MINGGU petang jelang akhir Oktober (24/10/2021) itu redup dipeluk gerimis. Di salah satu sudut Kampus Unila, puluhan mahasiswa dan mahasiswi dari beberapa fakultas tampak serius mengikuti kegiatan orientasi salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF), UKMF Kelompok Studi Seni (KSS) FKIP Unila namanya. Mereka terlihat antusias dan bersemangat.
Di antara puluhan mahasiswa itu, ada sekelompok masiswa lainnya (tampaknya lebih senior) tak kalah semangat memberi instruksi, joke, yel-yel. Mereka menyanyi, membaca puisi, bermain alat musik juga belajar beragam hal.
Mereka semua sangat keren. Anak-anak muda yang begitu potensial untuk membangun negeri ini (kalau terus menjaga semangat dan tidak salah memilih jalan).
Dari jarak beberapa meter, saya yang memang diundang hadir, ditemani beberapa sahabat (umumnya junior saya di organisasi tersebut) menyaksikan peristiwa itu. Tak lupa segelas kopi hitam ikut menemani di sela obrolan ringan yang encer dan luber.
Entah mengapa, sebagai salah satu yang pernah menjadi saksi dan ikut membidani kelahiran organisasi ini, jiwa saya merasa begitu sentimentil menyaksikan segala hal yang mereka lakukan.

Butir-butir air yang turun dari langit makin lekas, seperti beradu cepat berebut tempat menjatuhkan diri, lalu pecah lesap ke tanah. Sebagian berkerumun membentuk genangan, juga kenangan yang mengirim lamunan menuju masa lampau.
Tepat di pintu masuk lamunan menuju masa lalu, kelebat bayangan muncul dari sela gerimis. Pecah segala lamunan, tampak perempuan setengah baya berpayung menggendong bakul serta menjinjing jeriken berjalan menembus gerimis yang terus berjatuhan. Dia mendekat.
“Pempek Mas, seribuan,” katanya pelan.
Wajah perempuan itu mulai keriput. Di antara semangatnya yang masih tersisa, tergambar ragu begitu jelas di matanya yang mulai redup. Mak Munah nama perempuan setengah baya yang berasal dari Karang Pucung itu. Usianya 58 tahun dan mengaku tinggal di bilangan Way Halim Kota Bandar Lampung.
Mak Munah yang memiliki 5 orang anak dan suaminya tidak bekerja. Setiap hari dia harus berjalan kaki berkilo-kilo meter menjajakan dagangannya di sekitaran kampus Unila.
Tanpa diminta dia membuka bakul dan menyorongkan kepada kami. “Seribuan Mas,” katanya sekali lagi. Wajahnya tampak murung, mungkin karena gerimis tak juga berhenti
“Masih ada berapa Bu?” ucap seorang kawan
“Masih ada sekitar 30-an Mas,” timpal Mak Munah yang menceritakan jika pempek yang dijual adalah milik sang majikan dengan bagian Rp300 dari setiap butir yang laku terjual.
Perempuan berjilbab itu juga menceritakan setiap hari dia membawa 200 butir. Jika nasib beruntung dan dagangannya habis, dia bisa membawa pulang uang Rp60 ribu usai berjalan kaki berkilo-kilo meter berkeliling seharian.
“Biasanya habis Mas, tapi sejak Covid-19 dan kampus tutup, sekarang agak sulit,” ucapnya.
“Mak yang masih ada kami beli semua,” ujar kawan yang lain, sambil menyodorkan selembar Rp50 ribu.
Tampak senyum Mak Munah merekah, dan dengan sigap dan hati-hati mengeluarkan pempek dagangannya. Usai menerima uang pembelian, beberapa detik kemudian dia melangkah cepat menembus hutan gerimis, meninggalkan kami yang masih setia menunggu gerimis reda.
Ada rasa malu terselip di jiwa, mendapati seorang perempuan paro baya yang tetap semangat berjuang meskipun dengan penghasilan seadanya.
Saya kembali menyeruput kopi yang masih setengah tersisa. Di sudut gedung, para mahasiswa masih meneriakkan yel-yel dan menyanyikan lagu kebangsaan saat Mak Munah bersama payungnya semakin menjauh dan hilang di ujung tikungan. (*)
Tidak ada komentar