Bandar Lampung (LB): Mengusung model pembelajaran Teaching Factory (TEFA), Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Bandar Lampung terus berinovasi meningkatkan kualitas lulusan sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang dibuktikan dengan keberhasilan menciptakan berbagai produk, di antaranya mesin pembuat pelet ikan dan mesin pencacah daun.
Untuk menggali informasi lebih dalam tim Media Online lampungbarometer.id, Anton Kurniawan dan Ardiansyah, melakukan wawancara khusus dengan Kepala Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK Negeri 2 Bandar Lampung Agus Suparjo, S.T., M.M. di ruang kerjanya, Gedung Pusat Keunggulan Teknik Pemesinan SMKN 2 Bandar Lampung pada Senin, 28 April 2025 sekitar Pukul 14.00 WIB.
Dalam kesempatan tersebut, selain menjelaskan terkait Teaching Factory, Agus juga memaparkan berbagai kegiatan praktik Program Keahlian Teknik Pemesinan yang bertanggung jawab terhadap dua kompetensi keahlian siswa, yaitu teknik pemesinan dan teknik pengelasan.

BERI PENJELASAN. Kepala Program Keahlian Permesinan SMKN 2 Bandar Lampung Agus Suparjo, S.T., M.M. menjelaskan tentang bagian dan cara kerja mesin cutting fiber laser kepada lampungbarometer.id, Senin (28/4/2025).
Berikut rangkuman petikan wawancara khusus lampungbarometer.id dengan Kepala Program Keahlian Teknik Pemesinan SMK Negeri 2 Bandar Lampung Agus Suparjo, S.T., M.M.:
Selamat siang Pak Agus. Bisa dijelaskan secara singkat TEFA itu apa dan sejak kapan SMKN 2 Bandar Lampung menerapkan metode pembelajaran ini?
Kami mulai merintis metode pembelajaran Teaching Factory atau TEFA ini pada 2021. Program TEFA merupakan program Kementerian yang tujuannya menyiapkan anak-anak SMK agar mampu menjawab tantangan dunia industri. Intinya TEFA menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan kompetensi industri dengan kompetensi lulusan.
Cluenya, sekolah menyiapkan siswa supaya memiliki kompetensi yang dibutuhkan perusahaan? Jadi link and match antara kebutuhan industri dan kompetensi lulusan dari SMK sehingga setelah lulus mereka siap memasuki dunia kerja; bisa mengoperasikan mesin-mesin sesuai kebutuhan saat ini, bisa menghasilkan dengan cepat dan presisi serta bisa memasarkan produk yang dihasilkan.
Dengan metode TEFA ini, maka model pembelajaran kita menggabungkan kurikulum dunia industri dengan sistem pembelajaran kita. Kita adopsi kurikulumnya dunia industri; budaya kerjanya seperti apa? Kemudian kita susun kurikulumnya sehingga terjadi link and match antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan perusahaan.

KARYA SISWA. Ini merupakan salah satu komponen mesin hasil produk siswa SMKN 2 Bandar Lampung.
Dengan TEFA ini apa ekspektasi sekolah, bisa dijelaskan langkah yang dilakukan ?
Tentu saja kita punya target dan harapan. Harapannya adalah bagaimana nanti anak-anak lulusan SMK Negeri 2 Bandar Lampung sudah siap kerja sehingga tidak menganggur. Oleh sebab itu, kita terus melakukan berbagai upaya, misalnya mengenalkan budaya kerja perusahaan dalam pembelajaran, terus mengupgrade peralatan praktik sehingga anak-anak kita betul-betul siap untuk memasuki dunia industri. Bukan hanya itu, kita juga berikan mereka kompetensi jika nantinya setelah lulus mereka ingin berwira usaha.
Bisa dijelaskan Pak, konkretnya seperti apa?
Sederhananya begini, sekolah kita kan punya mesin CNC (Computer Numerical Control) cutting laser fiber bantuan pemerintah, sehingga anak-anak kita langsung praktik menggunakan mesin pemotong logam ini untuk membuat karya atau produk. Kita latih mereka terus-menerus sehingga karya yang mereka buat betul-betul presisi. Mereka desain sendiri, mereka potong atau buat menggunakan mesin sendiri, dan produk yang mereka hasilkan diharapkan bisa mereka jual karena program TEFA juga mengharapkan lulusan bisa memunculkan jiwa entrepreneur atau berwira usaha.
Target lulusan SMK itu ada 3, yakni BMW, yaitu: Bekerja, Melanjutkan pendidikan, Wira usaha. Persentase terbesar tentu saja bekerja karena memang tujuan utama masuk SMK adalah untuk bekerja. Presentasi untuk melanjutkan jenjang pendidikan sekitar 10% lah.
Tadi Bapak menyinggung kurikulum perusahaan, maksudnya bagaimana?
Dunia kerja atau perusahaan tentu memiliki standar peraturan untuk tenaga kerja yang dibutuhkan seperti apa. Di sisi lain, kita juga punya kurikulum yang sudah ditentukan. Untuk menyinkronkan atau bisa disebut link and match maka dalam menyusun kurikulum metode pembelajaran teaching factory ini kita melibatkan beberapa mitra, di antaranya PT Lambang Jaya sebagai mitra pendamping, dan beberapa bengkel di Kota Bandar Lampung. Sebelumnya kita juga bermitra dengan PT Sunter Inti Megah dan PT Guhring.

