MUNGKIN tak banyak dari kita yang bertanya mengapa seratus tahun kemerdekaan Indonesia di tahun 2045 nanti harus dibubuhi kata emas. Ya, kita menerima frasa “Indonesia Emas 2045” seolah-olah hubungan antara usia satu abad dengan logam mulia itu memang sudah ada sejak Aristoteles masih bujang. Padahal, belum ada narasi yang menghubungkan angka seratus tahun dengan emas.
Bahkan dalam tradisi Barat yang melahirkan istilah golden anniversary, emas merujuk pada usia lima puluh tahun, bukan usia seratus tahun (usia seratus tahun justru dihubungkan dengan benda bernama obsidian). Artinya, hubungan antara Indonesia 2045 dan emas bukanlah keniscayaan budaya. Ia adalah pilihan simbolik yang pada satu titik berhenti ditelisik dan dipersoalkan.
Barangkali karena itulah diksi “emas” terasa begitu kuat dan mudah ingat. Ia tak pernah diimajikan sebagai argumen yang bisa diperdebatkan, melainkan sebagai keyakinan yang diterima begitu saja. Saat mendengar istilah Indonesia Emas, kita segera membayangkan kemajuan, kemakmuran, dan kejayaan material. Kita jarang berhenti untuk bertanya mengapa masa depan bangsa harus dibayangkan melalui simbol logam mulia. Kita lebih sibuk membicarakan target-target ekonomi yang melekat padanya. Dan, sayangnya, simbol itu bekerja efektif di kepala dan bawah sadar kita.
Dalam lanskap semiotika, Roland Barthes menyebutnya sebagai mitos. Mitos bukan cerita bohong, melainkan keberhasilan sebuah simbol tampil sebagai sesuatu yang wajar. Kita tidak lagi melihatnya sebagai hasil pilihan sejarah dan kebudayaan. Kita menerimanya sebagai akal sehat. Emas menjadi contoh yang menarik. Ia berhasil memperoleh kedudukan istimewa dalam imajinasi modern sehingga hampir tidak ada yang mempertanyakan mengapa logam mulia itu dianggap representatif mewakili masa depan.
Di banyak wilayah Nusantara, kehidupan tidak pernah bertumpu pada emas. Orang hidup dari sawah, ladang, laut, sungai, dan hutan. Di desa-desa agraris, kemakmuran diukur dari panen yang baik. Di masyarakat pesisir, kemakmuran diukur dari laut yang tetap memberi ikan. Dalam berbagai komunitas adat, tanah bahkan tidak dipahami sebagai benda yang dimiliki, melainkan sebagai ruang hidup yang diwariskan dan dijaga bersama. Dengan ukuran-ukuran semacam itu, emas bukan pusat kehidupan. Ia hanya salah satu benda di antara sekian banyak benda.
Namun, begitulah, modernitas mengubah cara kita memandang benda dan dunia. Yang menopang kehidupan perlahan dianggap biasa, sementara yang dapat diperdagangkan dianggap bernilai tinggi. Hutan berubah menjadi konsesi. Sungai berubah menjadi sumber energi. Gunung berubah menjadi cadangan mineral. Laut berubah menjadi ruang ekonomi. Dunia dibaca melalui bahasa sumber daya. Nilai sesuatu tidak lagi ditentukan oleh kemampuannya menjaga kehidupan, melainkan oleh kemampuannya menghasilkan keuntungan. Dalam cara pandang seperti ini, emas memperoleh kedudukan yang hampir sakral.
Karena itu, ketika masa depan Indonesia dibubuhi kata emas, yang bekerja sesungguhnya bukan sekadar optimisme pembangunan. Yang bekerja adalah sebuah cara pandang mengenai apa yang layak dianggap berhasil. Kemajuan dibayangkan melalui metafora kekayaan. Kejayaan diterjemahkan ke dalam bahasa pertumbuhan. Masa depan yang baik diasosiasikan dengan akumulasi kebendaan. Akibatnya, pembicaraan mengenai Indonesia 2045 hampir selalu bergerak di sekitar investasi, produktivitas, daya saing, dan pertumbuhan ekonomi yang telah banyak merusak hutan.
Semua itu penting, mungkin, tetapi bukan satu-satunya ukuran untuk mencapai kemakmuran yang adil dan beradab. Para pendiri bangsa kita tidak pernah menjanjikan Indonesia emas. Mereka berbicara tentang masyarakat yang adil dan makmur. Mereka menempatkan kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai salah satu dasar negara.
Menariknya, dalam rumusan tersebut, kata “adil” selalu hadir lebih dahulu daripada “makmur”. Kita maklum para pendiri republik memang memahami bahwa kemakmuran tanpa keadilan hanya akan menghasilkan segelintir penguasa di tengah banyaknya orang yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Karena itu, persoalan utama slogan Indonesia Emas 2045 bukan terletak pada target tahun 2045, melainkan pada pilihan simbol yang dipakai untuk membayangkan masa depan bangsa. Setiap simbol membawa nilai-nilainya sendiri. Emas membawa ingatan tentang kekayaan, kepemilikan, dan akumulasi. Sementara, republik ini sejak awal dibangun di atas cita-cita keadilan sosial. Ketegangan itulah yang patut dipikirkan secara mendalam.
Mungkin sebagian orang menganggap perdebatan ini terlalu filosofis untuk sebuah slogan. Namun sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa sering kali bergerak mengikuti simbol yang mereka ciptakan sendiri. Simbol menentukan apa yang dipuji dan apa yang diabaikan. Simbol menentukan apa yang dianggap berhasil dan apa yang dianggap gagal. Karena itu, pertanyaan mengenai satu kata (emas) tidak pernah sesederhana yang tampak; ia selalu mengandung subteks yang menentukan masa depan.
Dalam menempuh jarak satu abad kemerdekaan, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan apakah Indonesia akan menjadi emas. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa republik yang sejak awal menjanjikan keadilan justru memilih logam mulia sebagai nama masa depannya? Dan mungkin, sebelum bicara tentang Indonesia Emas, kita perlu memastikan lebih dahulu bahwa Indonesia kita yang sekarang ini benar-benar menjadi negera yang adil dan makmur bagi seluruh rakyatnya.
***
YULIZAR LUBAY, Fiksionis, aktor, dan pengasuh divisi teater UKMF KSS FKIP Unila.
Tidak ada komentar