oleh

Soroti Perburuan Gajah, Mapala Unila Gelar Seminar Konservasi Alam

Admin 20 Maret 2018

BANDAR LAMPUNG (lampungbarometer.com): Peduli terhadap perburuan gajah liar, Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Lampung menggelar Seminar Konservasi Alam dengan Tema Ancaman Dan Tantangan Konservasi Gajah Sumatera Menuju Kepunahan, Senin (19/3/2018), di Lantai 4 Gedung Rektorat Universitas Lampung. Ketua Mapala Hermawan Toni Sanjaya mengatakan kegiatan ini melibatkan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Lampung, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kepolisian, DPRD, Kejaksaan, Pemerintah Provinsi Lampung, WCS, Sumatran Tiger, Pers, dan mahasiswa. Menurut Toni, kegiatan seminar ini bertujuan agar mendorong pihak-pihak yang berwenang untuk lebih memperhatikan dan memperketat regulasi terkait 3 hal yakni: Perburuan liar gajah di Taman Nasional Way Kambas, masalah konflik masyarakat dengan gajah di TNBBS, serta merevisi PP Nomor 7 Tahun 1999. “Kami merasa prihatin dengan perburuan liar Gajah Sumatera. Jika dibiarkan, ini akan mengakibatkan punahnya gajah Sumatera. Oleh sebab itu Mapala mendorong pemerintah dan aparatur yang berwenang untuk menangani masalah ini bersama-sama,” ujar Toni. Salah satu narasumber dalam kegiatan seminar ini, Beno Fahreza dari World Wildlife Fund for Nature (WWF) mengajak masyarakat untuk peduli terhadap penyelamatan gajah liar. “Ayo kita bergandengan tangan menyelamatkan gajah, jangan hanya mengeluhkan kinerja petugas karena memang jumlahnya sangat kurang,” katanya. Dia juga mengakui terjadinya konflik gajah dengan manusia di daerah konservasi Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Hal ini kata dia perlu dikaji penyebabnya karena TNWK sebenarnya bertugas untuk membuat gajah liar dan berkonflik dengan masyarakat sehingga menjadi jinak. Sementara itu, Ketua Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Lampung Teguh Ismail menyampaikan peranan masyarakat dalam penanganan konflik adalah nomor satu. “Oleh sebab itu masyarakat harus peduli dan ikut berperan dalam penanganan konflik ini. Apalagi kalau berbicara TNWK yang luasnya mencapai ribuan. Jelas peran masyarakat sangat penting,” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.