x

‎Strategi Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Pi’il Pesenggikhi untuk Dunia Modern

waktu baca 3 minutes
Rabu, 2 Jul 2025 09:40 0 896 admin

Oleh: Feragi Azizun Putra, M.Pd.

SAAT ‎pendirian memudar, di mana pesenggikhi kita? Pilih nilai atau panggung?

Lampung sedang menghadapi ujian besar dalam menjaga karakter dan moral masyarakatnya. Ketika perbincangan tentang nilai-nilai luhur budaya lokal seperti Piil Pesenggikhi (Pendirian Kuat), Nemui Nyimah (Bertoleransi), Nengah Nyampukh (Bersosial), Bujuluk Buadok (Nama Baik), dan Sakai Sambayan (Gotong Royong) seharusnya menjadi fokus utama, kenyataannya perhatian terhadap pembentukan karakter ini sering tersisihkan.

‎Diskusi yang seharusnya memperkuat pendidikan berbasis budaya lokal justru tergantikan oleh isu-isu pinggiran, seperti perdebatan tentang tahun lahir kepala dinas atau pembentukan posko pelaporan yang terlihat lebih sebagai strategi politik dibandingkan langkah nyata untuk memperbaiki pendidikan.
‎Anggota dewan yang duduk di Komisi Pendidikan pun tampak lebih sibuk menciptakan berbagai program yang di permukaan tampak bermanfaat, tetapi di balik itu hanya menjadi alat untuk mendulang popularitas demi menjaga peluang mereka terpilih kembali.

‎Posko demi posko didirikan, tetapi hasilnya sering kali jauh dari harapan masyarakat. Padahal, jika energi dan perhatian ini diarahkan pada penyusunan kebijakan pendidikan yang berakar pada budaya lokal, dampaknya akan jauh lebih besar bagi generasi muda Lampung.

‎Pi’il Pesenggikhi sebagai falsafah hidup sejatinya menawarkan jawaban atas tantangan moral dan karakter yang dihadapi masyarakat Lampung saat ini. Nilai Pesenggikhi, misalnya, menanamkan pentingnya pendirian yang kuat, sebuah fondasi yang diperlukan oleh generasi muda untuk menghadapi dinamika zaman. Nilai Nemui Nyimah mengajarkan toleransi yang dalam, bukan hanya menerima perbedaan, tetapi juga melihatnya sebagai kekuatan. Sementara itu, Nengah Nyampukh menekankan pentingnya bersosialisasi dan berkontribusi aktif dalam komunitas, nilai yang sangat dibutuhkan di tengah masyarakat yang mulai kehilangan rasa kebersamaan.

‎Begitu juga nilai Bujuluk Buadok, menjaga nama baik, memiliki relevansi tinggi di era digital, di mana tindakan impulsif sering kali meninggalkan jejak permanen yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang. Akhirnya, Sakai Sambayan, atau gotong royong, mengingatkan kita bahwa keberhasilan sejati hanya dapat diraih melalui kerja sama yang tulus.

‎Namun, untuk mengintegrasikan nilai-nilai ini ke dalam sistem pendidikan diperlukan langkah konkret. Pertama, bahan ajar yang relevan harus dirancang agar mampu menghubungkan nilai-nilai Piil Pesenggikhi dengan kurikulum nasional. Peran guru juga sangat penting dan pelatihan khusus perlu diberikan agar mereka mampu menyampaikan nilai-nilai ini secara menarik dan relevan.

‎Dinas Pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk mendorong kebijakan yang mendukung penguatan pendidikan berbasis budaya lokal, tetapi tanggung jawab ini sering kali tersisihkan oleh fokus pada hal-hal yang remeh, seakan nilai moral masyarakat bukan prioritas. Selain itu, kolaborasi dengan komunitas adat dan tokoh masyarakat dapat memperkaya pembelajaran dan memberikan pengalaman autentik kepada siswa, tetapi langkah ini memerlukan komitmen yang lebih dari sekadar simbolik.

‎Pendidikan berbasis Piil Pesenggikhi adalah jalan menuju pembentukan generasi muda yang berkarakter, bermoral, dan berintegritas. Ketika kebijakan dan perhatian lebih diarahkan pada nilai-nilai ini, kita tidak hanya menjaga identitas budaya Lampung, tetapi juga menciptakan masyarakat yang siap menghadapi tantangan dunia modern dengan kokoh.

‎Semoga ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali pada esensi pendidikan: membangun karakter, bukan sekadar mencari pengakuan. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Juli 2025
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
LAINNYA