{"id":59314,"date":"2026-10-16T20:35:43","date_gmt":"2026-10-16T13:35:43","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=59314"},"modified":"2026-10-16T20:46:44","modified_gmt":"2026-10-16T13:46:44","slug":"artikel-opini-air-mata-ayah-dan-roda-ekonomi-yang-macet","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/10\/16\/artikel-opini-air-mata-ayah-dan-roda-ekonomi-yang-macet\/","title":{"rendered":"Artikel &#038; Opini\/\/ Air Mata Ayah Dan Roda Ekonomi yang Macet"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><em>Oleh: Jamal*<\/em><\/p>\n<p>ADA kegelisahan yang hari ini dirasakan sebagian besar masyarakat, yakni tentang sulitnya mencari nafkah, beratnya memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan semakin besarnya tanggung jawab yang harus dipikul demi menjaga keluarga tetap bertahan.<\/p>\n<p>Memang bagi sebagian orang, dua tahun terakhir bukanlah perjalanan yang mudah. Hari demi hari dijalani dengan perjuangan, sementara kepastian mengenai penghasilan dan masa depan belum tentu dapat digenggam. Bagi mereka, persoalan ekonomi tidak berhenti ketika pekerjaan selesai, justru setelah pulang ada tanggung jawab lain yang telah menunggu. Kebutuhan makan, biaya pendidikan anak, tagihan listrik dan air, transportasi, cicilan, hingga berbagai keperluan keluarga harus tetap dipenuhi. Semua memiliki tenggat waktu, sementara sumber penghasilan tidak bertambah mengikuti kebutuhan.<\/p>\n<p>Di tengah situasi seperti ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar: mengapa sebagian masyarakat merasa harus bekerja semakin keras hanya untuk mempertahankan kehidupan yang sama?<\/p>\n<p>Pertanyaan tersebut adalah gambaran kegelisahan yang perlu didengar, dipahami, dan dijadikan bahan evaluasi bersama. Sebab, ketika perjuangan mencari nafkah semakin berat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga, lingkungan sosial, dunia usaha, dan masa depan generasi muda.<\/p>\n<p>Sebagai Pengurus KNPI Provinsi Lampung, saya memandang persoalan sulitnya mencari nafkah sebagai isu sosial dan ekonomi yang perlu dibicarakan secara terbuka, jujur, dan bertanggung jawab.<br \/>\nKita tidak bisa menutup mata bahwa setiap orang memiliki kondisi ekonomi yang berbeda. Ada yang bekerja sebagai karyawan swasta, pedagang, pekerja harian, pengusaha kecil, maupun mereka yang mengandalkan pendapatan dari pekerjaan tidak tetap.<\/p>\n<p>Namun, ada satu kesamaan yang mempertemukan banyak dari mereka: kebutuhan hidup harus terus berjalan, apa pun kondisi yang sedang dihadapi. Bagi sebagian pekerja, penghasilan yang diterima setiap bulan harus segera dibagi untuk berbagai kebutuhan, seperti kebutuhan pokok, pendidikan anak, kewajiban rumah tangga, dan biaya tak terduga yang terkadang datang tanpa pemberitahuan.<\/p>\n<p>Sementara itu, bagi pelaku usaha kecil, tantangannya bisa berbeda. Mereka harus memikirkan modal, biaya operasional, pelanggan, daya beli masyarakat, dan keberlangsungan usaha. Ketika penjualan tidak sesuai harapan, keuntungan menipis, atau biaya usaha meningkat, mereka tetap harus bertahan agar usaha yang dibangun dengan susah payah tidak berhenti di tengah jalan.<\/p>\n<p>Di sinilah kita perlu memahami persoalan ekonomi tidak cukup dilihat dari angka pendapatan semata. Kita juga perlu melihat berapa besar kebutuhan yang harus ditanggung, seberapa stabil pekerjaan yang tersedia, dan apakah seseorang memiliki kesempatan nyata untuk meningkatkan taraf hidupnya.<\/p>\n<p>Kerja keras memang penting. Disiplin, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi juga sangat dibutuhkan. Namun, masyarakat tidak bisa selamanya dibebani tuntutan untuk berjuang sendiri tanpa dukungan berupa kesempatan kerja, akses usaha, dan lingkungan ekonomi yang memungkinkan mereka berkembang.<\/p>\n<p>Jika kita rasakan kondisi perekonomian dalam dua tahun terakhir terasa begitu berat. Ada yang mampu bertahan, ada yang harus menyesuaikan gaya hidup, ada yang mencari pekerjaan tambahan, dan ada pula yang berusaha membuka usaha baru untuk menambah penghasilan keluarga.<\/p>\n<p>Ada orang tua yang menunda membeli kebutuhan pribadi demi membayar keperluan sekolah anak. Ada kepala keluarga yang tetap berangkat bekerja meskipun pikirannya dipenuhi perhitungan tentang bagaimana memenuhi kebutuhan bulan berikutnya. Ada pula pelaku usaha yang terus membuka tempat usahanya setiap hari, berharap pelanggan datang dan pendapatan cukup untuk menutup biaya operasional.<\/p>\n<p>Bagi saya, inilah sisi kehidupan yang perlu menjadi perhatian bersama. Kita sering melihat seseorang dari apa yang tampak di luar, tetapi tidak selalu mengetahui beban yang sedang dipikulnya. Orang yang terlihat tenang belum tentu tidak memiliki persoalan. Mereka yang tetap tersenyum belum tentu sedang berada dalam keadaan ekonomi yang baik.