KALIGRAFI. Tulisan kaligrafi berbahan plat besi yang terpajang dalam lemari piala ini merupakan salah satu produk karya siswa.
Dengan begini, ketika praktek siswa SMKN 2 Bandar Lampung bukan hanya simulasi tapi betul-betul menghasilkan produk yang bisa digunakan masyarakat maupun dunia industri sehingga bisa dijual. Selain membuat produk, kita juga menerima job untuk pembuatan komponen mesin yang tidak terlalu kompleks yang bisa dibuat anak SMK. Ini menguntungkan bagi kedua belah pihak pihak; rekanan mendapat harga yang lebih murah sementara kita bisa meningkatkan skill anak-anak kita.
Sejak mula hingga saat ini bagaimana progres Program TEFA di SMKN 2 Bandar Lampung?
Kita mulai merintis TEFA pada 2021 dengan membuat produk sederhana seperti engsel. Saat ini SMKN 2 Bandar Lampung adalah sekolah Pengimbasan Program TEFA, sehingga tugas kami bukan hanya menjalankan model pembelajaran Teaching Factory, tapi juga mengimbaskan kepada sekolah jejaring dengan menggandeng beberapa sekolah, yaitu SMK 2 Mei Bandar Lampung, SMK Budi Karya Natar, dan SMK Dharmapala Panjang.
Guru dari ketiga sekolah ini kita undang untuk workshop dan pelatihan dengan harapan mereka bisa mengembangkan potensi yang ada di sekolah masing-masing dengan menyesuaikan kemampuan masing-masing sekolah. Sehingga sesuai tuntutan era 4.0 saat ini, siswa tidak hanya dituntut mengoperasikan mesin, tapi juga harus bisa membuat produk dan menjual ke masyarakat atau pihak industri.
Dalam praktik apakah ada tahapan yang harus dilakukan anak-anak?
Tahapannya, pertama anak harus bisa membuat model dan desain komponen mesin maka anak harus menggambar dulu. Dirancang dan dibuat ukurannya, setelah itu anak diwajibkan untuk bisa membuat membuatnya dengan proses mesin. Kita punya mesin fiber laser computer numerical control (CNC) yang sangat presisi dan hasilnya lebih bagus daripada mesin plasma. Setelah membuat produk, selanjutnya anak-anak dilatih untuk memasarkan produk yang sudah dibuat. Dalam pelaksanaannya kita berharap bisa berkolaborasi dengan guru produk kreatif dan kewirausahaan (PKK).
Kalau bicara produk, apa saja yang sudah berhasil dibuat SMKN 2 Bandar Lampung?
Sebenarnya sudah banyak yang kita buat dan kita pasarkan, sebagian besar komponen mesin yang tidak terlalu kompleks. Terakhir kita berhasil membuat mesin pembuat pelet ikan dan mesin pencacah daun. Namun yang kita buat hanya prototipe, tidak produksi massal dalam jumlah besar. Kalau ada pesanan baru kita buat.

