oleh

Artikel dan Opini// Sastra dan Teater Sebagai Media Pembentuk Karakter Peserta Didik

DI era digitalisasi saat ini pendidikan karakter menjadi semakin penting dalam kehidupan manusia sehari-hari. Gempuran beragam budaya dan berbagai hal negatif dari seluruh belahan dunia yang mengancam lewat handphone di genggaman menjadi ancaman nyata bagi generasi muda kita. Oleh sebab itu, kini pendidikan karakter memiliki ruang khusus dalam pendidikan kita.

Kondisi inilah yang pada akhirnya menjadikan frasa “pendidikan karakter” menggema dalam kurikulum pendidikan di sekolah kita.

Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Karakter didefinisikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, tabiat, watak, akhlak atau budi pekerti yang membedakan manusia satu dengan yang lain. Jadi bisa dikatakan, orang yang berkarakter berarti orang yang mempunyai kepribadian. Dapat kita bayangkan bagaimana seseorang yang tidak mempunyai karakter.

Berkaitan dengan pemahaman pendidikan karakter ini, pendiri sekaligus Direktur Emeritus Pusat Kemajuan Etika dan Karakter di Universitas Boston, Kevin Albert Ryan, dan Karen Bohlin berpendapat karakter berkaitan dengan kecenderungan seseorang.

Menurutnya, karakter merupakan sebuah pola perilaku sehingga karakter yang baik akan paham mengenai kebaikan serta mengerjakan sesuatu yang baik pula, begitupun sebaliknya.

Sedangkan Thomas Lickona lewat bukunya “The Return of ChaEducation” mengatakan pendidikan karakter mencakup tiga unsur pokok, yaitu:
1. Mengetahui kebaikan (knowing the good)
2. Mencintai kebaikan (desiring the good)
3. Melakukan kebaikan (doing the good).

Sementara itu, Maragustam Siregar menyebut Pendidikan Karakter sebagai mengukir dan mempatrikan nilai-nilai ke dalam diri peserta didik melalui pendidikan, endapan pengalaman, pembiasaan, aturan dan rekayasa lingkungan, dan pengorbanan yang dipadukan dengan nilai-nilai intrinsik yang sudah ada dalam diri peserta didik sebagai landasan dalam berpikir, bersikap dan prilaku secara sadar dan bebas. (Maragustam Siregar, 2015: 245).

Berdasarkan berbagai referensi dan analisis serta definisi para ahli ini, bisa disimpulkan pendidikan karakter merupakan sebuah proses menanamkan budi pekerti nilai-nilai kebaikan melalui pengalaman, melalui pembiasaan serta melalui rekayasa lingkungan untuk menciptakan karakteristik kebaikan pada diri seseorang yang pada akhirnya bisa mengetahui, mencintai dan melakukan kebaikan.

Sesuai dengan kesimpulan tersebut, saya melakukan kapitalisasi pada kata “Proses” sebagai kata kunci. Ini berarti pembentukan karakter tidaklah serta merta, tapi membutuhkan proses, membutuhkan waktu, hingga pada akhirnya menjadi (punya karakter).

Sastra dan Teater Membentuk Karakter

Dalam sejarah Bangsa ini, peran sastra dan teater (drama) sangat penting untuk mengobarkan semangat para pejuang dalam merebut kemerdekaan. Di masa perjuangan merebut kemerdekaan, banyak seniman; penyair, pelukis, dramawan, juga pencipta lagu yang memegang peranan penting lewat karya-karya dan slogan-slogan yang bernilai sastrawi, sebut saja slogan Merdeka Atau Mati, Sekali Layar Terkembang Surut Kita Berpantang, Sekali Merdeka Tetap Merdeka dll.

Dalam masa perjuangan, para seniman juga turut berjasa menanamkan semangat kepada para pejuang, sebut saja misalnya Chairil Anwar lewat karya-karya puisinya, WR Soepratman lewat lagu ciptaannya, juga Bung Tomo lewat pidatonya yang mampu membakar semangat. Mereka semua adalah seniman.

Bahkan Putra Sang Fajar Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno, juga menulis naskah drama dan mementaskannya untuk membakar semangat para pejuang dalam mengusir penjajah. Jadi jelas, sejak masa perjuangan merebut kemerdekaan, sastra dan teater sudah memiliki peran sangat penting dalam perjalanan Bangsa ini.

Lalu bagaimana peran sastra dan teater di sekolah dalam membentuk karakter peserta didik?

Jika hal ini dikaitkan dengan proses kegiatan Ekstrakurikuler di sekolah, khususnya Sastra dan Teater, bisa dikatakan sastra dan teater mampu memberi garansi untuk membentuk karakter peserta didik yang menekuni dua tangkai seni ini, dengan catatan prosesnya dilakukan dengan benar.

Berdasarkan pengalaman di sekolah tempat saya mengajar, yakni SMK 2 MEI Bandar Lampung, peserta didik yang tergabung di sanggar teater dan belajar mengenal serta menyelami karya sastra dengan menjalani proses secara sungguh-sungguh, mereka terbentuk menjadi pribadi yang berani menyampaikan pendapat di muka umum, tidak gampang menyerah, memiliki jiwa korsa dan militansi yang tinggi serta dan punya kecenderungan memiliki mental dan jiwa yang sehat.

Selain itu, terbukti siswa yang aktif berteater sanggup dan berani berkompetisi dan lolos dalam perebutan kursi perguruan tinggi favorit bersaing dengan siswa-siswa dari berbagai sekolah favorit lainnya.

Yang lebih utama, para siswa yang menekuni sastra dan teater dan berproses dengan benar, secara umum punya kecenderungan memiliki rasa empati yang tinggi terhadap lingkungannya.

Sangat mungkin, kecenderungan ini timbul dari kebiasaan dalam ekstrakulikuler teater yang mewajibkan disiplin tinggi saat berlatih, baik latihan fisik, latihan pernapasan, maupun latihan olah vokal, yang biasanya sudah ditetapkan jadwalnya dan para siswa wajib patuh pada jadwal yang sudah ditentukan.

Kedisiplinan yang tinggi ini pada akhirnya membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi yang ‘dipaksa’ untuk bertanggung jawab yang pada akhir menjadi sebuah kebiasaan baik.

Selanjutnya, para anggota sanggar tetar yang telah ditunjuk untuk berperan dalam salah satu naskah, harus pula menghapal naskah yang diperankan. Tentu ini bukan sebuah pekerjaan ringan, dibutuhkan keberanian, ketekunan dan kecakapan serta mental yang kuat agar mampu menghapal naskah dan kemudian pentas di atas panggung.

Satu hal lagi, naskah teater biasanya diperankan oleh banyak tokoh. Masing-masing tokoh saling berkait sehingga harus saling mendukung. Di sinilah peran gotong royong, kebersamaan diutamakan.

Jadi bisa disimpulkan melalui ekstrakurikuler sastra dan teater, karakter siswa bisa dibentuk. Melalui teater, tiga unsur pokok pendidikan karakter seperti disebutkan Thomas Lickona bisa dilakukan, yaitu mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, dan melakukan kebaikan. Salam.

MARITA SARI, S.Pd. Guru Bahasa Indonesia dan Pembina Sanggar di SMK 2 MEI Bandar Lampung.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *