x

‎Teater Satu Lampung Gelar Program Residensi Perempuan Seniman ‎

waktu baca 3 minutes
Minggu, 4 Mei 2025 13:05 0 765 admin

‎Bandar Lampung (LB): Teater Satu Lampung menggelar Program Residensi untuk Perempuan Seniman dengan tema “Pemberdayaan Perempuan dalam Seni” di Villa Secret Hills Bandar Lampung, 21 April – 3 Mei 2025.

‎Kegiatan yang disokong Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini diikuti 12 peserta perempuan seniman dari berbagai kota di Indonesia yaitu: Medan, Padang, Jambi, Lampung, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, dan Kalimantan Barat.

‎Acara ini menghadirkan narasumber yang kompeten, seperti Gladys Elliona, pemikir Feminisme Global Selatan; Imas Sobariah, sutradara, penulis lakon, dan Sekretaris Koalisi Seni; Sely Fitriani, aktivis perempuan dari LambanPuAn; Iswadi Pratama, sutradara, penulis, praktisi teater dan sastra; Ari Pahala Hutabarat, sutradara dan penyair; dan Yulizar Lubay, penulis.

‎Dalam kegiatan ini, peserta diberi wawasan pengetahuan dalam membaca ulang karakter perempuan dan mengolah konsepnya menjadi sebuah karya seni dengan cara pandang yang baru.

‎Ketua Umum Teater Satu Lampung, Gandi Maulana, mengatakan peserta residensi ini mengikuti program pembacaan dan penciptaan karakter perempuan yang bersumber dari legenda, mitos, folklor maupun teks dramatik lainnya yang berasal dari Nusantara, dalam sudut pandang perempuan (female gaze).

FOTO BERSAMA. Pendiri Teater Satu Lampung Iswadi Pratama foto bersama penyelenggara dan peserta kegiatan Program Residensi untuk Perempuan Seniman.

‎“Program ini bertujuan mengubah “nasib” karakter perempuan yang pada teks asli tersubordinasi oleh budaya patriaki, dengan memberi premis baru yang bisa mengubah pandangan terhadap posisi dan world view perempuan di dalam teks asli sehingga menghasilkan teks baru yg lebih berpihak pada perempuan tanpa mengulang praktik budaya patriarkis dalam teks-nya yang baru,” ucap Gandi, Minggu (4/5/2025).

‎Pada program ini para peserta mendapatkan input berupa materi tentang female gaze, wacana feminisme global-selatan, advokasi perempuan korban kekerasan, aktivisme pemberdayaan perempuan, semiotika, dan metode dekonstruksi sebagai alat pembacaan dan penciptaan karya.

‎Menurut Gandi, pelaksanaan program ini diawali seleksi konsep tentang karakter perempuan yang akan dibaca ulang setiap peserta, portofolio dan presentasi

‎Tim seleksi, ujarnya, memilih seniman perempuan dari berbagai lintas wahana seperti teater, sastra, tari, rupa, dan seni musik.

‎Pemilihan seniman perempuan sebagai peserta, ucapnya, adalah pilihan yang tepat untuk memberi ruang bagi mereka menggali pengetahuan dan membuka wawasan lebih luas karena di Indonesia keterlibatan seniman perempuan dalam even-even seni yang intens relatif lebih kecil dari kaum laki-laki.

‎Selain itu, pemilihan peserta perempuan selaras dengan salah satu tema yang diusung Teater Satu yaitu Pemberdayaan Perempuan Dalam Seni. Gandi berharap ke depan semakin banyak perempuan pelaku seni yang memiliki independensi dan profesionalitas (otoritas) dalam profesi yang ditekuninya.

‎“Semoga program ini bisa berlanjut hingga pelaksanaan festival dan kolaborasi karya tahun berikutnya,” tandasnya. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA