{"id":7482,"date":"2020-08-11T07:39:33","date_gmt":"2020-08-11T00:39:33","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=7482"},"modified":"2020-08-11T07:39:33","modified_gmt":"2020-08-11T00:39:33","slug":"mayang-mahasiswa-iib-berhasil-buka-tambak-udang-vaname-ditengah-pandemi-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2020\/08\/11\/mayang-mahasiswa-iib-berhasil-buka-tambak-udang-vaname-ditengah-pandemi-covid-19\/","title":{"rendered":"Mayang, Mahasiswa IIB Berhasil Buka Tambak Udang vaname Ditengah Pandemi Covid 19"},"content":{"rendered":"<p><em><strong>Bandar Lampung(Lampungbarometer.Id)<\/strong><\/em> &#8212; Wabah pandemi Covid-19 membuat perekonomian Indonesia berdampak pada bisnis hingga pemasukan pun menurun bahkan merugi.<\/p>\n<p>Hal ini juga dialami oleh Mayang Kebaya yang dirintis Mayang Novita Sanjaya, mahasiswi Program Studi Manajemen Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya. Dia berhasil membuka peluang usaha baru di tengah wabah pandemi.<\/p>\n<p>Menurutnya, pemesanan pembuatan kebaya dan penyewaan mengalami penurunan karena wabah pandemi Covid-19. \u201cSangat menurun. Jadi saya beralih ke usaha udang Vaname sekarang. Selama tidak ada orderan kebaya hanya mengandalkan tabungan tapi alhamdulillah bulan ini sudah mulai stabil kebayanya, orderan sudah masuk lagi. Jadi ada berkah di balik pandemi, punya usaha di bidang lain,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Mayang \u2013biasa dia disapa \u2013 menceritakan awalnya dapat memiliki usaha baru di tengah pandemi Covid-19. \u201cBerawal dari sering main di daerah Lampung Timur tepatnya Kecamatan Pasir Sakti. Di sana mayoritas tambak udang Vaname tapi beberapa akhir siklus, banyak yang gagal panen,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dia pun penasaran dengan bisa sampai gagal panen dan terkena penyakit. \u201cSaya hubungi teman yang memang ahli budidaya udang Vaname. Kebetulan beliau ditugaskan kantornya di wilayah Lampung. Jadi saya banyak belajar dengan teman tentang budidaya udang,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Sekitar tiga bulan belajar, Mayang terjun langsung ke tambak. \u201cSaya ikut mendampingi owner-owner sebagai tim teknisi budidaya udang Vaname. Saya berpikir banyak peluang usaha yang bisa dilakukan bidang ini. Potensi Lampung sangat luar biasa di bidang perudangan. Sedangkan harga udang selalu naik terus dan permintaan udang untuk ekspor belum terpenuhi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Pendampingan yang dilakukan Mayang dan tim berhasil. \u201cPanen yang bagus dengan sistem budidaya herbal,\u201d terangnya.<\/p>\n<p>Benur merk sendiri Panen yang berhasil, Mayang kembali melihat peluang usaha untuk menjual benur (benih udang). \u201cAda peluang bisnis untuk menjual benur karena pemilik tambak sangat bergantung dengan rekomendasi dari teknisi budidaya. Saya kolaborasi dengan perusahaan pakan dan Hatchery benur Vaname, untuk buat merek benur sendiri dengan nama Benur Mayang Vaname F1 dan sekaligus mendirikan CV untuk sistem budidaya udang berbasis herbal,\u201d bebernya.<\/p>\n<p>Selama menjalani usaha baru, Mayang juga mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya. \u201cAlhamdulillah sangat mendukung untuk menjalani usaha baru ini,\u201d kata mahasiswi yang sempat mengikuti sekolah fashion di Bandung, Jawa Barat ini.<\/p>\n<p>Tiga bulan melakukan pendampingan membuat Mayang memberanikan diri untuk membuka tambak sendiri. \u201cJadi saya sekarang memiliki tambak sendiri dengan sistem sewa 2 tahun di daerah Ketapang,. Lampung Selatan. Dengan luas 3000 m2 dan 2500 m2 tambak vanami intensif. Dan sekarang sudah 1 kolam produksi di usia udang 20 hari, yang rencana akan di panen pada usia 70 hari,\u201d urainya.<\/p>\n<p>Mayang mengaku senang karena dapat mengembalikan senyum petambak udang yang beberapa kali gagal panen. \u201cIlmu yang didapatkan di kampus juga sangat membantu dalam mengatur biaya operasional, membuat program kerja dan lain-lain,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Di masa pandemi, beberapa negara tidak lagi memproduksi budidaya udang Vaname. \u201cSehingga menekan permintaan semakin tinggi dan harga semakin hari semakin tinggi seperti saat ini,\u201d pungkasnya.\u00a0 <strong>Red<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung(Lampungbarometer.Id) &#8212; Wabah pandemi Covid-19 membuat perekonomian Indonesia berdampak pada bisnis hingga pemasukan pun menurun bahkan merugi. Hal ini juga dialami oleh Mayang Kebaya yang dirintis Mayang Novita Sanjaya, mahasiswi Program Studi Manajemen Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya. Dia berhasil membuka peluang usaha baru di tengah wabah pandemi. Menurutnya, pemesanan pembuatan kebaya dan penyewaan mengalami penurunan karena wabah pandemi Covid-19. \u201cSangat menurun. Jadi saya beralih ke usaha udang Vaname sekarang. Selama tidak ada orderan kebaya hanya mengandalkan tabungan tapi alhamdulillah bulan ini sudah mulai stabil kebayanya, orderan sudah masuk lagi. Jadi ada berkah di balik pandemi, punya usaha di bidang lain,\u201d ungkapnya. Mayang \u2013biasa dia disapa \u2013 menceritakan awalnya dapat memiliki usaha baru di tengah pandemi Covid-19. \u201cBerawal dari sering main di daerah Lampung Timur tepatnya Kecamatan Pasir Sakti. Di sana mayoritas tambak udang Vaname tapi beberapa akhir siklus, banyak yang gagal panen,\u201d ujarnya. Dia pun penasaran dengan bisa sampai gagal panen dan terkena penyakit. \u201cSaya hubungi teman yang memang ahli budidaya udang Vaname. Kebetulan beliau ditugaskan kantornya di wilayah Lampung. Jadi saya banyak belajar dengan teman tentang budidaya udang,\u201d imbuhnya. Sekitar tiga bulan belajar, Mayang terjun langsung ke tambak. \u201cSaya ikut mendampingi owner-owner sebagai tim teknisi budidaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7483,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29],"tags":[],"class_list":["post-7482","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-bandar-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7482","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7482"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7482\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7482"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7482"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7482"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}