x

Etika Politik Kaum Tertindas

waktu baca 5 minutes
Sabtu, 9 Mei 2026 17:47 0 144 admin

SAAT Ali Khamenei meninggal pada 28 Februari 2026 silam akibat rangkaian serangan militer yang dilakukan Amerika-Israel, alih-alih menyerah dan pasrah, bangsa Iran justru bangkit dan melawan. Sebuah perlawanan inspiratif yang dilandasi satu etika bernama Kesyahidan.
Kesyahidan adalah etika mayor bangsa Iran. Ia telah menjadi mindset dan akar kebudayaan yang tidak tergoyahkan: tidak oleh siasat licik Benyamin Netanyahu dan Donald Trump. Tidak oleh tekanan politik picik, maupun intimidasi militeristik.

Begitulah, meskipun istilah syahid atau kesyahidan itu merupakan doktrin lawas yang lebih pasif maknanya, toh ia mampu dihidupkan kembali dan diberi makna yang lebih aktif dan menyala oleh Imam Khomeini, Muhammad Baqir al-Sadr, dan Muhammad Huseyn Fadlallah. Bahkan konsep kesyahidan itu naik level dari sekadar urusan teologis menjadi bagian dari ideologi negara Iran.

Maka dari itu, syahid atau kesyahidan adalah salah satu nilai yang tak bisa ditawar-tawar lagi bagi negara pemeluk Syiah dan penganut sistem politik Wilayatul Faqih ini. Mati syahid bukanlah tujuan utama, sebab tujuan utamanya adalah kemenangan dan tak terkalahkan (Undefeated). Singkatnya, mati syahid adalah konsekuensi dari laku perjuangan.

Budaya kesyahidan yang khas dari manusia Iran ini tentu saja lahir dari peristiwa Karbala yang terjadi pada 680 Masehi, yaitu peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib oleh tentara Yazid bin Muawiyah dari Dinasti Umayyah. Husein adalah personifikasi dari major ethic code (kode etik utama) dalam doktrin kesyahidan. Husein adalah model utama kesyahidan dan disebut sebagai bapaknya kesyahidan atau Al-Sayyid Al-Suhada.

Peristiwa pembunuhan terhadap Husein itu kemudian dijadikan bagian dari narasi besar lahirnya kelompok islam Syiah dan menjadi salah satu doktrin terpenting dalam kelompok keagamaan ini. Ia adalah pembeda utama dari kelompok keagamaan lainnya. Istilah Syahid tetap ada, misalnya, dalam kacamata Sunni, tetapi mereka mungkin lebih akrab dengan istilah Jihad yang mengandung ethic code yang berbeda, tapi yang jelas adalah Sunni tidak mengakui adanya konsep Imamiyah (dua belas imam) seperti di dalam keyakinan Syiah.

Kita semua tahu, bahwa meninggalnya Husein bin Ali bin Abi Thalib selalu diperingati setiap tahun pada 10 Muharam dalam tradisi ’Asyura. Tradisi atas peringatan peristiwa itu merupakan momen refleksi dan perlawanan terhadap kezaliman. Pada peringatan itu dilakukan berbagai ritual dengan tema: meratap dan melawan. Bayangkanlah, meratap tetapi melawan, dan ini dilakukan berulang-ulang, bersama-sama (berjamaah), selama bertahun-tahun.

Meratap, kita tahu, adalah kerja emosi/afeksi, sementara itu melawan adalah kerja pikiran/kognisi sekaligus kerja fisik/motorik. Meratap dan melawan yang dilakukan secara berulang-ulang itulah yang telah melahirkan manusia Iran hari ini, terutama sekali sejak atau setelah meletusnya Revolusi Iran (salah satu peristiwa penting bagi umat Islam di abad ke-20) yang terjadi pada 1979 di bawah bimbingan Ayatullah Agung Ruhollah Khomaeni; sebuah revolusi yang berhasil menumbangkan rezim Shah Mohamad Reza Pahlavi dan mengubah Iran menjadi Republik Islam.

Sungguh, sebuah revolusi yang hebatnya bukan main. Dan sejak revolusi itu, lambat-laun, sadar atau tidak sadar, di bawah kendali kapitalisme global, jilbab diproduksi besar-besaran hingga sampai ke wilayah Indonesia, termasuk ke provinsi Lampung.

Negara lain selain Iran yang dibanjiri jilbab, lantaran tanpa landasan ideologi kesyahidan sebagai etika dan politik berkehidupan dan berperikemanusiaan, maka hanya menjadi konsumen aktif tanpa tahu apa-apa tentang dramaturgi Revolusi Iran itu. Tampaknya, fenomena tak mau tahu alias cuek ini menjangkiti manusia zaman sekarang, yaitu menerima semua fenomena tanpa keinginan dan kemampuan untuk memahaminya lebih dalam. Inilah salah satu dehumanisasi di abad ini: di mana kemampuan verstehen (memahami) tidak dimiliki sama sekali.

Untuk konteks ini, baiklah kiranya kita membaca dan memahami bacaan dengan cara membeli buku Seni Memahami karya F. Budi Hardiman atau menghayati berulang-ulang peristiwa di Gua Hira saat Nabi Muhammad mendengar kata Iqra (Bacalah!) dari Malaikat Jibril. Baca. Baca. Baca. Tidak harus banyak membaca, tetapi pahamilah bagaimana caranya memahami bacaan atau kenyataan.

Lain dari itu, jika menyitat istilah kaum kanan, yakini kaumnya para tiran, kelompok tertindas yang memegang teguh kesyahidan itu pastilah dianggap aneh karena mengambil langkah yang tak terduga dan bersikap di luar aturan. Mereka tak bisa diharapkan untuk selalu berperilaku seperti negara kebanyakan, patuh mengikuti permainan pasar dan politik internasional. Mereka tak takut dimusuhi, diembargo, dipersekusi, dan itulah sejatinya watak kaum kiri. Mereka tak ragu-ragu menutup Selat Hormuz yang memegang kendali penting perminyakan dunia. Itulah yang dilakukan Iran, meskipun mereka sadar bahwa kekuatan mereka tak sebesar gabungan kekuatan Amerika dan Israel.

Terlepas dari ideologi Syiah, manusia di negara lain, dalam hal ini manusia Indonesia, pentinglah juga kiranya meniru spirit perlawanan yang dipegang teguh manusia Iran itu. Jangan diam saja ketika ada yang tak beres dalam negara kita. Jangan cuek bebek melihat kesenjangan jarak antara peraturan dan kenyataan. Tugas kitalah sebagai warga negara memperpendek jarak antara kebijakan negara dengan kenyataan itu. Gelisahlah, bertanyalah, dan bergeraklah; maka Insya Allah kita tidak akan masuk dalam daftar panjang para pengecut yang munafik dan hipokrit di tanah Indonesia tercinta ini.

Demikianlah. Ali Khamenei memang telah meninggal dan manusia memang pasti akan meninggal, tapi kemanusiaan (termasuk budaya kesyahidan yang dianut oleh Iran) tidak akan hilang dimakan zaman. Renungkan sebelum Allahu Akbar kita teriakkan!
***

YULIZAR LUBAY. Fiksionis, aktor teater, dan pengasuh teater di UKMF KSS FKIP Unila.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mei 2026
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
LAINNYA