oleh

Terkait OTT Sekjen KONI, Menpora Bantah Terima Honor Satlak Prima Rp 1 M

JAKARTA – Terdakwa kasus suap pejabat Kemenpora, Deputi IV Bidang Prestasi Olahraga, Mulyana menyebut asisten pribadi Menpora, Miftahul Ulum, menerima uang honor dari Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) untuk diberikan kepada Menpora Imam Nahrawi. Imam pun langsung membantah pernyataan itu. Hal ini dikatakan Mulyana saat menanggapi keterangan saksi di persidangan PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (4/7/2019). Mulyana, yang duduk sebagai terdakwa, mengkonfirmasi terkait Ulum yang menerima uang honor Imam. “Mohon izin Pak Menteri sebagai saksi, saya ingat betul di awal Tahun 2018, di lapangan bulu tangkis menanyakan kepada saya, ‘Saya dapat honor nggak ya di Prima?'” kata Mulyana sambil menirukan ucapan Imam kala itu. Lalu, Mulyana saat itu, yang baru diangkat sebagai Deputi IV, langsung memanggil pejabat pembuat komitmen (PPK) bernama Chandra. Kemudian saat itu, kata Mulyana, terjadilah diskusi di antara mereka bertiga yang sepakat memberikan uang Rp 1 milyar ke Imam. “Saya sampaikan (ke Chandra) karena beliau sebagai menteri, beri saja Rp 400 juta. Terus Pak Chandra bilang, ‘Jangan, Rp 1 milyar saja,'” kata Mulyana. Setelah kesepakatan itu, Mulyana mengaku meminta Supriyono, sopir pribadinya, menyampaikan uang tersebut melalui Ulum. Namun saat ditanya Mulyana, Ulum mengaku tidak mengenal Supriyono. “Berikanlah uang itu kepada Supri yang menyampaikan kepada Ulum, di depan masjid, dan saya tahu persis. Makanya apakah yakin Anda tidak kenal dengan Supriyono?” tanya Mulyana kepada Ulum, yang dijawab ‘tidak’ oleh Ulum. Sementara itu, Imam, yang juga bersaksi, mengaku tidak pernah meminta honor kepada Satlak Prima. Dia mengaku tidak berada di lingkungan Satlak Prima, sehingga dia mengatakan tak pantas mendapat honor itu. “Dengan permintaan Satlak Prima, itu saya tidak pernah meminta itu, karena posisi saya bukan di Satlak Prima, jadi saya membantah bahwa pernah meminta honor saat Satlak Prima itu,” bantah Imam. Dalam persidangan ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Deputi IV Kemenpora Mulyana serta staf Kemenpora, Adhi Purnomo dan Eko Triyanta. Mulyana didakwa menerima uang Rp 400 juta dan mobil Fortuner dari Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy. Selain itu, Adhi Purnomo dan Eko Triyanta didakwa menerima suap Rp 215 juta dari Ending Fuad Hamidy. (zab/dkp/det)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.