<\/p>\n<p>Karena itu, kita perlu membangun kepekaan sosial. Jangan mudah menghakimi orang yang sedang mengalami kesulitan, seolah-olah persoalan ekonomi selalu muncul karena kurangnya usaha atau kemampuan mengelola keuangan. Setiap orang memiliki latar belakang, tanggung jawab, dan tantangan yang berbeda.<\/p>\n<p>Pada saat yang sama, semangat untuk terus berusaha harus tetap dijaga. Kesulitan bukan alasan untuk menyerah, tetapi juga bukan sesuatu yang patut diremehkan. Masyarakat membutuhkan semangat untuk bangkit sekaligus kondisi yang memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.<\/p>\n<p>Bagi seorang kepala keluarga, mencari nafkah bukan semata-mata urusan mendapatkan uang. Di dalamnya terdapat tanggung jawab, kasih sayang, dan keinginan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi orang-orang yang dicintai.<\/p>\n<p>Seorang ayah ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Seorang ibu ingin kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Setiap keluarga tentu berharap dapat menjalani kehidupan tanpa terus-menerus dihantui kekhawatiran mengenai kebutuhan esok hari.<\/p>\n<p>Namun, ketika penghasilan hanya cukup untuk kebutuhan dasar, ruang untuk menabung, mengembangkan usaha, mempersiapkan pendidikan anak, atau menghadapi keadaan darurat menjadi semakin terbatas.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut dapat membuat keluarga rentan ketika terjadi persoalan yang tidak direncanakan. Sakit, kehilangan pekerjaan, kerusakan kendaraan, atau kebutuhan sekolah tambahan bisa menjadi beban yang berat apabila tidak tersedia cadangan keuangan. Kita perlu mendorong terciptanya kondisi ketika masyarakat tidak hanya sibuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mempersiapkan hari esok.<\/p>\n<p>Kesulitan mencari nafkah tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor, mulai dari ketersediaan lapangan kerja, perkembangan harga kebutuhan, kondisi dunia usaha, tingkat pendapatan, hingga kemampuan masyarakat mengakses peluang ekonomi.<\/p>\n<p>Karena penyebabnya beragam, maka penyelesaiannya pun tidak bisa dilakukan melalui satu pendekatan saja. Oleh sebab itu, pemerintah perlu terus mengevaluasi apakah kebijakan ekonomi dan program pemberdayaan yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.<\/p>\n<p>Apakah pencari kerja mendapatkan akses terhadap pekerjaan yang sesuai dengan keterampilannya? Apakah pelaku usaha mikro memiliki kemudahan untuk mengembangkan usahanya? Apakah masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh akses terhadap program perlindungan sosial yang tepat? Apakah anak muda memiliki kesempatan untuk membangun kemandirian ekonomi?<\/p>\n<p>Di Provinsi Lampung, potensi sektor pertanian, perdagangan, jasa, pariwisata, industri pengolahan, dan ekonomi kreatif dapat menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan ekonomi. Namun, potensi tersebut harus diterjemahkan menjadi peluang yang dapat diakses masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil dan generasi muda.<\/p>\n<p>Pemerintah harus menyadari investasi dan pembangunan akan semakin bermakna ketika manfaatnya mampu menjangkau masyarakat secara luas, membuka pekerjaan, memperkuat usaha lokal, dan menciptakan peluang bagi warga untuk meningkatkan pendapatan.<\/p>\n<p>Dalam kondisi seperti saat ini, salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian serius adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bagi banyak keluarga, usaha kecil merupakan sumber penghasilan utama sekaligus jalan untuk membangun kemandirian ekonomi.<\/p>\n<p>Warung, usaha kuliner, pedagang pasar, jasa rumahan, dan berbagai usaha lokal memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Mereka menciptakan aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar dan menyediakan barang maupun jasa yang dibutuhkan warga.<\/p>\n<p>Namun, menjalankan usaha kecil bukan perkara mudah. Dukungan terhadap UMKM karena itu tidak boleh berhenti pada pelatihan atau seremoni peluncuran program. Pelaku usaha membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, akses pembiayaan yang sesuai kemampuan, peningkatan kualitas produk, pemanfaatan teknologi digital, serta peluang pemasaran yang lebih luas.<\/p>\n<p>Masyarakat juga dapat mengambil bagian dengan menghidupkan ekonomi lingkungan. Membeli produk dari usaha lokal, menggunakan jasa warga sekitar ketika sesuai kebutuhan, dan membantu mempromosikan usaha tetangga merupakan langkah sederhana yang dapat memperkuat perputaran uang di lingkungan sendiri.<\/p>\n<p>Tentu, gerakan membeli produk lokal bukan satu-satunya solusi atas kesulitan ekonomi. Namun, apabila dilakukan secara konsisten dan didukung peningkatan kualitas usaha, langkah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat ekonomi masyarakat.<\/p>\n<p>Kita harus membangun ekosistem yang membuat pelaku usaha kecil memiliki kesempatan untuk berkembang, bukan membiarkan mereka menghadapi seluruh tantangan sendirian.<\/p>\n<p>Kalau mengkaji kondisi hari ini, sebagai bagian dari organisasi kepemudaan, saya menilai bahwa persoalan lapangan kerja dan kemandirian ekonomi pemuda harus mendapatkan perhatian yang lebih serius.<\/p>\n<p>Pemuda harus menjadi bagian dari solusi, sekaligus memperoleh kesempatan yang adil untuk membangun masa depannya.<br \/>\nHal lain yang perlu menjadi perhatian, dalam menghadapi tekanan ekonomi, kita perlu menjaga ruang publik agar tetap sehat dan produktif. Jangan sampai kesulitan mencari nafkah justru membuat masyarakat saling menyalahkan tanpa memahami persoalan secara utuh.<\/p>\n<p>Kita perlu membedakan antara kritik yang membangun, keluhan yang lahir dari pengalaman nyata, dan tuduhan yang tidak didukung bukti. Setiap persoalan harus dibicarakan dengan jernih agar energi masyarakat tidak habis dalam pertengkaran, sementara masalah yang sesungguhnya belum terselesaikan.<\/p>\n<p>Masyarakat berhak menyampaikan kegelisahan dan mengevaluasi kebijakan. Pemerintah berkewajiban mendengar aspirasi serta menjelaskan langkah-langkah yang diambil. Dunia usaha perlu membuka ruang kolaborasi, sementara organisasi masyarakat dan kepemudaan dapat membantu menyampaikan persoalan di lapangan sekaligus mendorong solusi.<\/p>\n<p>Kita tidak harus selalu memiliki pandangan yang sama untuk bekerja sama. Perbedaan pendapat seharusnya menjadi ruang untuk memperkaya pemahaman, bukan menjadi alasan untuk menutup komunikasi.<\/p>\n<p>Saatnya pemerintah harus memeras otak memikirkan bagaimana menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih luas, membantu masyarakat menghadapi tekanan biaya hidup, dan memastikan generasi berikutnya memiliki peluang yang lebih baik.<\/p>\n<p>Dan pada akhirnya, ukuran kemajuan yang paling dekat dengan rakyat adalah ketika seorang ayah dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, seorang ibu dapat menjalani hari dengan lebih tenang, seorang anak dapat terus bersekolah, dan seorang anak muda dapat memandang masa depan dengan keyakinan. []<\/p>\n<p><em><strong>* JAMAL<\/strong>. Pengurus KNPI Provinsi Lampung<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Jamal* ADA kegelisahan yang hari ini dirasakan sebagian besar masyarakat, yakni tentang sulitnya mencari nafkah, beratnya memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan semakin besarnya tanggung jawab yang harus dipikul demi menjaga keluarga tetap bertahan. Memang bagi sebagian orang, dua tahun terakhir bukanlah perjalanan yang mudah. Hari demi hari dijalani dengan perjuangan, sementara kepastian mengenai penghasilan dan masa depan belum tentu dapat digenggam. Bagi mereka, persoalan ekonomi tidak berhenti ketika pekerjaan selesai, justru setelah pulang ada tanggung jawab lain yang telah menunggu. Kebutuhan makan, biaya pendidikan anak, tagihan listrik dan air, transportasi, cicilan, hingga berbagai keperluan keluarga harus tetap dipenuhi. Semua memiliki tenggat waktu, sementara sumber penghasilan tidak bertambah mengikuti kebutuhan. Di tengah situasi seperti ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar: mengapa sebagian masyarakat merasa harus bekerja semakin keras hanya untuk mempertahankan kehidupan yang sama? Pertanyaan tersebut adalah gambaran kegelisahan yang perlu didengar, dipahami, dan dijadikan bahan evaluasi bersama. Sebab, ketika perjuangan mencari nafkah semakin berat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga, lingkungan sosial, dunia usaha, dan masa depan generasi muda. Sebagai Pengurus KNPI Provinsi Lampung, saya memandang persoalan sulitnya mencari nafkah sebagai isu sosial dan ekonomi yang perlu dibicarakan secara terbuka, jujur, dan bertanggung jawab. Kita tidak bisa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":59315,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-59314","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-dan-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59314","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59314"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59314\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":59319,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59314\/revisions\/59319"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59315"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59314"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59314"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59314"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}