{"id":6544,"date":"2020-06-29T19:00:51","date_gmt":"2020-06-29T12:00:51","guid":{"rendered":"https:\/\/sementara.biz.id\/?p=6544"},"modified":"2020-06-29T19:00:51","modified_gmt":"2020-06-29T12:00:51","slug":"mendikbud-kepala-sekolah-jangan-ragu-menggunakan-dana-bos-sesuai-prioritas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2020\/06\/29\/mendikbud-kepala-sekolah-jangan-ragu-menggunakan-dana-bos-sesuai-prioritas\/","title":{"rendered":"Mendikbud: Kepala Sekolah Jangan Ragu Menggunakan Dana BOS Sesuai Prioritas"},"content":{"rendered":"<p><strong>JAKARTA (lampungbarometer.id)<\/strong>: Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja dan BOS Afirmasi diatur dalam regulasi level tertinggi di Kemendikbud, yaitu Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud).<\/p>\n<p>Berdasar rilis di situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemendikbud.go.id, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, menekankan agar kepala sekolah tidak ragu menggunakan dana BOS sesuai prioritas kebutuhan sekolah.<\/p>\n<div id=\"attachment_6546\" style=\"width: 510px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-6546\" class=\"wp-image-6546 size-full\" src=\"https:\/\/sementara.biz.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Penggunaan-BOS-di-masa-kedaruratan-Covid-19.-Doc.-Kemendikbud140f35fa2d0cbc32.md_.jpg\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"500\" \/><p id=\"caption-attachment-6546\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>PERUNTUKAN<\/strong> Dana BOS di masa pandemi Covid-19. (Foto: net)<\/em><\/p><\/div>\n<p>\u201cSudah ada penjelasan yaitu petunjuk teknis (Juknis) yang jelas sampai butir-butir apa saja yang bisa digunakan untuk itu dibuat secara eksplisit di dalam kerangka regulasi kita,\u201d kata Mendikbud dalam\u00a0video conference\u00a0Peluncuran Ketentuan Penyesuaian UKT, Dana Bantuan UKT Mahasiswa, Kebijakan BOS Afirmasi dan BOS Kinerja di Jakarta pekan lalu.<\/p>\n<p>Mendikbud mengatakan, aturan pengalokasian dana BOS Kinerja dan BOS Afirmasi sama dengan aturan penggunaan dana BOS reguler. Di antaranya, dapat digunakan untuk membayar guru honorer, belanja kebutuhan belajar dari rumah (pulsa, paket data, layanan pendidikan daring berbayar), belanja kebutuhan kebersihan terkait pencegahan Covid-19 (sabun, pembasmi kuman, dan penunjang kesehatan lainnya), serta membayar tenaga kependidikan bila dana masih tersedia.<\/p>\n<div id=\"attachment_6547\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-6547\" class=\"wp-image-6547 size-large\" src=\"https:\/\/sementara.biz.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Peruntukan-Dana-BOSSD-SDLB-SMP-SMPLB-Tahun-2017-300x170.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"170\" \/><p id=\"caption-attachment-6547\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>PENGGUNAAN<\/strong> dana BOS harus sesuai dengan Juknis yang telah ditentukan.<\/em><\/p><\/div>\n<p>Menteri Nadiem menyampaikan ada dua kriteria sekolah penerima dana BOS Afirmasi dan BOS Kinerja:<br \/>\nKriteria pertama berdasarkan daerah, yaitu: 1. Daerah terpencil dan terbelakang<br \/>\n2. Daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil<br \/>\n3. Daerah perbatasan dengan negara lain<br \/>\n4. Daerah yang terkena bencana Covid-19, bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang berada dalam keadaan darurat lain.<\/p>\n<p>Kriteria kedua berdasarkan kondisi sekolah, yaitu:<br \/>\n1. Sekolah dengan proporsi siswa dari keluarga miskin yang lebih besar<br \/>\n2. Sekolah yang menerima dana BOS Reguler lebih rendah<br \/>\n3. Sekolah yang memiliki proporsi guru tidak tetap yang lebih besar.<\/p>\n<p>\u201cIni semua ditetapkan melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2020, Permendikbud Nomor 24 Tahun 2020 serta Kepmendikbud Nomor 580, 581 dan 582 Tahun 2020. Jadi semua ketentuan hukumnya sudah pasti,\u201d tegas Nadiem.