x

Batik Sampur untuk Jiwa yang Merdeka

waktu baca 5 minutes
Selasa, 19 Mei 2026 10:41 0 42 admin

Syarif Waja Bae*

PAGI itu udara Kota Malang masih terasa segar ketika sekitar pukul 08.00 WIB, puluhan orang berdiri khidmat di Sanggar Budaya Anak Nareswari, Jalan Kyai Pasreh Jaya Nomor 29, Bumiayu, Kedungkandang. Lagu “Indonesia Raya” mengalun, dinyanyikan bersama-sama dengan penuh penjiwaan. Ada rasa haru yang pelan-pelan menyelimuti ruangan — sebuah pengingat bahwa ruang budaya ini adalah milik seluruh anak bangsa tanpa terkecuali.

Sabtu, 16 Mei 2026, Griya Kriya Topeng Ramah Difabel resmi menggelar pelatihan membatik sampur bagi 15 anak difabel beserta pendamping mereka. Kegiatan ini bukan sekadar kelas keterampilan biasa. Ia adalah bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025, kategori Dukungan Institusional bagi Lembaga Kebudayaan, yang didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan, LPDP, dan Dana Indonesiana — bukti nyata bahwa negara hadir untuk menopang ruang-ruang inklusif seperti ini agar terus bernapas dan berkreasi.

Sebelum sesi inti dimulai, suasana sempat bergetar oleh penampilan yang tak terduga. Ananda Zaki, seorang penari difabel berbakat, tampil memukau membawakan Tari Topeng. Gerakannya yang lincah namun sarat makna, diiringi irama musik tradisional yang dinamis, seolah menghipnotis seluruh hadirin. Zaki bukan sekadar membuka acara — ia menjadi simbol hidup bahwa tradisi lokal punya kekuatan luar biasa untuk merangkul segala perbedaan.

Sambutan hangat kemudian disampaikan Ndaru Lazarus, Ketua Sanggar Budaya Anak Nareswari yang akrab disapa Dimas. Dalam tuturnya yang ramah, ia menegaskan visi besar di balik kegiatan bertema “Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel & Pasar Seni Bareng” ini: menciptakan ekosistem seni yang benar-benar bisa diakses oleh siapa pun.

Griya Kriya dan Pasebar (Pasar Seni Bareng), jelasnya, adalah dua ruang yang selama ini menjadi tempat anak-anak difabel berlatih 15 keterampilan secara berkesinambungan. Membatik Sampur hari ini hanyalah babak pembuka dari sebuah perjalanan kreatif yang jauh lebih panjang.

Ada pemandangan menarik yang membuat pelatihan kali ini terasa semakin istimewa. Di antara peserta dan pendamping, hadir 47 mahasiswa Program Studi Fashion Design & Business Universitas Ciputra Surabaya, didampingi langsung dosen mereka, Jane Rine Teowarang. Mereka yang sehari-hari bergulat dengan tren mode global dan strategi bisnis fesyen, hari itu duduk membaur hangat di sebuah griya kriya tradisional. Interaksi yang terjadi sangat cair dan penuh makna.

Para mahasiswa belajar tentang empati, kesabaran, dan nilai filosofis dari sebuah karya tangan; sementara anak-anak difabel merasakan kebanggaan tersendiri karena karya mereka diapresiasi oleh calon-calon desainer masa depan. Kehadiran Universitas Ciputra sekaligus membuka cakrawala baru: bahwa sampur batik karya tangan-tangan istimewa ini kelak berpotensi naik kelas menjadi produk fashion bernilai tinggi di pasar yang lebih luas.

Memasuki sesi inti, instruktur batik Yuharsita dari Bengkel Batik — dibantu rekannya Roro — memandu jalannya pelatihan dengan pendekatan yang memikat. Ia tidak langsung menyuruh peserta memegang canting. Ia memulai dengan bercerita. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, Yuharsita menjelaskan bahwa batik bukan sekadar kain bergambar, melainkan sebuah doa dan cerita yang ditorehkan menggunakan malam panas.

