama,” ujar Ari.

KOMUNITAS Berkat Yakin Pentaskan “Hilang Huma(n) di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, 15-16 Februari 2026.
Senada, aktor senior Kober, Alexander GB, menegaskan “Hilang Huma(n)” adalah upaya menubuhkan sebuah esai. Proposisi utamanya jelas: bencana ekologis dan krisis pangan terjadi akibat alih fungsi lahan yang masif.
“Ekspansi industri dan perkebunan monokultur tidak hanya merusak fisik lingkungan, tapi juga menghapus ingatan ekologis dan teknologi lokal masyarakat kita,” tegas Alex.
Selama satu jam, penonton dibuat merinding karena disuguhi narasi yang membeberkan bagaimana hutan dan ladang dalam budaya agraris-tradisional berfungsi sebagai arsip hidup.
Yulizar Lubay, fiksionis yang juga aktor dalam pementasan ini, menyoroti rusaknya tatanan kebudayaan akibat industri ekstraktif dan food estate.
“Kami bertugas menyampaikan pikiran bahwa rusaknya hutan berarti rusaknya memori kolektif tentang musim dan etika hidup bersama alam,” kata Yulizar.
Kesuksesan pementasan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari UPTD Taman Budaya Lampung, UKMBS Unila, hingga UKMF KSS FKIP Unila. Sebelum di Lampung, karya ini sebelumnya telah sukses dipresentasikan dalam Festival Teater Sumatera III di Palembang, September 2025 lalu.
“Hilang Huma(n)” menjadi pengingat keras bahwa ketika manusia (human) kehilangan kedekatan dengan alamnya (huma), maka yang tersisa hanyalah keterasingan dan bencana. (Dimas)
Tidak ada komentar