Bandar Lampung (LB): Teater Satu Lampung sukses menggelar pementasan Lakon “Di Mana Engkau, Radin?” karya dan sutradara Iswadi Pratama di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Jumat (6/12/2024) malam, sebagai upaya membaca ulang sejarah perjuangan pahlawan nasional Radin Inten II.
Pementasan dibuka dengan kepungan instrumen musik dibarengi warna panggung yang muram. Beberapa pekerja terlihat mengangkut hasil panen dari kebun-kebun mereka. Sementara itu, Raden Inten II dengan dengan seksama mendengarkan cerita dari Sang Ibunda, Ratu Mas, tentang keberanian sang Ayahanda Raden Imba II, juga sang kakek Raden Inten I dalam mengusir penjajah.
Kepada putranya tercinta, Bunda Ratu berpesan agar selalu berbuat adil dan jangan takut melawan kezaliman. Sang Bunda mengaku sedih atas ketidakadilan yang dialami rakyat Tanah Lada akibat penjajahan Belanda. Rakyat yang bekerja keras tidak menikmati hasilnya, karena dibawa para penjajah.
Kisah heroik tentang sang ayahanda dan kakeknya tertanam begitu dalam di jiwa Raden Inten II kecil dan bertekad akan meneruskan perjuangan ayahnya.
“Api ubat malu induk,” tanya Radin Inten
“Mati nak,” jawab sang ibunda.

DIHIANATI PAMAN. Salah satu adegan Radin Inten II yang telah diracun oleh penghianat, Radin Ngerapat yang merupakan pamannya sendiri, bertarung dengan gagah berani hingga akhirnya tewas diberondong tentara Belanda.
Setelah dinobatkan sebagai Ratu Negara Ratu, ia melanjutkan perjuangan memimpin rakyat di daerah Lampung untuk mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayahnya. Dibantu orang kepercayaannya H. Wahya asal Banten, Singaberanta dan Lurusatu, Radin Inten II mulai mengatur strategi dan melakukan perlawanan hingga membuat Belanda kewalahan.
Berbagai cara digunakan Belanda untuk menangkap Radin Inten II yang tangguh dan cerdas. Segala tawaran Belanda kepada Raden Inten II ditolak.
Perlawanan Radin Inten II yang gagah berani akhirnya berakhir dan mengalami kematian yang tragis setelah dikhianati sang paman, Radin Ngerapat yang merupakan kepala kampung Tetaan Udik. Radin Intan dijebak sang paman yang sudah terkena bujuk rayu Belanda yang dipimpin Kolonel Watson dengan undangan untuk membahas perlawanan melawan Belanda.
Dalam pertemuan di sebuah tempat, Radin Inten II disuguhi makanan yang sudah dibubuhi racun. Dia disergap oleh Belanda dan para penghianat. Raden Inten II tetap melakukan perlawanan dengan gagah berani, sampai peluru tentara Belanda membuatnya rubuh ke tanah bersimbah darah.
Ditemui usai pementasan, kepada lampungbarometer.id, Iswadi Pratama mengatakan pementasan yang digelar bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini merupakan sebuah upaya membaca ulang sejarah kita.
“Terdorong untuk membaca ulang sejarah kita, membaca ulang diri kita, membaca ulang sesama kita. Apa yang bisa kita ambil dari masa lalu buat masa kini dan masa yang akan datang. Saya kira itu yang paling penting,” ucap Iswadi.
Dalam pementasan ini, Iswadi berupaya menyajikan episode sejarah perjuangan Pahlawan Lampung Radin Intan II dalam melawan Belanda dalam sebuah panggung teater, sebuah pekerjaan yang mahasulit.
Namun, dengan kepiawaiannya Iswadi mampu mengemas pertunjukan ini secara menarik dan menyampaikan pesan tentang perjuangan Radin Inten II dalam menjaga marwah dan kedaulatan bangsanya di Bumi Lada.

KESENGSARAAN RAKYAT. Rakyat yang hidup sengsara, bekerja keras di kebun dan ladang, tapi hasilnya dibawa penjajah ke negeri yang jauh, membangkitkan tekad Radin Inten II untuk mengusir Belanda dan menegakkan kedaulatan.
Berdàsarkan pantauan lampungbarometer.id para penonton dari berbagai kelompok usia dan profesi antusias menyaksikan pertunjukan ini.
Radin Inten II Ditinggal Ayah Sejak Dalam Kandungan
Tercatat, Radin Inten II lahir 1 Januari 1834 dan wafat pada Oktober 1956. Ia adalah putra tunggal Radin Imba II dan cucu Radin Inten I gelar Dalom Kesuma Ratu IV.
Berdasarkan penelitian, Radin Inten II masih keturunan Fatahillah yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati dari perkawinannya dengan Putri Sinar Alam, seorang putri dari Minak Raja Jalan Ratu dari Keratuan Pugung, cikal-bakal pemegang kekuasaan di keratuan tersebut.
Sang ayah Radin Imba II yang melakukan perlawanan bersenjata menentang kehadiran Belanda di Lampung, ditangkap dan diasingkan ke Pulau Timor. Kala itu, sang istri yakni Ratu Mas sedang mengandung Radin Inten II tidak dibawa ke pengasingan.
Radin Inten II meninggal di Negara Ratu, Lampung, 5 Oktober 1856 pada umur 22 tahun setelah dikhianati pamannya Radin Ngerapat. Makam Raden Inten II terletak di Desa Gedung Harta dikenal dengan nama Benteng Cempaka, jarak tempuh 18 kilometer (km) dari Kalianda, Lampung Selatan.
Makam pahlawan ini sampai sekarang masih ramai dikunjungi masyarakat. Di area gerbang masuk makam, terpajang diorama di sisi kiri dan kanan mengisahkan perjuangan Radin Inten II melawan penjajah. Masuk di pelataran dalam area makam, ada patung Radin Inten II berdiri megah. Di dalam area makam juga terdapat rumah yang menyimpan banyak benda bersejarah.
Pada 1986 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 082 Tahun 1986 tanggal 23 Oktober 1986. Namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara (Bandara) di Provinsi Lampung, yakni Bandara Radin Inten II dan juga nama perguruan tinggi, yaitu Universitas Islam Negeri Radin Inten Lampung. Selain itu namanya juga diabadikan menjadi jalan protokol di Lampung. (ak)
Tidak ada komentar