x

‎Peluncuran ‘The History of Way Tuba Airstrip’, Merawat Jejak Sejarah di Way Kanan Dihadiri Pangdam XXI/RI dan Danrem 043/Gatam ‎ ‎

waktu baca 4 minutes
Rabu, 31 Des 2025 20:03 0 561 admin

‎Way Kanan (LB): Di bawah langit Way Tuba yang sarat jejak pengabdian, sebuah buku “The History of Way Tuba Airstrip” diluncurkan. Buku ini bukan sekadar sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai penanda ingatan kolektif.

‎Peluncuran buku ini dihadiri para tokoh nasional, di antaranya Panglima Kodam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi dan Komandan Korem 043/Garuda Hitam (Gatam) Brigjen TNI Haryantana. Peluncuran buku The History of Way Tuba Airstrip digelar di Lanudad Gatot Subroto, Kecamatan Way Tuba, Kabupaten Way Kanan, Rabu (31/12/2025).

‎Buku tersebut merekam kisah lahir dan perjalanan Way Tuba Airstrip—sebuah landasan yang tak hanya menjadi infrastruktur pertahanan negara, tapi juga simpul strategis yang menghubungkan harapan masyarakat Lampung dan sekitarnya. Peluncuran berlangsung khidmat, seolah mengajak para hadirin menoleh ke masa lalu untuk memahami arah masa depan.

‎Acara ini dihadiri sang penulis yang juga tokoh nasional Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. A.M. Hendropriyono, S.T., S.H., M.H. didampingi Ny. Taty Hendropriyono. Turut hadir sejumlah purnawirawan TNI dan tokoh nasional, di antaranya Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa bersama Ny. Hetty Hendropriyono Perkasa, Mayjen TNI (Purn) Bachtiar bersama Ny. Iin Bachtiar, Dr. Budi Karya Sumadi, serta Mayjen TNI (Purn) Y.B. Wirawan. Hadir pula unsur Forkopimda, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat setempat.

‎Dalam sambutannya, Hendropriyono menuturkan buku ini lahir dari pengalaman personal yang menyatu dengan denyut kehidupan Way Tuba. Menurutnya, sejarah tidak semata berbicara tentang pembangunan fisik, tapi juga tentang manusia, kebersamaan, dan pengabdian.


‎“Buku ini adalah pengingat akan nilai perjuangan dan semangat gotong royong masyarakat Way Kanan. Banyak kisah di dalamnya, lahir dari ingatan saya ketika pernah bertugas di tempat ini,” ujarnya.

‎Ia berharap buku tersebut dapat menjadi suluh bagi generasi muda—membantu memahami masa lalu sekaligus menumbuhkan keberanian untuk berkarya demi masa depan bangsa.

‎”Saya kadung cinta kepada saudara-saudara dan Air Strip ini,” ungkap AM Hendropriyono.

‎Kehadiran mantan Kepala BIN dan rombongan, disambut antusias masyarakat dan pejabat setempat termasuk Wakil Gubernur Lampung, Pangdam XXI/RI, Danpuspenerbad, Danrem 043/Gatam, Wali Kota Bandar Lampung serta pejabat lainnya.

‎AM Hendropriyono berpesan agar Lanud Gatot Subroto ini dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat Lampung dan sekitarnya.

‎”Kita terus berusaha manfaatkan Air Strip ini, dikelola dan dioperasikan sebagai Lanudad,” pungkasnya.


‎Seperti diketahui Lanud Gatot Subroto ditemukan oleh pasukan Korem Garuda Hitam Lampung, yang saat itu dipimpin Kolonel Inf. AM Hendropriyono, sewaktu menjabat Danrem 043/Gatam pada 1989.

‎Sebagai Komandan Korem Garuda Hitam, AM Hendropriyono dan pasukannya kala itu mencari sisa-sisa kelompok teroris Warsidi, yang berafiliasi dengan Negara Islam Indonesia (NII).

‎”Lanud Gatot Subroto ini dulu namanya lapangan terbang Way Tuba atau Way Tuba Air Strip,” ungkap AM Hendropriyono.

‎Sementara itu, Pangdam XXI/Radin Inten Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi, mengucap syukur dan atas kedatangan Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. A.M Hendropriyono, yang merupakan salah satu idola dan panutan Pangdam XXI/RI.

‎Pangdam juga menyampaikan Makodam XXI/Radin Inten saat ini dalam tahap pembangunan, dengan harapan semoga bangunan tersebut cepat selesai dan berjalan dengan lancar, demikian juga halnya Batalyon YTP masih dalam tahap pembangunan.

‎”Kami selaku anak dan juga junior mohon arahan dan bimbingan dalam melaksanakan tugas ini agar berjalan dengan baik dan lancar seperti yang kita inginkan dan harapkan,” tutupnya.

‎Pada kesempatan yang sama, Danrem 043/Gatam Brigjen Haryantana mengapresiasi atas peluncuran buku tersebut. Menurutnya, penulisan sejarah merupakan cara bangsa menjaga api ingatan agar tidak padam oleh waktu.

‎“Buku ini bukan hanya penting bagi TNI, tetapi juga bagi masyarakat Way Kanan. Ia mengingatkan kita bahwa setiap aset strategis memiliki cerita, pengorbanan, dan nilai yang patut dijaga,” kata Haryantana.

‎Acara ditutup dengan penyerahan buku secara simbolis dan foto bersama—menandai sejarah Way Tuba kini tidak hanya hidup dalam kenangan, tetapi juga terawat dalam tulisan, siap diwariskan kepada generasi mendatang. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA