oleh

Inspektorat segera Panggil Kades Batu Raja

PESAWARAN (lampungbarometer.id): Inspektorat Kabupaten Pesawaran segera memanggil Kepala Desa Batu Raja, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran. Pemanggilan ini menindaklanjuti informasi masyarakat tentang pembangunan Pos Ronda dan talut penahan air di Dusun 4, Desa Batu Raja, Kecamatan Way Lima yang dibangun menggunakan anggaran Dana Desa (DD) Tahun 2018 yang terindikasi asal-asalan. Dugaan penyimpangan anggaran menyeruak sebab belum genap satu tahun, Pos Ronda dan talut yang dibangun dengan biaya hampir Rp100 juta itu sudah ‘hancur’ dan saat ini kondisinya sangat mengkhawatirkan serta tidak bisa digunakan lagi. Ditemui di kantornya, kepada lampungbarometer.id, Kepala Bagian Umum Inspektorat Kabupaten Pesawaran, Muhaini, Senin (15/7/2019), mengatakan segera menindaklanjuti kasus ini dengan memanggil Kepala Desa Batu Raja, Amrulloh. “Saat ini Pak Kepala Inspektorat dan Pak Sekretaris sedang bertugas di luar kantor. Terkait informasi masyarakat tentang indikasi dugaan penyimpangan anggaran dana desa dalam pengerjaan pos ronda dan talut penahan air di Desa Batu Raja, Kecamatan Way Lima segera kita tindak lanjuti. Nanti akan kita panggil kepala desa yang bersangkutan untuk memberikan penjelasan,” ujar Muhaini, mewakili Kepala Inspektorat. Kepada lampungbarometer.id dia juga menjelaskan Inspektorat akan menindaklanjuti dan merespons laporan serta informasi masyarakat terkait penyalahgunaan anggaran negara. “Laporan masyarakat ini segera kita ditindaklanjuti. Apakah betul ada penyimpangan atau tidak,” katanya. Sebelumnya diberitakan pembuatan Pos Ronda dan talut penahan air di Dusun 4, Desa Batu Raja, Kecamatan Way Lima diduga tidak sesuai standar dan asal-asalan. Sebab belum genap satu tahun dibangun, Pos Ronda dan talut yang dibangun dengan biaya hampir Rp100 juta itu sudah ‘hancur’. Salah satu warga yang meminta namanya tidak ditulis, mengungkapkan bangunan tersebut memang sempat dihantam banjir. Namun, dia mengatakan banjir bukanlah penyebab kerusakan bangunan yang baru setahun dibangun itu. “Bangunan pos ronda dan talut itu memang pernah kena banjir, tapi bukan banjir yang membuat rusaknya talut dan hancurnya pos ronda itu. Hancurnya bangunan itu karena memang pembangunannya tidak maksimal dan dikerjakan asal jadi. Bahkan dasar talut itu tidak digali dan tidak menggunakan cakar ayam. Jadi wajar kalau kualitasnya buruk dan mudah hancur,” ungkapnya. Berdasar pantauan lampungbarometer, memang kondisi talut sangat memprihatinkan, tampak tiang penyangga dan beberapa bagian pos ronda tersebut sudah rusak parah. Sementara itu, kondisi talut penahan air sepanjang 65 meter yang dibangun menggunakan Dana Desa Tahun 2018 itu kondisinya juga rusak parah dan sangat memprihatinkan. Kondisi ini diduga disebabkan karena bangunan ini dibangun asal jadi dan tidak sesuai standar demi mengeruk keuntungan pribadi. “Kades menyerahkan pengerjaan talut dan pos ronda itu kepada pemborong. Padahal seharusnya Kades mengutamakan warga dalam pengerjaan pembangunan di desa yang dibiayai Dana Desa. Kalau pengerjaannya melibatkan warga, jelas pengawasannya lebih mudah dan kualitasnya lebih baik. Kalau sudah begini yang rugi kita semua. Kami sangat menyayangkan hal ini, padahal biaya yang dikeluarkan tidak sedikit,” ujar sumber tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.