x

‎Tangis Bahagia Warga Pekon Sukapura Sambut Pembebasan 22,51 Hektare Hutan oleh Bupati ‎

waktu baca 3 minutes
Selasa, 27 Jan 2026 11:59 0 378 admin

‎Lampung Barat (LB): Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus menyerahkan salinan keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia terkait pembebasan hutan kawasan seluas 22,51 hektare yang terletak di Pekon Sukapura, Kecamatan Sumber Jaya, Senin (26/1/2026).

‎Penyerahan berlangsung di GSG PLTA Way Besai, Kecamatan Sumber Jaya. Disaksikan Wakil Bupati Mad Hasnurin, ketua DPRD Edi Novial, asisten, kepala perangkat daerah, camat dan ratusan masyarakat Pekon Sukapura.

‎Prosesi penyerahan disambut isak tangis haru masyarakat yang menantikan kejelasan status lahan selama 74 tahun menemukan titik terang.

‎Kepastian legalitas hukum lahan Pekon Sukapura tertuang dalam Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia nomor 241 tahun 2025 tentang Penetapan Batas Areal Pelepasan Sebagian Kawasan Hutan Produksi Tetap Way Tenong Kenali Register 44B dan Sebagian Kawasan Hutan Produksi Tetap Bukit Rigis Register 45B.

‎Dalam rangka penyelesaian penguasaan tanah penataan kawasan hutan (PPTPKH) Provinsi Lampung Tahap I untuk sumber tanah obyek Reforma Agraria Itora di Pekon Sukapura, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung seluas 22,51 ha.

PENYERAHAN SALINAN PUTUSAN. Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus menyerahkan salinan keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia terkait pembebasan hutan kawasan seluas 22,51 hektare yang terletak di Pekon Sukapura, Senin (26/1/2026).

‎Usai menyerahkan salinan keputusan Menteri Kehutanan, Bupati Lampung Barat mengatakan Pekon Sukapura memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan penuh dinamika. Sebelum menjadi pekon, wilayah Sukapura telah dihuni sekitar 250 kepala keluarga atau kurang lebih 850 jiwa penduduk, yang merupakan mantan pejuang bersenjata.

‎Pada 1951 sampai 1952, masyarakat tersebut ditransmigrasikan dari wilayah Jawa Barat, khususnya Kabupaten Tasikmalaya, melalui Program Biro Rekonstruksi Nasional (BRN). Bahkan, peresmian penempatan transmigrasi ini dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno.

‎Pada masa itu, wilayah Sukapura bukan merupakan kawasan hutan, melainkan bagian dari wilayah marga Way Tenong dengan status sebagai tanah perladangan marga. Namun seiring perjalanan waktu, pada 1991 dilakukan Tata Guna Hutan Kesepakatan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan, yang menetapkan bahwa areal transmigrasi tersebut masuk ke dalam Kawasan Hutan Lindung Register 45B Bukit Rigis, yang mengacu pada penetapan pada masa kolonial Belanda.

‎Berdasarkan batas-batas tanah yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan pada tahun 1980, dinyatakan bahwa dari total luas wilayah pekon sekitar 1.350 hektare, tanah yang berada di luar kawasan hutan negara hanya sekitar 400 hektare. Kondisi ini kemudian diperkuat melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan perubahannya di tahun 2004, yang menetapkan sebagian besar wilayah Pekon Sukapura berada dalam Kawasan Hutan Lindung Register 45 Bukit Rigis.

‎Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat memahami persoalan status lahan di Pekon Sukapura ini telah berlangsung sangat lama dan menjadi beban sosial, ekonomi, serta psikologis bagi masyarakat.

‎”Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari surat-menyurat ke Kementerian Kehutanan, audiensi dengan DPR RI, hingga tahapan-tahapan administratif dan teknis lainnya. Pascaterbitnya SK tersebut, telah dilaksanakan tahapan pemeriksaan lapangan, pemasangan patok batas, hingga akhirnya Tim Tata Batas memberikan rekomendasi kepada Kementerian untuk menerbitkan Surat Keputusan Nomor 241 tentang Penetapan Batas Areal Pelepasan Kawasan Hutan,” ucapnya.

‎Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat Pekon Sukapura yang selama ini telah bersabar, tetap tenang, serta konsisten berjuang bersama pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan ini secara tertib dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

‎”Semoga apa yang telah kita capai bersama ini menjadi awal yang baik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkeadilan serta berkelanjutan,” ujarnya.

‎Sementara itu, tokoh masyarakat Pekon Sukapura Erica Dirgahayu, tak mampu membendung tangis haru sebagai wujud syukur atas capaian tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat atas perjuangan selama 74 tahun ini.

‎”Sudah 74 tahun lamanya masyarakat Pekon Sukapura menantikan kejelasan status lahan mereka huni,” ujar Erica. (*/sandori)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Januari 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
LAINNYA