x

Embrio Kebangkitan Pemuda

waktu baca 8 minutes
Jumat, 20 Mei 2022 14:25 0 269 admin


Oleh : Halimson Redis

114 tahun yang lalu, tepatnya Tanggal 20 Mei merupakan hari kelahiran Organisasi Pemuda “Boedi Oetomo” hingga saat ini masih diyakini sebagai tonggak kebangkitan bangsa, dimotori kaum pemuda. Karenanya, hari berdirinya organisasi tersebut ditetapkan dan diperingati sebagai “Hari Kebangkitan Nasional.”

Mengingat peran besarnya dalam menginspirasi kaum pemuda-pemuda lainnya, selanjutnya secara bersama-sama berjuang mewujudkan kebebasan rakyat dari belenggu bangsa asing. Tidak hanya berhenti disitu, cita-cita mencapai kemandirian dan kemerdekaan bangsa menjadi tujuan utama perkumpulan pemuda saat itu. Pemuda-pemuda bangkit secara heroik terorganisir dalam organisasi modern, untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa.

Bahkan embrio kebangkitan pemuda, telah dimulai pada awal abad ke-20, tepatnya ketika organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) berdiri tanggal 17 Maret 1900. THHK sebagai organisasi pemuda Tionghua yang resmi diakui Pemerintah Hindia Belanda. Kemunculan pergerakan kebangkitan pemuda Hindia, terinspirasi sejak lahirnya berbagai pergerakan kebangkitan pemuda-pemuda China, India, Philipina, dan Turki diakhir abad ke-19.

Pemuda-pemuda Hindia Belanda pun, terutama kaum terpelajar terinspirasi melakukan perlawan-perlawanan terhadap kolonial secara organisasi modern dengan memanfaatkan media surat kabar. Namun usaha tersebut belum maksimal, karena masih dilakukan secara personal dan sembunyi-bunyi. Genderang perlawanan mulai bermunculan dalam bentuk kelompok diskusi-diskusi pelajar atau perkumpulan pemuda.

Topik kolonialisme dan nasionalisme merupakan “sarapan pagi” bahkan merupakan menu harian pemuda yang terhidang lengkap di meja makan sebuah rumah kos. Dalam hal ini, kaum terpelajar Tionghua di Hindia Belanda mengawali perlawanan melalui gerakan organisasi modern, setelah mendapat petunjuk dan nasehat dari Dr. Liem Boon Keng (Kang Youwei).

Petemuan dengan Kang Youwei, memberi pengaruh bagi para huaqiao (orang-orang keturunan China) untuk berpikiran lebih maju. Untuk diaplikasi dikalangan mereka sendiri, dalam kerangka pencapaian kemajuan kaum Tionghoa di wilayah Hindia Belanda.
Rentetan peristiwa, pembataian 1740 terahadap etnis Tionghoa oleh VOC, pengusiran dari kota Batavia ke Tangerang dan dijadikan Benteng Batavia menghadapi serangan Kesultanan Banten.

Diskriminasi sosial budaya, hukum dan larangan sekolah bagi anak-anak huaqiao, merupakan gumulan penderitaan yang sudah mereka rasakan pahit kegetirannya, dan mereka terima bersama kaum inlander (pribumi). Kebangkitan kaum huaqiao untuk lepas dari penderiataan dan kemiskinan di bumi Hinda Belanda menjadi cita-cita dan semangat untuk bangkit.

Cita-cita tersebut, mereka wujudkan dengan mendirikan perkumpulan pemuda Tiong Hoa Hwee Koan dengan tujuan mengadakan perbaikan atas adat istiadat bangsa Tionghoa seperti pernikahan dan kematian, mendirikan sekolah-sekolah untuk anak keturunan Tionghoa.

Sejak itu, anak-anak huaqiao dapat mengikuti proses pendidikan disekolah-sekolah, bahkan para pedagangnya mulai menguasai perdagangan dan mampu bersaing dengan pedagang dari jazirah Arab dan Eropa.
Sebelumnya, pergerakan kaum huagiau telah diawali organisasi “Jong Chineesche Beweging” di Batavia diakhir abad ke-19.

Tujuan pergerakan ini untuk memperjuangkan emansipasi masyarakat Tionghua di Hinida Belanda dan meminta dihapuskannya pembatasan atas pergerakan anggota kaum Tionghoa, meminta kesamaan hak secara hukum, dan meminta pendirian sekolah-sekolah bagi anak-anak Tionghoa. Pergerakan tersebut, berusaha menanamkan dan menumbuhkan rasa kebersamaan dan nasionalisme bagi orang-orang Tionghoa yang sudah mengindonesia, (mengalkulturasi dengan budaya lokal sebagai proses menuju Indonesia).

Kelahiran Jong Chineesche Beweging setelah “politik etis” Ch. Van Deventer, mengalami kemajuan. Perkembangan pesatnya telah menjadi kekuatan pergerakan kaum muda Hindia Belanda. Kehadirannya, turut menginspirasi kaum muda inlander (pribumi). Akan tetapi perlakukan diskriminasi masih dirasakan oleh kaum peranakan Tionghoa dan Inlander.

