x

Artikel & Opini// Medali dan Pose Siswa Serta ‘Kerja Sunyi’ Guru di Balik Kamera

waktu baca 5 minutes
Kamis, 24 Sep 2026 19:17 0 67 admin

Oleh: Bambang Nopriadi*

Membangun Ekosistem Pendidikan yang Menghargai Murid, Guru, Sekolah, dan Proses Pembelajaran”

ADA paradoks yang patut menjadi bahan renungan bersama dalam cara kita memandang keberhasilan pendidikan. Kita ambil contoh ketika siswa mengikuti sebuah kompetisi, tolok ukur keberhasilannya sering kali dilihat dari berapa banyak piala atau medali yang berhasil diperoleh.

Begitu pula dalam proses pembelajaran di kelas. Seberapa tinggi angka atau nilai yang diperoleh siswa, selalu dianggap sebagai parameter keberhasilan. Siswa dengan nilai tertinggi dianggap sebagai pemenang atau juara. Capaian tersebut kemudian menjadi wajah keberhasilan pendidikan.

Hari ini, pendidikan kita terus berbenah agar menjadi ruang yang tepat untuk membentuk generasi unggul dan berprestasi demi masa depan bangsa. Tujuannya bukan hanya mencetak siswa unggul, tetapi juga menghadirkan guru profesional dan sistem pembelajaran berkualitas yang mampu melahirkan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan global.

Di sekolah, seluruh warga sekolah terus berupaya mendorong siswa untuk aktif mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari olahraga, seni, penelitian, literasi, debat, kewirausahaan, hingga berbagai ajang pengembangan talenta lainnya. Targetnya tentu agar siswa mampu membawa pulang medali. Ketika target itu tercapai, siswa yang berdiri di podium menjadi sosok yang mendapat sorotan dan perhatian.

Hal tersebut tentu wajar. Siswa memang layak mendapatkan penghargaan atas kerja kerasnya.
Namun, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: siapa yang bekerja di balik prestasi tersebut?
Ada guru yang menemukan potensi siswa, pembina yang memotivasi, pelatih yang mendampingi, kepala sekolah yang memberikan dukungan, orang tua yang mengorbankan waktu dan tenaga, serta sekolah yang menyediakan fasilitas. Pada akhirnya, ada siswa yang berjuang keras untuk mencapai prestasi tersebut.

Karena itu, sebuah medali yang berhasil diraih sesungguhnya bukan hanya milik siswa yang berdiri di podium. Medali merupakan hasil kerja sebuah ekosistem pendidikan..Inilah yang saat ini penting untuk dibangun: ekosistem pendidikan yang sehat, berkelanjutan, dan berorientasi pada pengembangan potensi siswa.

Jika kita berbicara tentang keberhasilan dunia pendidikan, khususnya sekolah, yang sering menjadi tolok ukur adalah angka: nilai asesmen, jumlah lulusan, prestasi akademik, jumlah medali, peringkat sekolah, akreditasi, serta berbagai indikator lainnya. Semua diukur dengan angka.

Padahal, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya dinilai dari output yang terlihat, sementara proses untuk menghasilkan output tersebut kurang mendapatkan perhatian.

Seorang siswa tidak menjadi juara atau meraih medali secara tiba-tiba. Di baliknya ada proses latihan yang panjang, proses mencoba dan gagal, evaluasi, pembinaan, serta pendampingan. Ada guru yang berulang kali menjelaskan, pembina yang meluangkan waktu, dan pelatih yang terus mendampingi. Bahkan, tidak jarang proses pembinaan dilakukan di luar kegiatan pembelajaran reguler. Maka, ketika berbicara tentang prestasi pendidikan, kita juga harus berbicara tentang manusia dan sistem yang menghasilkan prestasi tersebut.

Jika kita melihat perkembangan pendidikan di Indonesia, pemerintah telah bergerak menuju penguatan manajemen talenta murid dengan kebijakan yang menempatkan bakat, minat, kemampuan, dan potensi murid sebagai sesuatu yang perlu ditemukan, dikembangkan, dan dibina secara sistematis.

