Rembang (LB): Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) akan melaksanakan Workshop Jurnalisme Arkeologi (Workshop Jurnalisme Heritage) di Kota Lasem dan Rembang pada 26 – 30 Juni 2025 dengan tema “Lasem: Museologi & Heritage”.
Sebelumnya pada 2022 BWCF melaksanakan workshop yang sama di Temanggung dan Parakan, kemudian pada 2023 di Desa Ngadas – Bromo.
Workshop ini bertujuan memberikan perspektif kepada para penulis dan jurnalis akan kekayaan kultural sebuah kota atau situs sehingga diharapkan mampu membaca sebuah warisan budaya dengan angle yang tak klise dan mampu menuliskannya secara mendalam.
Di setiap workshop, BWCF mengundang sejumlah fasilitator berlatar belakang arkeologi, praktisi media sampai ahli teologi untuk memberikan materi kepada para peserta. Lasem kali ini dipilih sebagai objek kajian karena Lasem dan Rembang memiliki sejarah yang berlapis-lapis.
Ditemukannya artefak berupa perahu kuno Punjul Harjo yang diperkirakan berasal dari abad7 M-8 M menandakan Lasem-Rembang sejak zaman Syailendra sudah merupakan kota yang sibuk. Lasem juga dikenal sebagai salah satu kota penting di zaman Majapahit.
Bhre Lasem adalah satu dari anggota
dewan penasihat Majapahit.
Menurut arkeolog Prof. Dr. Agus Arismunandar, pelabuhan Lasem di abad 14 adalah pelabuhan penting Majapahit. Hayam Wuruk melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok Jawa Timur setelah lebih dulu naik kapal menuju pelabuhan
Lasem. Sejak era Majapahit, Lasem juga
dikenal sebagai kota yang menjadi penyebaran agama Buddha. Salah satu tokoh spiritualis Buddha Jawa, Santi Badra, merupakan kelahiran Lasem. Santi Badra juga dikenal mewaris kan teks-teks sejarah Lasem yang bisa menjadi alternatif bagi pembacaan sejarah Lasem.
Kota Lasem yang juga dikenal dengan nama Tiongkok Keci, diketahui merupakan daerah awal masuknya etnis Tiongkok di Pulau Jawa. Bangunan kuno etnis Tiongkok, termasuk klenteng yang unik, terdapat di sepanjang jalan dan gang masuk menuju perkampungan masih dipertahankan sampai sekarang. Sebagian terawat dengan baik namun sebagian masih belum tersentuh sama sekali dan terlihat sangat rusak dimakan usia. Lasem juga memiliki batik khas yang warna dasarnya merah tua “abang getih pitik”.
Salah satu perang besar di Jawa melawan kolonial sebelum perang Diponegoro
adalah Perang Kuning yang terjadi tahun 1741-1742 di Lasem. Dari pihak Indonesia, perang dipimpin kolaborasi antara laskar-laskar Cina dari Batavia yang lari menuju Lasem setelah adanya pembantaian Cina di Batavia tahun 1740 dengan para santri Lasem dan juga seorang tokoh Jawa keturunan Santi Badra bernama Raden Panji Margana yang sangat dihormati oleh kalangan Cina peranakan Lasem. Dalam babad Tanah Jawi ia disebut sebagai Encik Macan.
Selain itu, Lasem juga dikenal dengan pesantren-pesantrennya. Beberapa tokoh besar pendiri NU dimakamkan di Lasem. Mereka adalah Kyai Haji Ma ’sum Ahmad, Kyai Haji Baidlowi Abdul Azis dan Kyai Haji Cholil Masyhuri. Di Lasem juga terdapat makam ulama besar Mbah Sambu atau Sayyid Abdurrachman yang
merupakan cucu dari JokoTingkir.
BWCF melaksanakan workshop jurnalisme arkeologi di Kota Lasem dan Rembang dengan tujuan agar peserta dapat mengalami langsung pengalaman mengamati jejak-jejak sejarah yang berlapis-lapis di Kota Lasem. Mulai dari sejarah perkembangan agama Buddha yang dibawa etnis Tiongkok sampai
dengan penyebaran agama Islam.
BWCF juga mengajak para peserta terdiri dari dosen, penulis, peneliti, pegiat budaya dan mahasiswa untuk berkunjung ke berbagai museum kecil di Lasem yang didirikan oleh pemerintah maupun perseorangan. BWCF berharap dengan adanya workshop jurnalisme heritage di Lasem dan Rembang ini akan berdampak pada meluasnya kepedulian para penulis untuk merawat dan memelihara heritage dan memahani
persoalan-persoalannya.
Para pemateri dalam workshop ini adalah Udaya Halim (Pemilik Lasem Boutique Hotel dan Liem Heritage Rembang), Dr. Kris Budiman (Penulis Novel Hierofani), Dr. Ir. Sugiri Kustedja, M.T. (Pegiat Sejarah dan Budaya Tionghoa, Dosen Universitas Maranatha Bandung), Mahandis Yoanata
Thamrin (Jurnalis National Geographic Indonesia ) , Dr. Ali Akbar (dosen Arkeologi FIB Universitas Indonesia, Anggota Dewan Pakar Asosiasi Museum Indonesia), Drs. Sugeng Riyanto, M. Hum. (Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah
BRIN), Eggy Yunaedi (Perupa Garam) , Kwa Tong Hay (Ahli Klenteng di Lasem) , Agni Malagina (Peneliti Kota Peranakan Cina di Indonesia), dan Retna Dyah Radityawati, M. Hum. (Kurator Museum Kartini, Rembang). (rls)
Tidak ada komentar