x

Artikel & Opini// Seni, Pemuda, dan Pergerakan: Usaha Merawat Imajinasi dan Gerakan Kritis

waktu baca 5 minutes
Sabtu, 1 Jul 2023 11:45 0 188 Admin

SILANG pendapat mewarnai diskusi rutin Satu Malam 27-an. Pembicaraan yang mengusung Tema “Seni, Pemoeda, dan Pergerakan” ini berkembang dari satu titik ke titik lain hingga tidak terasa malam perlahan larut.

Dialog yang digelar satu bulan sekali setiap Tanggal 27 itu sudah berlangsung rutin dalam dua tahun terakhir.

Kali ini, menghadirkan tiga pembicara sebagai narasumber dengan konsentrasinya masing-masing, yakni : Ari Pahala Hutabarat (Pemerhati Budaya), Neri Juliawan (Aktivis Kaula), serta Chepry Chairuman Hutabarat (Pendiri Klasika), diskusi yang digagas Kaula bersama Lampung Kultur dan digelar di Graha Kemahasiswaan Unila pada Selasa (27/6/2023) ini dibuka tembang-tembang keren penampilan Grup Musik Orkes Bada Isya.

Dalam diskusi tersebut, Ari Pahala Hutabarat (APH) mengatakan watak dasar seni adalah mengkritisi dan menggugat. Bahkan pada tingkatan yang lebih jauh, seni memiliki karakter untuk menawarkan cara pandang baru dalam melihat realitas.

Menurut APH, seni yang keren bukan hanya memotret realitas, apatah lagi hanya mengafirmasi kenyataan, melainkan merupakan lawan tanding dari realitas dan menawarkan kenyataan yang berbeda dari peristiwa sehari-hari.

“Fungsi seni sebagaimana di ataslah yang memunculkan seni eksprimental, kontemporer, avangarde dan lain-lain,” ungkap APH.

APH berpendapat, seni dan pemuda meski dua makhluk yang berbeda, sesungguhnya memiliki karakter sama yang identik dengan menolak kemapanan hingga mempertanyakan ulang realitas.

Pemuda, menurut Ari, sebagaimana yang tercatat dalam banyak sejarah, kerap memotori gerakan revolusi. Dia lantas menyebut Bung Karno, Tan Malaka, Bung Hatta yang sejak muda memang sudah menjadi tokoh politik Nasional. Menurutnya, tanpa pemuda-pemuda yang memiliki watak revolusioner, progresif, berani, serta Rock n Roll, Republik Indonesia tak akan pernah lahir.

Selain seni dan pemuda yang memiliki karakter memberontak, intelektual juga kerap memiliki sifat melawan. Intelektual harus menentukan keberpihakan pada tataran kritis, karena intelektual selalu pada posisi tidak netral.

Meskipun pada kenyataan hari ini seniman, pemuda, dan intelektual sifat kritisnya semakin menjauh bahkan terdapat pengkhianatan-pengkhianatan intelektual.

Pembicara lainnya, Neri Juliawan, menyoroti pentingnya imajinasi untuk mencapai hal-hal yang besar.

“Seperti tercatat dalam sejarah Indonesia, momentum Sumpah Pemuda 1928 merupakan tonggak awal pemuda memiliki visi baru secara Nasional, yang sebelumnya masih bersifat lokal,” ucap Neri.

Neri melanjutkan, pemuda-pemuda pada masa itu mempunyai kesadaran atas nasibnya, yang muncul karena terdapat dialog dengan realitas. Secara gamblang Neri menjelaskan jika tidak ada pembacaan terhadap realitas atau menerima dengan begitu saja kenyataan yang dialami, maka tidak akan muncul perlawanan.

Sebab itulah, dia menilai penting bagi seseorang memiliki imajinasi. Imaji apa yang ingin kita capai dan realitas seperti apa yang akan dibentuk, hal tersebut mendorong untuk bergerak.

Namun sayangnya, ujar Neri, ia melihat ada penyeragaman imaji atau mimpi yang dikonstruk kepada masyarakat. “Terdapat selera bersama yang dibentuk ke masyarakat, mulai dari berpakaian, makanan, tontonan, game dan lain-lain,” terang Neri Juliawan.

Padahal, ujar Neri, imajinasi datang dan tumbuh tidak dengan sendirinya, hal tersebut mensyaratkan pembacaan terhadap realitas dan kemampuan intelektualitas yang mumpuni.

