x

Gubernur Siap Luncurkan Buku ‘Toponimi Bandarlampung’ dan ‘Toponimi Sumatra Bagian Selatan’

waktu baca 3 minutes
Selasa, 7 Okt 2025 07:23 0 478 admin

Bandar Lampung (LB): Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Launching Buku ‘Toponimi Bandarlampung’ dan ‘Toponimi Sumatra Bagian Selatan’ di Taman Budaya Lampung, Rabu (22/10).

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) IV Provinsi Lampung, yang berlangsung 21 hingga 26 Oktober 2025.

Acara pembukaan PKD IV dijadwalkan dibuka langsung Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, S.T., M.M., dengan menghadirkan berbagai agenda budaya, diskusi literasi, serta peluncuran karya ilmiah yang merekam jejak sejarah penamaan tempat di Lampung dan Sumatra bagian selatan.

Dua buku penting terbitan Akademi Lampung kerja bareng Pustaka LaBrak Bandar Lampung tentang toponimi tersebut ditulis Iwan Nurdaya Djafar dan Anshori Djausal, yang secara simbolis bakal menyerahkan buku karya mereka kepada Gubernur Lampung sebagai bentuk dedikasi terhadap pelestarian sejarah dan identitas kultural daerah.

Selain peluncuran buku, acara juga diisi bedah buku yang menghadirkan narasumber dan pembahas dari berbagai kalangan. Untuk buku Toponimi Bandarlampung, pembicara utama adalah Iwan Nurdaya Djafar (Penulis & Sekretaris Akademi Lampung) bersama pembahas Dedi Amrullah, wakil Wali Kota Bandar Lampung.

Sementara buku Toponimi Sumatra Bagian Selatan pembicara utama Anshori Djausal (Penulis & Ketua Akademi Lampung), dengan pembahas Maspriel Aries, jurnalis dan pegiat literasi, sedangkan moderator Dr. Khaidarmansyah, dosen IIB Darmajaya, anggota Akademi Lampung.

Toponimi: Ilmu tentang Nama dan Identitas

Toponimi, atau ilmu tentang asal-usul nama tempat, merupakan cabang dari onomastika—kajian ilmiah mengenai makna dan sejarah nama diri. Dalam konteks budaya Lampung, toponimi memiliki nilai penting karena mengungkap hubungan antara manusia, sejarah, dan lingkungan geografis yang mereka diami.

Buku Toponimi Bandarlampung menyajikan 14 bab pembahasan mendalam mengenai nama-nama tempat di Kota Bandar Lampung, baik yang bersifat alami seperti sungai, bukit, dan gunung, maupun buatan seperti kelurahan, perumahan, pasar, rumah ibadah, dan sekolah.

Penulis menelusuri makna di balik nama-nama lama yang nyaris terlupakan, termasuk kisah asal-usul wilayah Telukbetung yang telah menjadi pusat kehidupan sejak abad ke-17. Fakta sejarah menunjukkan Bandar Lampung telah berusia 343 tahun, dengan hari jadi yang ditetapkan pada 17 Juni 1682.

“Melalui pelacakan toponimi, kita tidak hanya membaca nama, tapi juga mendengar suara masa lalu,” ujar Iwan Nurdaya Djafar dalam sesi bedah buku.

“Buku ini berupaya menjembatani generasi kini dengan akar sejarah kotanya.”

Sementara itu, buku Toponimi Sumatra Bagian Selatan memperluas pembahasan hingga wilayah lain di luar Lampung, mengulas asal-usul nama dari berbagai daerah dengan pendekatan sejarah, linguistik, dan antropologi.

Pelestarian Bahasa dan Budaya Melalui Nama

Selain aspek historis, kedua buku ini juga menyoroti pentingnya menjaga penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam penamaan tempat. Para penulis mengingatkan maraknya penggunaan istilah asing dalam penamaan perumahan, pusat perbelanjaan, dan kawasan modern dapat menggerus identitas lokal.

“Bahasa adalah cermin kebudayaan. Menjaga nama-nama asli berarti menjaga jati diri kita,” kata Anshori Djausal, yang juga merupakan tokoh kebudayaan Lampung.

Acara peluncuran buku ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam menghidupkan kembali kesadaran sejarah dan memperkuat literasi kebudayaan di tengah arus globalisasi.

Dengan semangat yang sama, Pekan Kebudayaan Daerah IV Lampung menghadirkan berbagai kegiatan lain seperti pameran seni rupa, pertunjukan tradisional, lokakarya batik Lampung, dan forum kebudayaan lintas komunitas. (Christian)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA