x

Tak Punya Islamic Center, Tokoh Muda Sebut Visi Pembangunan di Pesisir Barat ‘Nggak’ Jelas

waktu baca 2 minutes
Sabtu, 28 Mar 2026 17:03 0 1717 admin

Pesisir Barat (LB): Tokoh muda Kabupaten Pesisir Barat, Novri Rahman, M.Pd., menyebut visi pembangunan di Kabupaten Pesisir Barat tidak jelas, sebab sudah 14 tahun berdiri kabupaten hasil pemekaran dari Lampung Barat itu belum memiliki Islamic Center.

Menurut akademisi Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) ini, sebagai kabupaten yang mengusung jargon “Negeri Para Sai Batin dan Para Ulama”, kondisi ini merupakan sebuah paradoks.

Dia mengatakan kenyataan yang sulit dibantah di Pesisir Barat adalah Islam hidup di masyarakatnya, tetapi tidak pernah benar-benar dihadirkan sebagai subjek peradaban.

“Buktinya sederhana, Kabupaten Pesisir Barat tidak punya Islamic Center,” ungkapnya.

Alumni Universitas Lampung ini juga menyebut sejak berdiri hampir 14 tahun, Kabupaten Pesisir Barat hidup dalam satu kenyamanan semu; mengulang identitas tanpa pernah membangunnya.

“Negeri Para Sai Batin dan Para Ulama. Itu yang selalu diucapkan dengan bangga. Namun, kebanggaan itu berhenti di kata-kata. Jika identitas itu benar-benar diyakini maka pertanyaan paling dasar seharusnya sudah lama dijawab, di mana pusatnya?,” tegasnya.

Selanjutnya dia mengatakan Islamic Center bukanlahbsebaih gagasan baru dan bukan konsep yang rumit karena menjadi standar minimal bagi daerah yang mengklaim diri sebagai basis religius. Namun, menurutnya, Pemkab Pesisir Barat justru menunjukkan sikap bahwa hal itu bukan sesuatu yang penting dan mendesak.

“Dan di situlah masalah sebenarnya. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak dianggap penting. Saya harus jujur mengatakan ini, ketiadaan Islamic Center bukan sekadar kekurangan pembangunan,
melainkan cermin dari kegagalan visi,” ungkap Novri.

Pemerintah, kata dia, boleh saja berbicara tentang program keagamaan, forum mubaligh, atau kegiatan seremonial lainnya.
Namun tanpa pusat yang permanen, semua itu hanya akan menjadi aktivitas yang berulang tanpa akumulasi.

Lebih lanjut dia mengatakan menjadi sebuah ironi dan memprihatinkan; Pesisir Barat memiliki semua prasyarat untuk membangun Islamic Center; struktur adat Sai Batin yang kuat, tradisi Islam yang hidup, narasi identitas yang sudah terbentuk. Tapi semua dibiarkan berjalan sendiri-sendiri, tanpa dipertemukan dalam satu pusat yang terencana.

“Ini bukan sekadar kelalaian, melainkan bentuk pembiaran struktural terhadap fragmentasi nilai. Dalam konteks pembangunan kebudayaan, kondisi ini berbahaya,” pungkasnya.

Dia mengatakan kalau alasan tidak dibangunnya Islamic Center karena keterbatasan anggaran atau prioritas pembangunan, itu hal klasik dan tidak lagi relevan untuk dipertahankan karena yang dipertaruhkan di sini bukan sekadar proyek fisik, melainkan arah peradaban daerah.

“Jika Islamic Center terus ditunda maka pesan yang sebenarnya sedang dikirimkan adalah identitas religius tidak cukup penting untuk diwujudkan secara nyata. Selama Islamic Center tidak dibangun, maka klaim Negeri Para Sai Batin dan Para Ulama hanya sebatas retorika,” tandasnya. (*/Sandori)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maret 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
LAINNYA