Ini merupakan langkah penting karena Indonesia memiliki jutaan anak dengan talenta yang beragam. Ada anak yang unggul dalam matematika, ada yang memiliki kemampuan bahasa, berbakat dalam olahraga, memiliki kreativitas seni, tertarik melakukan penelitian, menguasai teknologi, atau memiliki jiwa kepemimpinan. Ada pula anak yang mungkin belum menemukan ruang untuk menunjukkan potensinya.

Sebab itulah, tugas sekolah bukan sekadar mencari siapa yang sudah berprestasi, tetapi menemukan siapa yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
Oleh karena itu, sudah saatnya paradigma pendidikan di sekolah berubah dari “Mencari Juara” menjadi “Membangun Talenta”.

Jangan sampai sekolah baru bergerak ketika ada perlombaan. Ketika lomba diumumkan, baru mencari siswa. Ketika seleksi dimulai, baru mencari pembina. Ketika waktu semakin dekat, baru melakukan latihan.

Model seperti ini akan sulit menghasilkan pembinaan yang optimal karena pengembangan prestasi hanya bersifat reaktif dan berbasis kegiatan sesaat.

Sudah saatnya kita membangun sistem pembinaan berkelanjutan. Prosesnya dimulai dari identifikasi talenta, pemetaan potensi, pembinaan dan pendampingan, kemudian keikutsertaan dalam kompetisi. Setelah itu dilakukan evaluasi dan pengembangan lanjutan. Dengan pola tersebut, prestasi bukan lagi sekadar target tahunan, melainkan bagian dari budaya sekolah.

Namun, ada hal yang juga menarik dibahas. Ketika siswa berhasil mendapatkan piala, biasanya semua kamera mengarah kepada siswa yang bersangkutan. Sekali lagi, hal itu wajar karena siswa memang layak mendapatkan penghargaan. Namun, yang kerap dilupakan adalah guru yang bekerja dalam diam: membina dan melatih, membaca materi dan menyusun strategi, melakukan simulasi dan evaluasi, hingga memberikan motivasi ketika siswa menghadapi kegagalan.

Di titik inilah kita perlu memperluas cara pandang. Guru bukan hanya pengajar di dalam kelas, melainkan juga pembimbing, mentor, fasilitator, pengembang talenta, sekaligus bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia.

Oleh sebab itu, kerja pembinaan perlu mendapatkan pengakuan kelembagaan dan dukungan yang layak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Perlu ada kejelasan tugas, perencanaan, dukungan fasilitas, penghargaan profesional, serta mekanisme pembiayaan yang jelas sesuai dengan regulasi. Dengan demikian, yang dibangun bukan hanya sekolah berprestasi, tetapi juga ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan prestasi secara berkelanjutan. Inilah perubahan paradigma yang perlu kita dorong.

Ekosistem tersebut harus mempertemukan murid sebagai pusat pembelajaran, guru sebagai profesional dan pembimbing, pembina sebagai pengembang talenta, kepala sekolah sebagai pemimpin perubahan, orang tua sebagai mitra, pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pemberi dukungan, perguruan tinggi sebagai mitra pengembangan ilmu, dunia usaha dan dunia industri sebagai mitra pengembangan kompetensi, serta masyarakat sebagai lingkungan pendukung pendidikan.

Jika seluruh komponen tersebut berjalan bersama, prestasi tidak lagi menjadi pekerjaan satu orang, melainkan hasil dari sebuah sistem.

Pada akhirnya, jangan hanya melihat siapa yang berdiri di podium dan menerima medali. Lihat pula siapa yang menemani prosesnya, siapa yang membimbing ketika gagal, siapa yang menyediakan ruang untuk berkembang, dan siapa yang terus bekerja ketika tidak ada kamera yang menyorot.
Sebab, pendidikan yang hebat bukan hanya pendidikan yang mampu menghasilkan juara, tetapi pendidikan yang mampu membangun manusia dan ekosistem yang membuat lahirnya prestasi menjadi sebuah proses yang berkelanjutan. [*]

* BAMBANG NOPRIYADI, Praktisi dan Pemerhati Pendidikan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
LAINNYA