x

‘Pedagogy of the Oppressed’ Replikasi Pendidikan Saum Ramadan

waktu baca 5 minutes
Selasa, 17 Mar 2026 05:44 0 554 admin

Oleh: Syafaruddin*

DALAM perspektif Pedagogy of The Oppressed, pendidikan tidak boleh menjadi sistem yang menekan manusia. Freire mengkritik model pendidikan yang ia sebut “banking education”, yaitu pendidikan yang hanya menuntut murid menerima aturan dan kewajiban tanpa memahami realitas sosial mereka.

Jika seorang anak merasa putus asa hanya karena tidak memiliki buku, itu menandakan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang dialog dan empati, tetapi masih menjadi ruang tuntutan. Para sosiolog bahkan menilai tragedi seperti ini berkaitan dengan ketimpangan sosial dan kegagalan sistem dalam melindungi anak-anak dari tekanan struktural.

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang memerdekakan, bukan tempat yang membuat anak merasa gagal hanya karena kemiskinan. Kematian seorang anak karena buku tulis adalah alarm moral bagi bangsa. Ia mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak hanya soal jalan tol, gedung, atau angka pertumbuhan ekonomi. Pembangunan sejati adalah ketika anak-anak dapat belajar tanpa rasa takut, tanpa beban kemiskinan, dan tanpa kehilangan harapan.

Ramadan seharusnya menjadi momentum bagi negara, masyarakat, dan sekolah untuk kembali pada nilai dasar kemanusiaan: ilmu harus membebaskan, dan agama harus menghadirkan kasih sayang.

Menariknya, nilai pembebasan yang dibicarakan Freire memiliki kemiripan dengan filosofi spiritual dalam bulan Ramadan. Dalam Islam, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa adalah pendidikan moral dan sosial yang melatih manusia untuk memahami penderitaan orang lain.

Puasa mengajarkan bahwa rasa lapar bukan sekadar pengalaman biologis, tetapi pengalaman sosial. Ketika seseorang menahan lapar dari subuh hingga magrib, ia sedang diajak memahami kondisi mereka yang setiap hari hidup dalam keterbatasan. Dalam konteks ini, Ramadan dapat dipahami sebagai “pedagogi empati”.

Jika Freire berbicara tentang kesadaran kritis (critical consciousness), maka puasa sebenarnya mendorong hal yang sama: manusia diajak merenungkan ketidakadilan sosial dan memperbaikinya melalui solidaritas. Itulah sebabnya Ramadan selalu disertai dengan praktik sosial seperti zakat, infak, dan sedekah.

Dengan kata lain, jika pendidikan menurut Freire bertujuan membebaskan manusia dari penindasan struktural, maka Ramadan mengajarkan pembebasan dari egoisme dan ketidakpedulian sosial.

Sayangnya, dalam praktik kehidupan sehari-hari, nilai-nilai ini sering tidak sepenuhnya terwujud. Puasa kadang berhenti pada ritual pribadi, sementara ketimpangan sosial tetap dibiarkan. Freire mungkin akan mengatakan bahwa tanpa kesadaran kritis, bahkan praktik yang suci sekalipun bisa kehilangan daya transformasinya.

Di sinilah relevansi dialog antara pemikiran Freire dan spirit Ramadan. Keduanya sama-sama mengingatkan manusia tidak boleh hidup dalam ketidakpedulian. Pendidikan harus melahirkan kesadaran sosial, dan agama harus melahirkan solidaritas kemanusiaan.

Jika dua nilai ini bertemu—pendidikan yang membebaskan dan spiritualitas yang peduli—maka masyarakat yang adil bukan sekadar ideal, tetapi kemungkinan nyata.

Karena sebuah bangsa sebenarnya sedang gagal, jika seorang anak merasa hidupnya tidak lebih berharga daripada sebuah buku tulis.

Oleh karena itu, pendidikan seharusnya menjadi ruang harapan. Namun kadang kenyataan di lapangan terasa seperti pepatah lama: sekolah ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi ada anak yang bahkan belum sempat membeli buku tulisnya.

Tragedi seorang anak yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku adalah luka sosial yang tidak boleh dianggap sekadar berita harian. Ia adalah alarm keras bagi dunia pendidikan dan keadilan sosial kita. Di sinilah pemikiran Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed terasa relevan. Freire mengkritik model pendidikan yang hanya menuntut murid menerima aturan tanpa memahami realitas hidup mereka.

Pendidikan yang hanya memberi perintah tanpa empati, dalam istilah Freire, cenderung berubah menjadi “pendidikan gaya bank”: murid dianggap seperti rekening kosong yang harus diisi, sementara kondisi hidup mereka di luar kelas sering diabaikan.

Padahal pendidikan seharusnya bukan sekadar soal buku, seragam, dan tugas rumah. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Jika seorang anak merasa masa depannya runtuh hanya karena tidak memiliki buku tulis, maka yang perlu kita evaluasi bukan hanya ekonomi keluarga, tetapi juga sensitivitas sistem pendidikan kita.

Dalam tradisi Islam, puasa bukan hanya latihan menahan lapar dan haus. Puasa adalah pendidikan empati. Orang yang berpuasa diajak merasakan bagaimana rasanya lapar seperti orang miskin. Bedanya hanya satu: orang yang berpuasa tahu kapan waktu berbukanya, sementara orang miskin sering tidak tahu kapan dapurnya bisa kembali mengepul.

Di sinilah guyon pahit kehidupan kadang terasa: kita sibuk berburu takjil yang menunya lima macam, tetapi masih ada anak yang bingung membeli buku tulis yang harganya bahkan lebih murah dari segelas es buah.

Pesan sosial puasa sebenarnya sangat jelas. Ramadan mengajarkan bahwa keberagamaan tidak cukup berhenti pada ritual pribadi. Ia harus melahirkan solidaritas sosial. Dalam Islam bahkan ada mekanisme konkret seperti zakat, sedekah, dan infak yang secara filosofis bertujuan mengurangi kesenjangan sosial.

Dalam perspektif pendidikan kritis ala Freire, solidaritas sosial ini penting agar pendidikan tidak menjadi alat reproduksi ketimpangan. Pendidikan yang sehat harus mampu melihat realitas sosial peserta didiknya. Guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi juga pendamping kemanusiaan.

Kalau boleh sedikit guyon, kadang sekolah kita terlalu serius dengan administrasi, sampai-sampai anak yang lupa membawa buku bisa dianggap pelanggaran besar, sementara sistem yang membuat anak miskin kesulitan belajar dianggap hal biasa.
Padahal inti pendidikan sangat sederhana: membuat anak tetap punya harapan.

Ramadan seharusnya menjadi momentum refleksi. Negara, sekolah, dan masyarakat perlu memastikan tidak ada anak yang merasa masa depannya terhenti hanya karena hal-hal kecil seperti buku tulis atau alat tulis. Jika pendidikan adalah jalan menuju masa depan, maka tugas kita bersama adalah memastikan jalan itu tidak tertutup oleh kemiskinan. [**]

*SYAFARUDDIN. Pemerhati pendidikan tinggal di Liwa, Lampung Barat

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maret 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
LAINNYA