x

ARTIKEL & OPINI// Lampung Gagal Membangun Tradisi Dialog yang Produktif

waktu baca 6 minutes
Senin, 30 Jan 2023 22:26 0 158 Admin

MASYARAKAT Lampung secara umum gagal membangun tradisi dialog yang produktif. Komunikasi antar stakeholder terasa sangat formal, kaku dan minim makna. Akibatnya, potensi besar yang dimiliki Lampung tidak mampu dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal bagi kemajuan daerah. Sementara banyak persoalan akut terus melaju tanpa solusi konkrit.

Para pihak cenderung asyik dengan urusannya sendiri, kalaulah terlihat bersama tidak lebih dari sekedar seremonial dan gimmik belaka.

Kegalauan, rasa risau dan prihatin akan kondisi ini, begitu terasa dan mengemuka dalam diskusi rutin bulanan bertajuk “Satu Malam 27an” yang digelar oleh KAULA berkolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila, Komunitas Berkat Yakin (KoBer) dan juga Lampung Kultur, Jumat malam (27/1/2023) di Lantai 2 Gedung Kemahasiswaan Unila. Diskusi rutin edisi ke-6 yang keren dan gayeng.

Acara yang dibuka oleh Saudara Habib sebagai Ketua Pelaksana dan De Santoz sebagai moderator, menghadirkan narasumber Gino Vanollie (pemerhati budaya dan mantan Ketua UKMBS periode pertama) dan Ari Pahala Hutabarat yang sehari hari adalah Direktur Artistik Komunitas Berkat Yakin. Juga hadir 50an lebih para praktisi seni dan budaya, intelektual muda. Ada dosen, pengacara, mahasiswa dan kaum pergerakan dari lintas komunitas dan kampus.

Dalam sesi diskusi yang cukup gayeng dan digelar sambil lesehan itu, Gino menyampaikan bahwa masyarakat Lampung secara umum budaya literasinya masih rendah. Di kalangan peserta didik diberbagai tingkatan sekolah, kemampuan literasi siswa siswi kita masih jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain.

Kondisi yang relatif sama juga terjadi dikalangan pendidik. Kemauan dan kemampuan literasinya juga masih belum memadai. Guru guru kita minim referensi, kebanyakan masih menggunakan buku yang sama persis dengan yang dimiliki siswa siswinya. Inisiatif untuk meningkatkan kapasitas melalui berbagai kegiatan Diklat, pelatihan, seminar dan kegiatan lain secara mandiri masih rendah.

Dikalangan masyarakat umum, kondisinya jauh lebih parah dan memprihatinkan. Kalaulah mengakses informasi dan berita (khususnya media sosial), kebanyakan hanya membaca judul, isi tidak penting. Berharap mereka bisa membedakan mana berita hoax dan mana berita yang bukan hoax. Rasanya jauh sekali. UNDP pada November 2022 mengeluarkan rilis hasil penelitian terkait kemampuan literasi di 61 negara, Indonesia menduduki urutan ke 60. Sungguh miris dan prihatin.

Dengan kondisi demikian, ketika dihadapkan pada fenomena tsunami informasi, masyarakat tidak punya kapasitas dan kecerdasan yang cukup untuk mencerna dan mengelola informasi yang diterima. Beragam informasi tumpah ruah, kemudian lenyap tak tersisa, tertimpa oleh informasi lain, begitu seterusnya.

Kondisi ini tentu paradok dengan jejak sejarah Lampung tempo dulu. Nenek moyang kita memiliki kemampuan literasi yang sangat tinggi, terbukti mampu melahirkan aksara Lampung, kemudian diikuti dengan lahirnya berbagai kitab undang undang yang menjadi rujukan dan acuan pokok bagi kehidupan masyarakat adat Lampung.

Secara umum, masyarakat Lampung terdahulu sangat melek huruf dan punya tradisi baca yang tinggi, hingga nyaris tidak ditemukan angka buta huruf. Tanpa ruang dialog yang inten dan cerdas, tidak mungkin legacy yang begitu fenomenal ini terlahir.

Disisi lain, Lampung sejatinya punya keunggulan komparatif dibanding provinsi lain di Sumatera. Selain sebagai pintu gerbang pulau Sumatera, provinsi ini juga diberkahi begitu banyak potensi sumber daya alam dan SDM unggul yang bertebaran di kampus-kampus, baik negeri maupun swasta. Memiliki ratusan profesor dan tak terhitung lagi yang doktor. Tapi kehadiran dan keberadaanya tidak begitu bermakna. Mungkin sudah ribuan hasil penelitian dan karya tulis yang mereka hasilkan, tetapi apa dampaknya bagi Lampung, nyaris tak berasa.

Jangan jangan para pakar, budayawan dan kaum intelektual ini asyik dengan mainannya sendiri. Kampus kampus berdiri megah tinggi menjulang menjadi menara gading, terpisah dari realitas masyarakatnya sendiri.