Ia memperkenalkan ragam motif Nusantara yang kaya makna: Megamendung khas Cirebon, Sekarjagad dari Yogyakarta, hingga Batik Tiga Negeri yang memadukan kekayaan Pekalongan, Solo, dan Lasem.

Peserta juga dikenalkan pada istilah-istilah dasar membatik — glowong untuk menyebut garis luar motif dan isen-isen untuk bagian isiannya — serta cara membedakan batik tulis asli yang punya “jiwa” dari sekadar kain bermotif buatan pabrik. Untuk sampur yang dibuat hari itu, bagian tengah kain akan dihiasi motif truntum yang anggun.

Ketika sesi praktik dimulai, ruangan pun hidup. Ke-15 anak difabel mulai mengambil posisi, memegang canting, dan perlahan menggoreskan malam panas ke atas helai kain sampur. Bagi mereka, proses ini sekaligus menjadi terapi motorik yang menyenangkan. Yuharsita, Roro, para pendamping, dan mahasiswa Ciputra dengan sabar membimbing satu per satu.

Ada tangan yang diarahkan perlahan membentuk garis melengkung, ada tawa lepas ketika tetesan malam tak sengaja melenceng dari pola. Justru di sanalah keajaibannya: ketidaksempurnaan setiap goresan itulah yang membuat tiap lembar sampur menjadi unik dan tak tertandingi. Tidak ada dua sampur yang sama, persis seperti tidak ada dua anak yang identik di dunia ini — masing-masing hadir dengan keistimewaannya sendiri.

Bagi Yuharsita, batik bukan hanya soal keindahan. Ia melihatnya sebagai jalan nyata menuju kemandirian ekonomi. Peserta tidak sekadar diajak berkarya, tetapi juga dibuka wawasannya tentang peluang usaha mandiri, termasuk kemungkinan mengikuti pelatihan pemasaran melalui media sosial bagi yang ingin mendalami lebih lanjut.

“Kami berharap, melalui belajar membatik ini, mereka bisa membuat batik yang disesuaikan dengan kemampuan teman-teman difabel. Selain itu, juga menjadi bekal untuk memulai UMKM demi kehidupan yang lebih baik,” tuturnya.

Brelliane Semesta Pratiwi, Bendahara Acara Harmonisasi, menjelaskan bahwa pelatihan membatik sampur hari ini sesungguhnya baru babak pertama dari sebuah kurikulum seni yang dirancang dengan sangat matang dan runut. Pada Juni 2026, peserta akan belajar membuat topeng dari bahan dasar, melatih imajinasi spasial mereka. Juli giliran melukis topeng — tahap pemberian nyawa melalui sapuan warna yang merepresentasikan berbagai karakter manusia. Dan pada puncaknya, 1 Agustus 2026, Griya Kriya Topeng akan menjelma menjadi panggung perayaan besar: parade tari, sendratari, dan bazar UMKM.

Ada satu detail yang membuat rangkaian ini terasa sempurna secara artistik — sampur yang mereka batik hari ini akan mereka kenakan saat menari menggunakan topeng buatan dan lukisan tangan mereka sendiri di acara puncak nanti. Sebuah siklus penciptaan karya yang utuh, bermakna, dan memuaskan. Dan seluruh rangkaian dari Mei hingga Agustus itu terbuka gratis, dirancang sepenuhnya ramah difabel. Jane Rine Teowarang menutup dengan kalimat yang mengena.

Baginya, kolaborasi apik antara Sanggar Budaya Anak Nareswari, pakar batik lokal, mahasiswa Ciputra, hingga dukungan masif dari pemerintah adalah wujud nyata gotong royong modern. “Griya Kriya Topeng Ramah Difabel hadir bukan hanya sekadar sebagai tempat berlatih, namun juga sebagai rumah tempat mimpi-mimpi anak difabel diberi ruang untuk tumbuh dan bersinar,” pungkasnya.

Di sudut Kota Malang itu, di atas selembar kain sampur, 15 anak difabel sedang menulis kisah mereka sendiri — satu goresan malam panas pada satu waktu. [**]

SYARIF WAJA BAE. Seniman sekaligus jurnalis kelahiran Ende, Flores, NTT, tinggal di Surabaya, Jawa Timur.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
LAINNYA