“Imajinasi merupakan sesuatu yang sangat penting, negara-negara bahkan agama sekali pun lahir karena sebuah imajinasi,” demikian Neri memberi pandangan.

Pemuda, menurutnya, berada dalam sebuah proses yang belum selesai bak sebuah tanaman yang terus bertumbuh dan berkembang, bukan satu capaian yang selesai.

“Seperti orang-orang besar terdahulu, ujarnya, masing-masing memiliki obsesi terhadap sesuatu di luar dirinya, yang besar dan yang bermanfaat untuk orang lain.”

Sedangkan Chepry Chairuman Hutabarat, memulai pembicaraan dengan sebuah kaidah dalam Islam yang berbunyi, “Barang siapa yang tidak memiliki guru maka setanlah gurunya”.

Menurut Chepry, guru di luar yang mewujud dalam bentuk manusia hanyalah perantara untuk menemukan guru di dalam diri masing-masing.

“Jika kita abai terhadap peran penting seorang guru, maka tidak akan lahir sebuah pemberontakan dan gugatan terhadap realitas,” ungkap Chepry.

Pergerakan, menurut Chepry, berasal dari kata Gerak yang berarti perpindahan sesuatu atau benda dari satu posisi ke posisi yang lain. Setiap gerak pun memiliki hukumnya.

“Dalam teori Newton, terdapat tiga hukum gerak. Pertama, hukum kelembaman/inersia, yang mengatakan, jika suatu benda diam maka akan cenderung diam, jika suatu benda bergerak maka memiliki tendensi untuk bergerak. Apa yang membuat sesuatu bergerak, karena terdapat sebuah tarikan atau dorongan, tanpa itu tidak akan bergerak,” ungkap Chepry.

Chepry melanjutkan lagi, “Hukum Newton yang kedua, sesuatu atau benda bergerak, kecepatannya tergantung dorongan yang diterima, begitupun sebaliknya. Sementara itu hukum yang terakhir, adalah aksi-reaksi. Setiap sebuah aksi yang dilakukan maka akan menimbulkan reaksi yang berlawanan.”

Hukum Newton, menurut Chepry, menjadi penting karena berlaku bagi setiap manusia.

Chepry juga menilai, respon dan sikap kritis terhadap realitas mensyaratkan perpindahan kesadaran. Tanpa itu, manusia hanya akan terjebak pada sebuah situasi ketaksadaran.

“Situasi ketaksadaran dimungkinkan berubah karena adanya peran guru untuk mengetuk-ngetuk dan melepaskannya dari kubang ketaksadaran,” kata Chepry.

Chepry juga berpendapat, dalam arus sejarah Indonesia terdapat dua kutub besar yang saling berlawanan yakni Komunisme dan Kapitalisme. Oleh karena itu setiap unsur gerak saat itu terinfluence.

Menurut Chepry, Sejak Tembok Berlin runtuh dan Soviet berubah menjadi Rusia, Kapitalisme menjadi pemain tunggal dan tidak mendapatkan lawan sebanding. Hal tersebut menurutnya menyebabkan musuh dari unsur gerak menjadi kabur. Sehingga memicu kegamangan dan kepanikan.

Chepry juga menilai, terdapat sebuah fenomena baru yang menjangkiti kaum muda hari ini. Secara biologis masih muda, tapi pemikiran sudah seperti orang tua. Bukannya belajar sungguh-sungguh dan membangun jejaring yang luas, tapi justru disibukkan dengan persoalan mencari uang. Hal itu terjadi tidak terlepas dari pengaruh teknologi yang menyebabkan masyarakat menjadi individualis dan konsumtif.

Pemuda hari ini, menurutnya meskipun sudah membaca buku banyak-banyak hingga rutin mengikuti sebuah diskusi, tetap saja tak mampu mengolah dan mengendapkan pengetahuan mereka itu menjadi sebentuk laku.

Hal tersebut, tegas Chepry, mengutip perkataan Slavoj Zizek, “Kita bukanlah kekurangan pengetahuan, tetapi tindakan kita kekurangan informasi dari pengetahuan yang dimiliki.” **

SANDIKA Wijaya. Anggota Klasika Lampung, lahir di Ranau, Kabupaten Lampung Barat.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA