{"id":9302,"date":"2020-10-14T10:13:42","date_gmt":"2020-10-14T03:13:42","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=9302"},"modified":"2020-10-14T10:13:42","modified_gmt":"2020-10-14T03:13:42","slug":"wow-pertama-di-indonesia-kabupaten-pesawaran-produksi-garam-dengan-konsep-laut-mati-buatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2020\/10\/14\/wow-pertama-di-indonesia-kabupaten-pesawaran-produksi-garam-dengan-konsep-laut-mati-buatan\/","title":{"rendered":"Wow! Pertama di Indonesia, Kabupaten Pesawaran Produksi Garam dengan Konsep Laut Mati Buatan"},"content":{"rendered":"<p><strong>PESAWARAN (lampungbarometer.id)<\/strong>:<br \/>\nDemi meningkatkan produksi garam di Kabupaten Pesawaran dan menjadikannya sebagai produk unggulan yang mampu bersaing di pasaran lokal ataupun global,<br \/>\nPT Inarect Bumi Jejama yang berlokasi di<br \/>\nDesa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan akan menggunakan konsep &#8220;laut mati buatan&#8221;.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan Direktur Operasional PT Inarect Bumi Jejama Yoga Adhi Kurniawan kepada <em>lampungbarometer.id<\/em>, Selasa (13\/10\/2020).<\/p>\n<p>Yoga mengungkapkan terkait usaha<br \/>\nmemproduksi garam adalah hal biasa, tapi untuk konsep laut mati buatan, PT Inarect Bumi Jejama adalah yang pertama di Indonesia bahkan mungkin dunia.<\/p>\n<div id=\"attachment_9303\" style=\"width: 410px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-9303\" class=\"wp-image-9303\" src=\"https:\/\/sementara.biz.id\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/IMG_20201014_095211-200x112.jpg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"313\" \/><p id=\"caption-attachment-9303\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>GARAM<\/strong> Produksi PT Inarect Bumi Jejama di Desa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran memiliki kualitas unggul dan siap bersaing di pasar nasional maupun global.<\/em><\/p><\/div>\n<p>&#8220;Untuk meningkatkan hasil produksi garam, nantinya kita akan menggunakan konsep laut mati buatan. Konsep ini adalah yang pertama di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Urusan produksi garam itu hal yang biasa, tapi untuk konsep laut mati buatan itu luar biasa dan nantinya akan jadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Pesawaran,&#8221; ujar Yoga.<\/p>\n<p>Lebih lanjut dia menyampaikan meskipun terbilang baru beroperasi, saat ini PT Inarect Bumi Jejama mampu menghasilkan 12 ton garam dalam sekali panen.<\/p>\n<p>&#8220;Dalam sebulan bisa 2 kali panen, artinya PT Inarect Bumi Jejama bisa memproduksi 24 ton garam setiap bulan. Jumlah ini cukup bagus, apalagi kita terbilang baru beroperasi,&#8221; ungkap Yoga.<\/p>\n<div id=\"attachment_9312\" style=\"width: 410px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-9312\" class=\"wp-image-9312\" src=\"https:\/\/sementara.biz.id\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/IMG_20201014_102928-200x112.jpg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"303\" \/><p id=\"caption-attachment-9312\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>KABUPATEN<\/strong> Pesawaran akan memproduksi garam dengan konsep laut mati buatan.<\/em><\/p><\/div>\n<p>Dia juga menyampaikan tujuan peningkatan<br \/>\nproduksi garam ini adalah untuk menunjang rencana pemerintah di sektor industri kimia dasar, industri aneka pangan, farmasi, dan perminyakan yang terus tumbuh dan berkembang demi mendapatkan nilai tambah serta menciptakan produk industri yang berorientasi ekspor.<\/p>\n<p>&#8220;Untuk mencapai target tersebut, kita telah menyusun strategi antara lain dengan<br \/>\nmeningkatkan daya saing garam nasional melalui program pergaraman terpadu, transformasi dan efisiensi, serta terus bersinergi dengan pergaraman rakyat,&#8221; katanya. (Munawir\/Ansori)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PESAWARAN (lampungbarometer.id): Demi meningkatkan produksi garam di Kabupaten Pesawaran dan menjadikannya sebagai produk unggulan yang mampu bersaing di pasaran lokal ataupun global, PT Inarect Bumi Jejama yang berlokasi di Desa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan akan menggunakan konsep &#8220;laut mati buatan&#8221;. Hal itu disampaikan Direktur Operasional PT Inarect Bumi Jejama Yoga Adhi Kurniawan kepada lampungbarometer.id, Selasa (13\/10\/2020). Yoga mengungkapkan terkait usaha memproduksi garam adalah hal biasa, tapi untuk konsep laut mati buatan, PT Inarect Bumi Jejama adalah yang pertama di Indonesia bahkan mungkin dunia. &#8220;Untuk meningkatkan hasil produksi garam, nantinya kita akan menggunakan konsep laut mati buatan. Konsep ini adalah yang pertama di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Urusan produksi garam itu hal yang biasa, tapi untuk konsep laut mati buatan itu luar biasa dan nantinya akan jadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Pesawaran,&#8221; ujar Yoga. Lebih lanjut dia menyampaikan meskipun terbilang baru beroperasi, saat ini PT Inarect Bumi Jejama mampu menghasilkan 12 ton garam dalam sekali panen. &#8220;Dalam sebulan bisa 2 kali panen, artinya PT Inarect Bumi Jejama bisa memproduksi 24 ton garam setiap bulan. Jumlah ini cukup bagus, apalagi kita terbilang baru beroperasi,&#8221; ungkap Yoga. Dia juga menyampaikan tujuan peningkatan produksi garam ini adalah untuk menunjang rencana pemerintah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":9304,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"class_list":["post-9302","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorised"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9302","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9302"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9302\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9302"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9302"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9302"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}