Penuntutan penghapusan diskriminasi bagi semua warga Negara Hindia Belanda, khususnya keturunan Tionghoa. Tujuan fundamental ini, merupakan cita-cita luhur didirikannya organisasi Tiong Hoa Hwee Koan yang lebih modern pada tanggal 17 Maret 1900 di jalan Patekoan, Batavia oleh 20 orang diketuai Phoa Keng Hek, dan dibantu Tan Kim San, Oey Koen Lie, dan Lie hin Liam.

Akan tetapi, keberadaan organisasi pemuda Tionghoa tersebut baru mendapat pengakuan Pemerintah Hindia Belanda, ketika perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), mendapat pengesahan Gubernur Jenderal Belanda Tanggal 3 Juni 1900 sebagai organisasi masyarakat yang bergerak dibidang pemberdayaan masyarakat peranakan Tionghoa di bumi Hindia Belanda, dan mengembangkan ajaran Konghucu serta mendirikan sekolah untuk anak-anak Tionghoa.

Rentetan sejarah, menunjukan organisasi Pemuda Tiong Hoa Hwee Koan merupakan organisasi pertama yang diakui dan disahkan oleh pemerintah Hindia Belanda dan Kerajaan Belanda, merupakan “embrio kebangkitan Pemuda.” Setahun kemudian perkumpulan THHK berhasil mendirikan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (sekolah Pa Hoa). Selanjutnya, mengalami perkembangan pesat, sampai dengan tahun 1908 sudah mencapai 54 sekolah yang tersebar diberbagai pelosok di Hindia Belanda.

Sebagai organiasasi pemuda Hindia pertama. Perkembangan THHK sebagai organisasi masyarakat yang anggotanya didominasi kaum muda Tiong Hoa, telah mampu menginspirasi pemuda-pemuda inlander. Mengetahui perkembangan pesat perkumpulan dan sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (Pa Hoa), pemuda-pemuda keturuan Arab (hadrami) mendirikan Jami’atul Khair di Batavia tahun 1905.

Pemuda keturunan Arab (hadrami) secara cermat menyadari bahwa perkembangan masyarakat Tionghoa, sebagai tolak ukur tingkat kemajuannya. Bahkan setelah Jami’atul khair mengalami perpecahkan dengan lahirnya organisasi Al-Irsyad tahun 1914. Pendiriannya telah mengadopsi konstitusi baru (AD/ART) perkumpulan THHK.
Begitupula kaum inlander (Bumi Putera) sebagai kelompok terendah dalam strata sosial di Hindia Belanda, juga terinspirasi untuk bangkit dari penderitaan dan keterbelakangan dari bangsa keturunan Eropa, Tionghoa, dan Arab; terutama dibidang pendidikan dan perdagangan.

Pemuda Inlander melihat kaum muda Tionghoa dan Arab dapat dengan mudah mendapatkan berbagai fasiltas dari pemerintah Hindia Belanda, bahkan keterlibatan mereka dalam proses pemerintahan. Hegemoni perkumpulan non Inlander, terutama THHK telah memberikan inspirasi segar bagi pemuda inlander diberbagai pelosok. Pengaruh THHK bagi berdirinya organisasi pemuda inlander, dipelopori para pemuda terpelajar dan kaum priyayi di sekolah STOVIA.

Mereka mendirikan gerakan Boedi Oetomo (BO) pada tanggal 20 Mei 1908. Oraganisasi Boedi Oetomo, juga mengkhususkan untuk pemberdayaan masyarakat Jawa di Batavia terutama membantu biaya pendidikan pelajar-pelajar dari tanah Jawa. Artinya, walaupun bersifat etnis kedaerahan, keberadaan THHK telah menginspirasi pemuda priyayi Jawa mendirikan gerakan Boedi Oetomo, begitu pula organisai kedaerahan lainnya.

Tidak hanya Jami’atul Khair dan Boedi Oetomo, di tahun 1909 di Buitenzorg (Bogor) Sarekat Dagang Islamiyah didirikan oleh RA Tirtoadisuryo juga meniru model Siang Hwee (kamar dagang orang Tionghoa) pada tahun 1906 di Batavia. Bahkan pembentukan Sarekat Islam (SI) di Surakarta juga tidak terlepas dari pengaruh asosiasi yang lebih dulu dibentuk oleh warga Tionghoa di Hindia Belanda.

Pendiri SI, Haji Samanhudi mulanya adalah anggota Kong Sing, organisasi paguyuban tolong-menolong orang Tionghoa di Surakarta, selain itu, H. Samanhudi kemudian membentuk Rekso Rumekso yaitu Kong Sing-nya orang Jawa. Dengan demikian, secara fakta bahwa Organisasi THHK dan sekolah Pa Hoa telah mengilhami bagi berdirinya pergerakan-pergerakan pemuda-pemuda Hindia Belanda, saat itu.