<\/p>\n<p>Lebih lanjut Nadiem mengatakan, aturan yang telah ditetapkan bisa menjadi pegangan bagi kepala dinas dan kepala sekolah untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menggunakan dana BOS, terutama untuk kebutuhan pembayaran guru honorer serta menunjang kegiatan pembelajaran sesuai protokol kesehatan.<\/p>\n<p>\u201cJadi mohon digunakan pedoman kita,\u201d katanya.<\/p>\n<div id=\"attachment_6548\" style=\"width: 610px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-6548\" class=\"wp-image-6548 size-full\" src=\"https:\/\/sementara.biz.id\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/IMG_BOS.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"336\" \/><p id=\"caption-attachment-6548\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>MENDIKBUD<\/strong> berharap Kepala Sekolah mampu memahami Juknis penggunaan dana BOS sehingga tidak ragu menggunakannya sesuai prioritas.<\/em><\/p><\/div>\n<p>Mendikbud juga mengatakan, kondisi seperti ini membutuhkan pemimpin yang kuat dan tegas. Ia meminta para kepala sekolah untuk melihat dokumen-dokumen regulasinya karena sudah tertera secara rinci bahwa semua kebutuhan baik dari protokol kesehatan, belajar jarak jauh, kuota, dan lain-lain itu boleh menggunakan dana BOS.<\/p>\n<p>\u201cKami sudah mengatur fleksibilitasnya sehingga jika sebelumnya ada sekat persentase penggunaan dana, sekarang sudah dibuka. Kami berikan maksimum fleksibilitas. Jadi itu harusnya sudah cukup bagi kepala sekolah untuk mengambil tindakan terbaik untuk guru-guru, murid dan keluarga para murid mereka,\u201d urainya.<\/p>\n<p>Menjawab keresahan masyarakat tentang batas kewenangan penetapan SPP terutama di masa pandemi, Nadiem menyampaikan bahwa Kemendikbud maupun pemerintah daerah tidak berwenang menentukan jumlah SPP di sekolah swasta. Mendikbud menyarankan agar orang tua berkoordinasi lebih lanjut dengan yayasan\/pengelola sekolah untuk mendapatkan penyelesaian secara musyawarah mufakat.\u00a0(<strong>Denty\/Aline\/red<\/strong>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA (lampungbarometer.id): Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja dan BOS Afirmasi diatur dalam regulasi level tertinggi di Kemendikbud, yaitu Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud). Berdasar rilis di situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kemendikbud.go.id, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, menekankan agar kepala sekolah tidak ragu menggunakan dana BOS sesuai prioritas kebutuhan sekolah. \u201cSudah ada penjelasan yaitu petunjuk teknis (Juknis) yang jelas sampai butir-butir apa saja yang bisa digunakan untuk itu dibuat secara eksplisit di dalam kerangka regulasi kita,\u201d kata Mendikbud dalam\u00a0video conference\u00a0Peluncuran Ketentuan Penyesuaian UKT, Dana Bantuan UKT Mahasiswa, Kebijakan BOS Afirmasi dan BOS Kinerja di Jakarta pekan lalu. Mendikbud mengatakan, aturan pengalokasian dana BOS Kinerja dan BOS Afirmasi sama dengan aturan penggunaan dana BOS reguler. Di antaranya, dapat digunakan untuk membayar guru honorer, belanja kebutuhan belajar dari rumah (pulsa, paket data, layanan pendidikan daring berbayar), belanja kebutuhan kebersihan terkait pencegahan Covid-19 (sabun, pembasmi kuman, dan penunjang kesehatan lainnya), serta membayar tenaga kependidikan bila dana masih tersedia. Menteri Nadiem menyampaikan ada dua kriteria sekolah penerima dana BOS Afirmasi dan BOS Kinerja: Kriteria pertama berdasarkan daerah, yaitu: 1. Daerah terpencil dan terbelakang 2. Daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6545,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-6544","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6544","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6544"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6544\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6544"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6544"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6544"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}