x

‎Lampung Literature Gelar Diskusi Buku Sastra #1, ‘Hari-hari Bahagia’ Karya Ari P. Hutabarat

waktu baca 2 minutes
Rabu, 1 Okt 2025 13:55 0 429 admin

‎Bandar Lampung (LB): Lampung Literature menggelar diskusi bedah Buku Sastra #1 Hari-hari Bahagia karya Ari Pahala Hutabarat di Gedung Aula C Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung dengan menghadirkan narasumber Ari Pahala Hutabarat, Iswadi Pratama, dan Dr. Munaris, M.Pd. dengan dimoderatori Edi Siswanto, M.Pd., Rabu (1/10/2025).

‎Penanggung jawab kegiatan, Iskandar GB, mengatakan kegiatan ini bertujuan memasyarakatkan karya sastra kepada generasi muda dan membangun ekosistem sastra agar lebih hidup serta dikenal masyarakat.

‎”Diskusi ini digelar di FKIP Universitas Lampung, tujuannya untuk membangun dan mengenalkan lebih dalam sastra kepada generasi muda dalam hal ini mahasiswa FKIP yang didalamnya ada Program Studi Seni dan Sastra,” ucap GB.

‎Sementara itu, dalam pembukaan diskusi Ari Pahala Hutabarat menyampaikan Buku Sastra dan Puisi Hari-hari Bahagia adalah implementasi residu kehidupan, sebuah karya yang terlahir dari aspek kehidupan baik hubungan pertemanan, percintaan, dan pergaulan sehari-hari.

‎Menurut Ari, dalam penulisan karya puisi ini setiap penulis menuangkan karya secara objektif sehingga dia membuka ruang bagi semua pihak untuk menyampaikan masukan, kritikan dan sanggahan karena karya yang sudah dituangkan ditulisan bukan lagi milik penulis namun jadi milik semua pembaca.

‎”Karya ini secara umum membahas tentang arti kebahagiaan yang lebih luas. Kebahagiaan yang tidak hanya dalam arti manis, namun juga sisi gelap yang harus kita hadapi,” ujarnya.

‎Ditempat yang sama, Kepala Program Studi Bahasa Lampung FKIP Unila, Dr. Munaris, M.Pd. mengatakan setiap orang punya persepsi dan sudut pandang sendiri dalam menafsirkan sebuah karya puisi sepertinya halnya buku sastra dan puisi “Hari-hari Bahagia” karya Ari Pahala Hutabarat yang mempunyai pragmatik tersendiri, sudut pandang dan diksi yang timbul dari imajinasi serta jiwa penyair pemilik karya itu.

‎Secara akademis, Munaris menilai puisi-puisi dalam “Hari-Hari Bahagia” bukan hanya menawarkan keindahan bahasa, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenung lebih dalam tentang kehidupan, yang seringkali kita abaikan.

‎Sementara itu, Iswadi Pratama dalam closing statementnya mengatakan, dalam memahami sebuah karya seni sastra yang tidak terbatas maka memerlukan juga energi yang tidak terbatas, apabila dipahami dengan energi terbatas maka itu impossible.

‎”Ini adalah cinta yang lebih besar dari sekadar hubungan manusia. Ada nuansa spiritual, seolah penyair sedang berbicara bukan hanya pada kekasih, tetapi pada yang Ilahi,” ucap Iswadi.

‎”Kierkegaard menyebut cinta sejati itu selalu berisiko, bahkan penuh penderitaan, karena cinta adalah “lompatan iman.” Ia tidak menjamin kebahagiaan, tapi menuntut penyerahan total. Maka bait Ari terdengar seperti doa seorang pecinta yang siap memeluk penderitaan demi sesuatu yang lebih tinggi,” pungkas Iswadi. (Herdi)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA