{"id":59626,"date":"2026-11-02T21:08:52","date_gmt":"2026-11-02T14:08:52","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=59626"},"modified":"2026-11-02T21:08:52","modified_gmt":"2026-11-02T14:08:52","slug":"dorong-pelatihan-vokasi-mirza-siapkan-anak-muda-jadi-pencipta-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/11\/02\/dorong-pelatihan-vokasi-mirza-siapkan-anak-muda-jadi-pencipta-kerja\/","title":{"rendered":"Dorong Pelatihan Vokasi, Mirza Siapkan Anak Muda Jadi Pencipta Kerja"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bandar Lampung (LB)<\/strong>: Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong penguatan pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus mendorong generasi muda menjadi pencipta lapangan kerja melalui pengembangan potensi ekonomi daerah.<\/p>\n<p>Menurut Gubernur Mirza, masa depan perekonomian Lampung sangat bergantung pada kemampuan generasi muda dalam mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan inovasi. Karena itu, pendidikan dan pelatihan harus mampu membekali anak muda agar tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki keberanian membangun usaha sendiri.<\/p>\n<p>&#8220;Pemerintah Provinsi Lampung sangat sadar bahwa kunci kemajuan dan kemakmuran Lampung ke depan ada pada anak-anak mudanya. Karena itu, mereka harus memiliki keterampilan, kreativitas, dan inovasi agar setelah lulus tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan,&#8221; ujar Mirza saat membuka Grand Launching Program Tailor Made Training (TMT) Kementerian Ketenagakerjaan se-Provinsi Lampung di Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Senin (2\/11\/2026).<\/p>\n<p>Mirza memaparkan, Lampung memiliki potensi demografi yang besar. Sekitar 71 persen penduduk berada dalam kelompok usia angkatan kerja. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung ketersediaan lapangan pekerjaan dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.<\/p>\n<p>Setiap tahun, Lampung menghasilkan sekitar 130.000 lulusan SMA dan sederajat. Dari jumlah tersebut, sekitar 30.000 orang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sedangkan 100.000 lainnya tidak melanjutkan kuliah. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri di tengah terbatasnya kesempatan kerja formal dan semakin ketatnya persaingan tenaga kerja.<\/p>\n<p>Gubernur juga menyoroti struktur ekonomi Lampung yang masih bertumpu pada sektor pertanian. Sekitar 60 persen anak muda Lampung berasal dari keluarga petani. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi peluang untuk memperkuat industri pengolahan hasil pertanian dan perkebunan agar komoditas unggulan daerah tidak terus dijual dalam bentuk bahan mentah.<\/p>\n<div id=\"attachment_59628\" style=\"width: 1210px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-59628\" class=\"wp-image-59628 size-full\" src=\"https:\/\/lampungbarometer.id\/wp-content\/uploads\/2026\/11\/235552.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"800\" \/><p id=\"caption-attachment-59628\" class=\"wp-caption-text\"><em><strong>PELATIHAN VOKASI.<\/strong> Gubernur Lampung dorong Pelatihan Vokasi untuk mendorong anak muda menjadi pencipta kerja.<\/em><\/p><\/div>\n<p>Salah satu contohnya adalah kopi robusta Lampung. Komoditas ini memiliki kontribusi besar terhadap produksi dan ekspor nasional. Sekitar 74 persen ekspor kopi robusta Indonesia disebut berasal dari Lampung. Namun, sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah ekonominya belum sepenuhnya dinikmati masyarakat daerah.<\/p>\n<p>Padahal, pengolahan kopi menjadi produk siap konsumsi berpotensi membuka berbagai peluang usaha, mulai dari industri pengolahan, pengemasan, pemasaran hingga bisnis kedai kopi.<\/p>\n<p>Potensi serupa juga dimiliki komoditas pisang, jagung, dan singkong. Produk olahan seperti keripik pisang, keripik jagung, dan keripik singkong memiliki pasar yang luas. Karena itu, Pemprov Lampung ingin mendorong tumbuhnya industri pengolahan berskala kecil dan menengah yang melibatkan masyarakat, khususnya generasi muda.<\/p>\n<p>Salah satu peluang yang tengah disiapkan adalah pengembangan industri pakan ternak di tingkat desa. Pemanfaatan jagung sebagai bahan baku pakan lokal dinilai dapat menekan biaya produksi peternak sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru.<\/p>\n<p>Mirza memperkirakan, jika sekitar 30 persen produksi jagung Lampung dimanfaatkan untuk industri pakan ternak di desa, peluang tersebut berpotensi menciptakan sekitar 2.000 lapangan pekerjaan dan 400\u2013500 unit usaha baru.<\/p>\n<p>Untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan, Pemprov Lampung juga menyiapkan program pembiayaan tanpa bunga atau nol persen bagi anak muda yang ingin mengembangkan usaha. Skema ini diharapkan dapat mempertemukan potensi sumber daya alam, keterampilan SDM, dan akses permodalan sehingga masyarakat tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pelaku usaha yang menikmati nilai tambah produksi.<\/p>\n<p>Selain membuka peluang usaha di dalam daerah, Pemprov Lampung juga berencana memperluas kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal di luar negeri, terutama ke negara dengan tingkat penghasilan lebih tinggi seperti Jepang.<\/p>\n<p>Pemerintah daerah menargetkan pengiriman 10.000 tenaga kerja pada tahun mendatang. Pengalaman, keterampilan, serta modal yang diperoleh selama bekerja di luar negeri diharapkan dapat menjadi bekal untuk membangun usaha ketika mereka kembali ke Lampung.