BANDAR LAMPUNG (lampungbarometer.id): Pakar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) Dr. Asrian Hendi Caya, S.E., M.Si. memberikan tanggapan terkait indeks pembangunan manusia (IPM) Provinsi Lampung yang menduduki peringkat terendah di Sumatera.
Dia menjelaskan indikator IPM itu majemuk yang terdiri dari aspek pendidikan, aspek kesehatan dan aspek ekonomi. Untuk Provinsi Lampung, kata dia, dari aspek-aspek tersebut yang sudah bagus adalah aspek kesehatan sedangkan yang paling rendah adalah aspek pendidikan.
Dari aspek ekonomi, akademisi Unila ini menyinggung mayoritas penduduk Lampung yang berprofesi petani. Hal ini berkaitan dengan harga jual komoditas pertanian dan kemampuan daya beli masyarakat.
“Dari aspek ekonomi, indeks merupakan kemampuan daya beli yaitu antara harga dan pendapatan masyarakat. Harus ada upaya terus menerus meningkatkan produktivitas hasil pertanian, karena dengan meningkatnya produktivitas maka akan meningkatkan pendapatan,” ucap Asrian.
Kedua, kata dia, meningkatkan pendapatan. Caranya dengan meningkatkan produktivitas karena kita tahu saat ini rata-rata produktivitas petani untuk komoditas kopi hanya 7 kuintal atau kurang dari 1 ton per hektar per tahun walaupun di beberapa daerah seperti Lampung Barat produksi kopi bisa mencapai 2 ton per tahun.
“Tentu saja diperlukan trik dan strategi, salah satunya dengan cara memilih bibit yang unggul dan dosis pemakaian pupuk yang tepat. Selain itu, juga diperlukan Penyuluh Pertanian yang saat ini jumlahnya sangat sedikit,” ungkap Asrian.
Dari sisi harga jual hasil panen petani, pakar ekonomi ini menilai, pemerintah harus mengambil langkah-langkah melindungi pasar karena pertanian sifatnya musiman. Setiap musim panen maka produk hasil pertanian akan berlimpah sehingga harga jual akan rendah.
“Hukum ekonomi sudah jelas, jika jumlah barang banyak maka harga jual akan turun,” katanya.
Menurut dia, sebetulnya pemerintah sudah mengambil langkah penanganan tapi belum maksimal, di antaranya program resi gudang, yakni menunda penjualan hasil panen sampai harga stabil atau lebih tinggi.
“Tapi ini belum berjalan sesuai harapan, banyak tantangan yang harus diselesaikan. Salah satunya masih banyak petani yang hanya sebagai penggarap dan bukan pemilik lahan sehingga tidak bisa menentukan waktu jual hasil panen. Tantangan kedua adalah mereka sudah ditunggu hutang pinjaman yang harus segera dilunasi,” katanya.
Menurut Asrian, dalam metode resi gudang, antara panen dan bagaimana mengatasi kebutuhan sebelum panen harus terintegrasi. Oleh sebab itu pemerintah harus melakukan pembinaan terhadap petani dari sisi pasar. Jadi pasarnya harus diperkuat, tujuannya adalah agar petani bisa mendapatkan harga terbaik.
“Jadi bagaimana pemerintah bisa menunda petani menjual hasil panennya saat panen tiba, tapi di sisi lain petani tidak akan siap menunda menjual hasil panennya karena kebutuhan yang mendesak,” ujarnya.
Selanjutnya, ujar dia, pemerintah harus mampu mendorong tumbuhnya UMKM yang mendukung produksi petani sehingga petani tidak lagi menjual bahan baku mentah tapi produk yang sudah diolah dan dikembangkan sehingga harganya menjadi lebih tinggi.
“Misalnya kopi, saat ini banyak cafe dan tempat nongkrong yang menjajakan kopi. Nah petani tidak lagi menjual bahan mentah, tapi kopi yang sudah diolah sehingga harganya lebih mahal. Kalau semua petani sejahtera otomatis IPM kita tinggi,” ujarnya. (Herdi/AK)
Tidak ada komentar