x

Matt Pedom Mendadak Kebelet Ber*k Gara-Gara Debat Soal eMBeG?

waktu baca 4 minutes
Jumat, 24 Apr 2026 13:06 0 133 admin

Oleh: Anton Kurniawan

WOYY dugug! Keras suara Matt Pedom membelah riuh ruang tamu mewah rumah Mul Sangkut. Dia betul-betul kaget saat Man Spatbor menepuk bahunya dengan cukup kuat, padahal dia lagi asyik-asyiknya nyabutin bulu idung sambil ngupil dengan mata setengah merem.

Orang-orang yang ada di ruangan itu, yang sedang serius mendengarkan Mul Sangkut ngoceh perihal eMBeG, langsung menoleh padanya. Wajah Matt Pedom merona, lalu mesem-mesem.

“Maaf, ikam tekanjat,” ucap Matt dengan suara berat, sambil masih nahan kantuk yang sejak tadi usil mengusiknya, secara refleks telunjuknya kembali bergerak memburu upil yang tadi belum berhasil dia ambil.

“Itu kamu ditanya sama Suttan Sangkut. Kamu mau di bagian apa? ucap Udin spiker dengan suara kerasnya yang khas.

“Bagian apa, apanya?”
Ucap Matt Pedom seperti linglung, sebab sejak tadi dia tidak terlalu menyimak apa yang disampaikan Mul Sangkut, kontaktor dan broker proyek nomor wahid di Umbul Timput, yang konon banyak sangkutan itu.

“Lah kok nanya apa. Dari tadi kamu diem di situ ngapain? Lepas suara Mul Sangkut yang kali ini sengaja mengundang warga untuk diajak bergabung menjadi pekerja di Kelompok Kuah Pindang, nama dapur eMBeG yang akan dia kelola.

“Bapak dan Ibu semua sesuai instruksi Presiden Republik Kocok Bekem, di kampung kita ini, Umbul Timput, segera akan punya dapur eMBeG (eMang Bebagi Gizi?). Jadi nantinya kita akan masak guwai seunyinni anak sekolah di sini. Nah, nanti kamu orang yang kerja di sini digaji,” ujar Mul Sangkut.

“Saya ikut,” Minan Sebik langsung merespons cepat

“Saya juga ikut,” suara Man Spatbor yang cempreng terdengar.

“Saya juga,” timpal Udin Spiker dan Dul Selimpok nyaris bersamaan.

Semua begitu bersemangat sambil membayangkan gaji pertama yang bakal mereka terima.

“Jadi kamu gimana Matt,” tanya Sangkut pada Matt Pedom seperti butuh penegasan sebab Matt Pedom terlihat tetap cuek dan santai.

“Saya belum ngerti program ini Suttan. Pernah denger dikit di tivi dan baca-baca di ‘mesos’, Jaringan Pemantau Pendidikan (JPP) Umbul Timput nyebut sejak 2025 hingga awal 2026 tercatat 21.254 anak sekolah yang keracunan. Cuma ya, saya juga nggak tahu persis gimana? ungkap Matt kalem.

“Jadi gini, saya kasih tahu. Presiden Republik Kocok Bekem ini punya program ngasih makan siang bergizi gratis untuk anak-anak sekolah. Jadi di daerah-daerah dibuat dapur untuk masak. Termasuk saya sudah buat, nama dapurnya Kelompok Kuah Pindang. Nanti kita masak. Kalau sudah matang, masakan tersebut dikemas di ompreng, kita anter ke sekolah dan dibagikan ke anak-anak.

Nggak, maksud saya gini Suttan Sangkut. Anak sekolah di tempat kita ini kan melamon. Nayah. Ada ribuan. Nah gimana kita mau masaknya. Apa iya itu, makanannya masih bagus waktu mau dimakan? Jangan-jangan malah mereka keracunan,” ujar Matt Pedom bingsal. Kantuknya mulai hilang.

“Inikan program dari atas Matt,” ucap Sangkut yang juga mulai terpancing emosi.

Gini Suttan, yang saya bingung kenapa harus bangun dapur, kenapa harus masak ribuan porsi banyaknya, kenapa kok jadi serepot itu. Kan bisa tinggal undang semua pemilik kantin sekolah dan warga di sekitar sekolah. Kasih mereka panduan, awasi dengan baik, diajari masak yang bener, tentukan menunya. Kalau perlu siapkan chef untuk buat resepnya. Satu kantin atau warga, misalnya kasih jatah 50 sampai 100 porsi. Kan beres,” cetus Matt Pedom mulai panas.

“Matt! Tahu apa kamu soal eMBeG ini. Coba kamu dengerin. Bayangin sama kamu, kalau kita yang kelola, kamu dapat duit saya dapat duit. Nanti kamu saya angkat jadi manajer atau wakil saya. Coba kamu hitung berapa untung kita per hari. Kamu kalau nggak paham nggak usah ngomong,” keras suara Mul Sangkut.

“Saya sepakat sama Suttan,” kata Minan Sebik centil. Bibirnya yang merah cabe sebab dipulas gincu makin merekah. Dia mulai membayangkan gaji pertamanya yang akan dia belikan celana lejing dan baju strict warna belang macan.

Udin Spiker yang diplot sebagai sekuriti juga tak kalah semangat. Dia mulai membayangkan akan membeli speaker aktif untuk karaoke bareng minan Ncess, yang baru tiga bulan jadi pacarnya.

Matt Pedom diam. Hatinya beku membayangkan anak-anak dan masyarakat Umbul Timput yang begitu polos dan naif. Bayangan Mul Sangkut ngitung duit berkelebat cepat. Perutnya tiba-tiba sakit dan mual. Dia mendadak kebelet ber*k.

Buru-buru dia pamit. Sisa upil yang tak sempat ia bersihkan masih menempel di ujung jarinya saat menyalami Mul Sangkut sebelum meninggalkan rumah megah itu. Di langit, mendung begitu tebal. [***]

Anton Kurniawan. Masyarakat biasa, tinggal di Bandar Lampung

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
LAINNYA