MESIN PEMBUAT PELET IKAN. Inilah mesin pembuat pelet ikan ciptaan SMKN 2 Bandar Lampung.
Untuk mesin pembuat pelet ikan, itu sangat tepat digunakan oleh para peternak ikan karena mereka bisa membuat pelet pakan ikan secara mandiri sehingga tidak perlu membeli pakan dari pabrikan.
Kemudian mesin pencacah daun, sangat baik digunakan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Karena dengan mesin ini, sampah berupa daun kering bisa kita cacah dan diubah menjadi kompos. Dengan mesin ini kita bisa menjaga lingkungan tetap bersih dan bisa mendaur ulang daun-daun kering menjadi pupuk.
Untuk mesin pencacah ini sudah ada yang terjual, dibeli oleh salah satu SMA di Bandar Lampung yang mengikuti lomba kebersihan.
Untuk produk, kita tidak membuat dalam jumlah yang banyak, hanya prototipenya saja. Jika ada pesanan baru kita buat karena berkaitan dengan anggaran yang sangat terbatas.

MESIN PENCACAH DAUN. Seperti ini penampakan mesin pencacah daun karya SMKN 2 Bandar Lampung yang sudah laku terjual.
Pemasaran untuk produk yang dihasilkan bagaimana?
Untuk pemasaran, karena tenaga kerja yang masih terbatas maka pemasaran yang kita lakukan juga masih sebatas internal, misalnya dari guru-guru atau sekolah-sekolah. Produk-produk buatan kita juga kita pasarkan melalui media sosial dan media online.
Menurut pandangan Bapak, seberapa penting publikasi dilakukan?
Tentu saja sangat penting, karena dengan publikasi maka produk-produk yang kita hasilkan ini bisa diketahui masyarakat. Selain itu hanya melalui publikasi, masyarakat bisa tahu jika SMK Negeri 2 Bandar Lampung bisa melayani jasa cutting laser, seperti misalnya jasa cutting untuk pagar serta jasa bubut. Namun untuk pemasangannya kita bekerja sama dengan bengkel-bengkel las. Biasanya jasa-jasa bengkel las itu membawa desain dan bahannya, kita yang memotong.
Untuk jasa pemotongan berapa biayanya?
Untuk biaya jasa cutting bergantung ketebalan bahan, sekitar Rp200.000 sampai Rp250.000 per meter. Kita menggunakan mesin laser fiber bukan yang plasma. Kelebihan menggunakan mesin fiber hasilnya lebih halus ketimbang memotong menggunakan mesin plasma. Selain itu, jika menggunakan mesin plasma itu platnya masih direndam di air, kalau mesin fiber laser sudah tidak menggunakan air jadi langsung dipotong sesuai desain.
Dan di Lampung hanya ada tiga sekolah SMK yang memiliki mesin fiber laser. Selain SMK Negeri 2 Bandar Lampung ada SMKN 3 Metro dan SMK Muhammadiyah Lampung Tengah.

KARYA SISWA. Ventilasi udara keren berbahan besi yang dipasang di dinding masjid SMKN 2 Bandar Lampung ini merupakan salah satu produk karya siswa.
Jika berbicara sekolah, apa yang membedakan SMKN 2 Bandar Lampung dengan SMKN lain?
SMKN 2 Bandar Lampung ini merupakan sekolah bidang teknologi tertua di Lampung dan memiliki 12 jurusan teknologi. Itulah yang membedakan sekolah kita dengan SMK negeri yang lain yang ada di Lampung. Sebab, sebagian besar SMK N di Lampung, jurusannya macam-macam bidang. Contohnya ada sekolah jurusan kerajinan dan industri, tapi juga membuka jurusan teknik kendaraan ringan; ada sekolah tata boga tapi juga membuka jurusan komputer jaringan. Nah SMK Negeri 2 Bandar Lampung sejak awal fokus di bidang teknologi.
Ke-12 dua jurusan tersebut yaitu:
Dalam kesempatan ini, Agus Suparjo juga mengatakan mesin pembuat pelet ikan dan mesin pencacah daun cocok digunakan untuk mengembangkan perikanan dan pertanian. Khusus untuk mesin pencacah daun, ujarnya, metode kerjanya adalah daun-daun kering dikumpulkan kemudian dicacah menggunakan mesin lalu dibuat kompos.
Dengan metode ini, ungkapnya, selain menciptakan lingkungan menjadi bersih juga bisa menghasilkan pupuk yang ramah lingkungan yang bisa digunakan untuk meningkatkan hasil produk pertanian.
Dia berharap di masa depan mesin-mesin peralatan yang dibuat SMKN 2 Bandar Lampung bisa dipasarkan ke berbagai wilayah hingga ke desa-desa untuk membantu masyarakat.
“Harapannya di masa depan mesin peralatan yang dibuat di SMKN 2 Bandar Lampung ini bisa dipasarkan secara dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Liputan Khusus: Rian/AK)
Tidak ada komentar