Pergerakan Boedi Oetomo menurut pendirinya Dr. Wahidin Sudirohusodo, terinspirasi dari lahirnya THHK (Tiong Hoa Hwee Koan). Menurutnya, organisasi kemasyrakatan Tionghoa (THHK) telah memacu orang-orang Jawa untuk mendirikan organisasi sendiri. Bahkan kedua organisasi ini mengadakan pertemuan untuk bertukar pengalaman dan menyatukan kegiatan bersama.

Tidak hanya itu, Organisasi THHK dengan sekolah Pa Hoa jargon fundamentanya “belajar untuk diamalkan” juga telah menginspirasi kebangkitan organisasi modern lainya; Muhammadyah (1911) dan Taman Siswa (1922) yang merupakan taman persemaian bibit-bibit nasionalisme, selanjutnya mencetuskan Sumpah Pemuda (1928). Walaupun demikian hingga saat ini, keberadaan THHK dan Sekolah Pa Hoa tidak banyak kita jumpai dalam teks-teks buku sejarah.

Sejarah keberadaannya menghilang sejak semua aset THHK dan Pa Hoa diambi alih oleh Negara tahun 1967-1968. Padahal keberadaan sebelum kemerdekaan telah berdampak besar terhadap pergerakan kemerdekaan dan kebidupan berbangsa dan bernegara. THHK merupakan organisasi modern pemuda Hindia Belanda pertama yang berkontribusi pada peta pergerakan kebangsaan, baik yang bersifat daerah, etnis budaya, agama, maupun bersifat nasional.

Dengan demikian, pengaruh kalangan Tionghoa di Batavia, khususnya organisasi THHK, menjadi tonggak sejarah awal kebangkitan nasional. Akan tetapi, hari dan tahun kebangkitan nasional dimulai sejak lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada 1908, walaupun Boedi Oetomo masih juga bersifat kedaerahan. Berdasarkan bukti seajarah, maka perlu kita mengakui sejarah kebangkitan pemuda Indonesia dimulai sejak berdirinya organisasi-organisasi pemuda Hindia Belanda.

Maka berdirinya perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) pada tanggal 17 Maret 1900, sebagai awal kebangkitan pemudia Hindia. Maka awal sejarah kebangkitan nasional bertolak pada kelahirlan organisasi THHK sebagai Titik Nol Kebangkitan Nasional atau “embrio kebangkitan Pemuda.”

Karena, fakta embrionya telah meyakinkan dan menginspirasi organisasi pemuda lainnya, dan memberi pencerahan bagi pentingnya berorganisasi dalam mewujudkan cita-cita nasional. Perkembangan selanjutnya, keberadaan Boedi Oetomo telah menginpirasi organisasi kepemudaan dari yang bersifat daerah hingga bersifat nasional.

Perkembangan pergerakan organisasi pemuda semakin pesat, yang awalnya masih bersifat kedaerahan, etnis, agama, hingga bersifat nasional. Sampai akhirnya mereka mempunyai visi Indonesia Satu, Indonesia Raya, Indonesia yang Merdeka dan Mandiri, dengan misi perjuangan melawan kolonialisme melalui diplomasi dan propaganda dalam kesatuan organisasi yang mapan, mandiri, modern, dan menasional.

Kini cita-cita tersebut sudah terwujud, tapi masih kita jumpai rasa kebencian terhadap etnis tertentu, padahal negeri ini juga didirikan oleh semua warga negara Hindia Belanda tanpa kecuali. Cita-cita nasional tersebut, telah tertuang dalam naskah fundamental yang otentik dalam Pemubukaan UUD 1945 untuk mewujudkan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur; Perikehidupan kebangsaan yang bebas; dan Pemerintahan Negara Indonesia untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, harus menjadi kenyataan.

Sebuah keniscayaan cita-cita dapat tercapai tanpa menghargai sejarah bangsa. Karenanya, sejarah tidak boleh berbeda versi, harus satu versi dan tidak boleh meninggalkan atau melupakan sejarah maupun membuang bagian-bagian kecil dari sejarah yang membentuk Negara Indonesia. Sebagaimana wasiat Ir. Soekarno “jangan sekali-kali melupakan sejarah, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengetahui tentang sejarahnya.”

Negara Indonesia adalah Negara yang besar, karenanya tidak boleh melupakan sejarahnya. Berdirinya Indonesia tidak terlepas dari peran-peran pemuda terpelajar yang bangkit dari penderitaan rakyat, akibat dari kekejaman bangsa kolonial. Saat ini kita berada pada era Reformasi. Ketika kebangkitan pemuda sebagai embrionya dan telah berkembang dan membuah kemerdekaan bangsa maka buah tersebut jangan kita sia-siakan.

Saatnya bekerja nyata dan mandiri dengan cara yang penuh inisiatif, inovatif, transformatif dan kolaboratif untuk mengukir kehidupan berbangsa dan bernegara yang mandiri dan berkarakter. Kita harus menjadi bangsa yang mampu Recover Together Recover Stronger di tengah persaingan masyarakat global multidimensi. Kita Bangkit Bersama, bersatu untuk Pulih Bersama dan Tangguh. ***

Halimson Redis, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Federasi Guru Independen Indonesia.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mei 2022
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
LAINNYA