Oleh: Syafaruddin*
SEKUGHA di dalam tulisan ini adalah tradisi turun temurun yang ada di bumi sekala beghak Lampung Barat, berupa topeng berbagai macam bentuk wajah.
Buah dalam tulisan ini adalah pohon Pinang, dalam sehari-hari masyarakat Indonesia mengenalnya dengan Panjat Pinang.
Jadi Sekugha Cakak Buah adalah orang bertopeng memanjat pinang diiringi berbagai macam lagu dan alat musik khas Lampung Barat. Kalau pendidikan hanya diukur dari nilai rapor, mungkin banyak anak kampung yang dianggap “kurang pintar”.
Tapi coba ajak mereka turun ke lapangan saat Sekugha Cakak Buah di Lampung Barat—jangan kaget, yang terlihat bukan anak-anak biasa. Mereka lincah, cepat membaca situasi, tahu kapan harus maju dan kapan mundur. Bahkan, tanpa sadar, mereka sedang menjalani proses belajar yang tidak kalah canggih dari teori pendidikan modern.
Di sinilah menariknya. Apa yang selama ini ditulis para ahli, seperti Jean Piaget dan Lev Vygotsky, ternyata sudah lama “dipraktikkan” oleh masyarakat kita—tanpa seminar, tanpa modul, tanpa kurikulum berlembar-lembar.
Belajar Tanpa Disuruh, Mengerti Tanpa Diceramahi
Sekugha Cakak Buah bukan sekadar tradisi berebut hadiah di atas pohon pinang. Di balik topeng dan keramaian itu, ada proses belajar yang alami. Anak-anak tidak duduk diam, tidak mencatat, tidak menghafal. Mereka bergerak, mengamati, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Kalau kata Piaget, ini namanya belajar dari pengalaman langsung.
Anak membangun pengetahuannya sendiri. Dalam istilah kerennya: konstruktivisme. Misalnya begini, seorang anak yang baru pertama ikut Sekugha mungkin hanya ikut-ikutan. Dia melihat orang lain berebut buah, lalu ikut lari tanpa strategi. Hasilnya? Ya zonk—tidak dapat apa-apa.
Tahun berikutnya, dia tidak lagi sekadar ikut. Dia mulai mengamati: “Kalau saya berdiri di sini, peluang dapat lebih besar.”
“Kalau saya terlalu maju, bisa terseret kerumunan.” Tanpa disadari, dia sedang belajar analisis situasi, pengambilan keputusan, bahkan manajemen risiko. Ini bukan pelajaran sederhana—ini skill hidup.
Guru Tanpa Gelar, Kelas Tanpa Dinding
Kalau Piaget bicara soal pengalaman, Vygotsky menambahkan satu hal penting: interaksi sosial. Di Sekugha, anak tidak belajar sendirian. Mereka belajar dari kakak, teman, bahkan orang tua. Ada yang memberi kode, ada yang memberi contoh, ada yang sekadar teriak: “Jangan di situ, ke kiri sedikit!”
Dalam teori Vygotsky, ini disebut Zona Perkembangan Proksimal—ruang di mana anak bisa berkembang dengan bantuan orang lain yang lebih paham.
Di kampung, konsep ini tidak pakai istilah rumit. Cukup dengan kalimat sederhana:
“Liatin dulu, baru ikut.”
Dan benar saja. Anak yang awalnya bingung, lama-lama jadi mahir. Dari penonton jadi pemain. Dari ikut-ikutan jadi punya strategi sendiri.
Lucunya, proses belajar seperti ini sering lebih melekat daripada pelajaran di kelas. Karena di sini, anak tidak hanya berpikir—tapi juga merasakan.
Di Sekugha tidak ada nilai, tidak ada ranking, tapi ada pengalaman. Dan pengalaman itu sulit dilupakan.
Anak belajar tentang: Batas (tidak boleh serakah), Kebersamaan (tidak semua harus menang sendiri) dan Etika (tetap sopan meskipun berebut). Hal-hal seperti ini sulit diajarkan hanya lewat buku. Harus dialami.
Bayangkan kalau nilai-nilai ini masuk ke kelas, mungkin suasana belajar tidak lagi kaku. Tidak lagi sekadar “yang penting selesai materi”. Ini bukan berarti sekolah tidak penting. Jangan salah paham. Sekolah tetap punya peran besar, tapi masalahnya, kadang sekolah terlalu jauh dari kehidupan nyata.
Di sinilah seharusnya ada jembatan. Pendidikan formal dan budaya lokal tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Harus saling melengkapi. Bayangkan kalau guru mulai mengaitkan pelajaran dengan tradisi seperti Sekugha:
– Pelajaran IPS → nilai sosial dalam budaya
– Bahasa Indonesia → menulis pengalaman ikut Sekugha
Kadang kita terlalu kagum pada konsep luar, sampai lupa di kampung sendiri ada “laboratorium pendidikan. Kadang lucu juga, di sekolah anak disuruh duduk diam supaya “fokus belajar”. Di Sekugha, anak lari-larian tapi justru belajar banyak hal.
Di sekolah: “Jangan ribut!” Beda dengan di Sekugha ributnya justru jadi pelajaran.”
Bukan berarti kelas harus jadi pasar malam, tapi mungkin kita perlu belajar sedikit dari cara masyarakat mendidik—lebih fleksibel, lebih manusiawi, dan lebih dekat dengan kehidupan.
Dari Lampung Barat untuk Pendidikan Indonesia
Sekugha Cakak Buah bukan sekadar warisan budaya. Ia adalah cermin pendidikan tidak harus selalu formal, tidak harus selalu kaku. Apa yang dikatakan oleh Piaget dan Vygotsky ternyata tidak jauh dari praktik masyarakat kita:
Tinggal sekarang, apakah kita mau mengakui dan memanfaatkannya? Karena bisa jadi, di tengah hiruk-pikuk pembaruan kurikulum, kita justru lupa: pendidikan terbaik kadang sudah ada di depan mata—di kampung, di tradisi, di kehidupan sehari-hari.
Sekugha adalah “pembelajaran mendalam”, kadang terasa berat dan terlalu akademik. Seolah-olah itu hanya ada di kampus atau seminar pendidikan, padahal kalau kita lihat lebih dekat, pembelajaran seperti itu sudah lama ada di kehidupan sehari-hari, salah satunya dalam tradisi Sekugha Cakak Buah di Lampung Barat.
Sekugha bukan cuma acara seru-seruan atau berebut buah. Di dalamnya, ada proses belajar yang lengkap. Anak-anak tidak hanya ikut, tapi juga berpikir, merasakan, dan bertindak. Inilah yang disebut pembelajaran mendalam—belajar yang benar-benar “masuk” ke diri seseorang.
Apa yang dipelajari di Sekugha tidak hilang begitu saja, tapi akan terus terbawa sampai dewasa.
Sekugha Cakak Buah mengajarkan kita bahwa belajar tidak harus selalu di dalam kelas. Belajar bisa terjadi di mana saja, selama anak ikut terlibat, merasakan langsung, dan belajar dari pengalaman
Inilah pembelajaran mendalam yang sebenarnya. Jadi jangan anggap tradisi hanya sebagai hiburan, sebab di dalamnya ada pelajaran besar tentang kehidupan. Dan kadang pelajaran yang paling berharga justru datang dari hal-hal sederhana seperti Sekugha. [**]
*SYAFARUDDIN. Pemerhati pendidikan, tinggal di Lampung Barat
Tidak ada komentar