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Program Tailor Made Training (TMT) menjadi salah satu instrumen untuk menjembatani kebutuhan industri dengan kompetensi calon tenaga kerja.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung Agus Nompitu melaporkan, hingga peluncuran program telah diterima 268 usulan pelatihan dengan jumlah calon penerima manfaat mencapai 5.788 orang.<\/p>\n<p>Usulan tersebut dihimpun melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten\/kota, perguruan tinggi, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), serikat pekerja, serta berbagai kelompok strategis lainnya.<\/p>\n<p>Pelatihan yang diusulkan mencakup 17 bidang kejuruan, antara lain bisnis dan manajemen, teknologi informasi dan komunikasi, perhotelan, pengolahan produk bakery, kewirausahaan, metodologi instruktur, tata rias, tata busana, perikanan, pertanian, produktivitas, barista, pemandu wisata, public speaking, housekeeping, bahasa Jepang, pengelasan, dan kelistrikan.<\/p>\n<p>Materi, jumlah peserta, lokasi, serta jadwal pelatihan dirancang berdasarkan kebutuhan mitra pengguna tenaga kerja. Dengan pendekatan tersebut, peserta diharapkan memperoleh keterampilan yang relevan dan dapat langsung diterapkan di dunia kerja.<\/p>\n<p>Agus menjelaskan, pelaksanaan TMT mengacu pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi. Program ini tidak hanya menitikberatkan pada penguasaan teori, tetapi juga keterampilan praktis, budaya kerja, kedisiplinan, produktivitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.<\/p>\n<p>Sementara itu, Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof. Wan Jamaluddin Z. menyampaikan, pelaksanaan TMT di kampus tersebut diikuti 288 mahasiswa yang terbagi dalam 18 kelas.<\/p>\n<p>Sebanyak 176 mahasiswa mengikuti 11 kelas pada Batch 1 yang berlangsung 19\u201323 Oktober 2026. Sementara 112 mahasiswa lainnya mengikuti tujuh kelas Batch 2 pada 2\u20136 November 2026.<\/p>\n<p>Materi pelatihan meliputi digital marketing, digital marketing affiliate, desain grafis, pengelolaan sampah terpadu, halal chain, audit, komputer, produktivitas, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).<\/p>\n<p>Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang Kementerian Ketenagakerjaan Adi Nugroho mengatakan, pihaknya menargetkan sekitar 5.000 peserta pelatihan dari Lampung sepanjang 2026. Target tersebut direncanakan meningkat menjadi 7.000 peserta pada 2027.<\/p>\n<p>Jangkauan pelatihan juga akan diperluas. Tidak hanya menyasar perguruan tinggi, program ini direncanakan menjangkau masyarakat di desa, terutama pada sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan.<\/p>\n<p>Melalui kolaborasi pemerintah daerah, Kementerian Ketenagakerjaan, perguruan tinggi, dan dunia usaha, Program TMT diharapkan mampu menciptakan tenaga kerja yang kompeten sekaligus melahirkan wirausaha baru.<\/p>\n<p>Dengan demikian, generasi muda Lampung tidak hanya dipersiapkan untuk bersaing mendapatkan pekerjaan, tetapi juga didorong menjadi pelaku usaha yang mampu mengolah potensi daerah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (lpg)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong penguatan pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus mendorong generasi muda menjadi pencipta lapangan kerja melalui pengembangan potensi ekonomi daerah. Menurut Gubernur Mirza, masa depan perekonomian Lampung sangat bergantung pada kemampuan generasi muda dalam mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan inovasi. Karena itu, pendidikan dan pelatihan harus mampu membekali anak muda agar tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga memiliki keberanian membangun usaha sendiri. &#8220;Pemerintah Provinsi Lampung sangat sadar bahwa kunci kemajuan dan kemakmuran Lampung ke depan ada pada anak-anak mudanya. Karena itu, mereka harus memiliki keterampilan, kreativitas, dan inovasi agar setelah lulus tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan,&#8221; ujar Mirza saat membuka Grand Launching Program Tailor Made Training (TMT) Kementerian Ketenagakerjaan se-Provinsi Lampung di Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Senin (2\/11\/2026). Mirza memaparkan, Lampung memiliki potensi demografi yang besar. Sekitar 71 persen penduduk berada dalam kelompok usia angkatan kerja. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung ketersediaan lapangan pekerjaan dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Setiap tahun, Lampung menghasilkan sekitar 130.000 lulusan SMA dan sederajat. Dari jumlah tersebut, sekitar 30.000 orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":59629,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[412,8,11],"tags":[],"class_list":["post-59626","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-barometer-ekonomi-dan-bisnis","category-pemprov-lampung","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59626","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59626"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59626\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":59630,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59626\/revisions\/59630"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59629"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59626"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59626"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59626"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}