Bandar Lampung (LB): Tahapan pemilihan Rektor Universitas Lampung Periode 2027-2031 yang akan digelar pada Januari tahun depan terus bergulir. Hingga saat ini ada enam nama muncul dan menyatakan siap bertarung untuk memimpin Universitas Lampung Periode 2027-2031.
Menanggapi hal ini, tokoh sekaligus aktivis pendidikan Lampung Gino Vanollie menilai dengan kondisi dan situasi Unila saat ini, Dr. Budiyono dinilai tepat untuk memimpin Universitas Lampung selama empat tahun ke depan.
Menurut Gino, alasan adalah karena Dr. Budiyono membawa gagasan original yang akan mampu membawa Unila lebih maju dan membumi. “Ya tentu gagasan Dr. Budiyono untuk membawa kampus lebih membumi, dekat, dan bergumul dengan masyarakat adalah gagasan original yang layak kita apresiasi dan dukung,” kata Alumni FKIP Biologi Angkatan Tahun 1988 ini.
Gino menjelaskan problem besar hari ini adalah Kampus menjadi menara gading, entitas yang begitu berjarak dengan masyarakat. Sehingga, kampus yang semestinya menjadi pusat pencerahan bagi kehidupan bangsa justru terjebak pada praktek birokrasi dan administrasi yang kaku membelenggu.
“Kampus yang seharusnya menjadi ruang bagi tumbuhnya pemikiran kritis, perdebatan ilmiah yang mendalam dan kompleks justru tampak sekadar jadi pelaksana kebijakan dan mengedepankan rasa aman dan nyaman,” ucapnya.
Oleh sebab itu, lanjutnya, gagasan untuk membawa kampus lebih Egaliter, melibatkan dan mengoptimalkan semua potensi SDM untuk terlibat dalam penyelesaian persoalan publik adalah bentuk reorientasi baru kampus dari Menara Gading menjadi Menara Air, menjadikan kampus bermakna bagi masyarakat dan daerah.
“Tentu, niatan besar untuk menjadikan Unila punya maruah, unggul, dan dipercaya publik jelas tidak mudah. Perlu kepiawaian dan kecerdasan tersendiri. Dr. Budiyono harus mampu mengorkestrasi segala kekuatan yang ada, dengan dilandasi model dan modal kepemimpinan yang kuat.”
Lebih kanjut dia mengatakan untuk membawa Unila berjaya dan bermakna mesti didukung dengan tata kelola yang mantap dan modern. Praktik-praktik feodalistik yang mewujud dalam bentuk birokrasi kampus yang rumit dan lamban, bukan melayani tapi minta dilayani, mesti digerus.
“Rektor dan pejabat kampus di bawahnya mesti bergumul dekat dengan seluruh civitas akademika dan masyarakat, bukan malah memagari diri dengan protokoler yang bikin ribet,” tegasnya.
“Kita yakin dengan reorientasi baru untuk membangun kolaborasi yang kuat dan kampus lebih membuka diri, memberikan ruang yang pantas bagi pemikiran kritis dan perdebatan ilmiah, Unila ke depan akan mampu melahirkan para Profesor dan Intelektual-intelektual organik, bukan Profesor dan Intelektual administratif,” ungkap mantan Kepala Kantor DPD RI Wilayah Lampung ini.
Aktivis pendidikan yang kerap bersuara kritis ini juga berharap Unila akan mampu menjadi solusi bagi persoalan persoalan kebangsaan dan daerah, dengan sistematis karena didasari kajian ilmiah yang objektif dan jujur.
“Saya melihat Dr. Budiyono dengan kekuatan jaringan dan kiprahnya selama ini, akan mampu mewujudkan itu yang akan membawa Unila punya marwah dan bermakna,” pungkasnya. (Che)
Tidak ada komentar