Persoalan harga singkong yang sering hancur hancuran, harga karet yang sejak beberapa tahun lalu terus menurun, begitu juga harga sawit yang tak menentu, dan gejolak harga komoditi lain yang terus terulang tanpa solusi. Lada dan Kopi sebagai icon Lampung semakin kehilangan pamornya. Pupuk yang sangat dibutuhkan oleh petani kita, justru menghilang saat dibutuhkan.

Dimana peran dan tanggung jawab para pihak dalam pusaran persoalan ini? Petani kita yang lemah, tidak berdaulat, pada akhirnya harus mencari solusi dengan caranya sendiri.

Terkait fenomena “Begal” misalnya, yang hingga hari ini menjadi problem image dan stigma buruk bagi Lampung. Apa solusi konkrit yang bisa di tawarkan oleh para pihak, nyaris tidak ada. Ketika terjadi konflik tanah yang makin mengeras dan meluas, ketika tindak kekerasan makin sering terjadi, tawuran antarpelajar dan antargeng motor yang makin mengkhawatirkan itu, dimana peran lembaga masyarakat adat, dimana para sosiolog, para begawan, budayawan dan kaum intelektual, nyaris tidak terdengar. Semuanya terkesan abai dan menyerahkan penyelesaian persoalan kepada aparat kepolisian.

Khusus pada kasus Begal, Kapolda Lampung melakukan langkah dan terobosan baru, yaitu dengan memberikan perhatian dan perlakuan khusus kepada putra putri terbaik dari daerah yang dicitrakan sebagai asal para Begal, untuk masuk polisi. Dengan terobosan ini diharapkan mampu terbangun komunikasi dan dialog yang produktif dengan masyarakat.

Sungguh satu langkah maju, berani dan cerdas, layak untuk kita beri apresiasi tinggi.

Namun demikian, Polda Lampung tentu tidak bisa jalan sendiri, perlu dukungan, kerjasama dan kolaborasi dari stakeholder lain sehingga mampu menyelesaikan persoalan yang ada secara tuntas dan menyeluruh. Terobosan yang dilakukan pada fenomena Begal, tentu bisa dikapitalisasi untuk membuat terobosan baru pada kasus kasus yang lain.

Oleh karena itu, sudah saatnya, tradisi dialog, curah pendapat, ide, gagasan dan perang opini melalui berbagai saluran dialogis perlu digelorakan. Sekolah, pondok, kampus dan ruang ruang publik harus mulai terbuka dan membuka diri untuk mendialogkan berbagai fenomena, peristiwa dan isu apapun.

Tanpa soliditas, kolektivitas, sinergi, dan kolaborasi dari para pihak, maka potensi besar dan segala keunggulan yang dimiliki Lampung tidak akan mampu memberikan sumbangan yang produktif bagi kemajuan Lampung.

Komunikasi dan kolaborasi antara pemerintah daerah dengan entitas entitas di luar pemerintahan harus benar benar produktif dan bermakna. Para pihak sadar dan bertanggung jawab pada peran dan fungsinya masing masing, sehingga tidak terjebak dalam model kolaboratif yang formalistik, kolutif, atau menghegemoni antara satu dengan lainnya.

Sebagai salah satu narasumber, Ari Pahala Hutabarat dengan gemas menyatakan bahwa salah satu faktor yang membuat Lampung belum maju sebagaimana yang kita harapkan karena para pihak yang berkompeten telah mengkhianati peran dan tanggung jawabnya masing masing. Berkhianat karena tidak pernah menawarkan sesuatu yang solutif bagi persoalan yang ada.

Secara formil ada, tapi secara substansial tak berasa, peran yang absurd. Tidak jarang justru berselingkuh. Seolah terlibat dalam banyak hal, tetapi sejatinya tak lebih dari proyek semata.

Hasilnya, Lampung dalam banyak hal masih tertinggal dari provinsi yang lain. Tentu, kita mengapreasi atas begitu banyak capaian dan penghargaan yang diperoleh provinsi Lampung dalam berbagai bidang. Tetapi apakah semua itu mampu mengangkat Lampung keluar dari persoalan-persoalan mendasar yang ada, rasanya belum dan masih jauh dari harapan.

Dengan demikian, menjadi hal yang penting dan strategis untuk kita berani keluar dari kemapanan semu yang tidak produktif ini. Kita harus mulai membangun budaya yang lebih kompetitif, berkarakter dan berkemajuan, secara bersama sama.

Untuk itu, ke depan kita mesti berani melakukan redifinisi dan reorientasi dalam banyak hal, baik itu yang berkaitan dengan tradisi, adat istiadat, seni, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta hal-hal strategis lainnya. Yang kesemuanya berpijak pada keunggulan dan kearifan lokal sehingga mampu memberikan landasan yang kokoh untuk mencapai kejayaan Lampung.

Tentu, Kejayaan Lampung tidak mungkin bisa dicapai tanpa adanya kemauan yang kuat, ide dan gagasan yang brilian dari para pihak. Tidak cukup dengan cara yang biasa biasa saja, tapi mesti dengan langkah yang berani, progresif dan luar biasa. Kita optimis Lampung Berjaya bisa. Semoga !

GINO VANOLLIE, Mantan Ketua UKMBS Unila

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Januari 2023
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
LAINNYA