{"id":59001,"date":"2026-09-26T15:27:52","date_gmt":"2026-09-26T08:27:52","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=59001"},"modified":"2026-09-26T15:27:52","modified_gmt":"2026-09-26T08:27:52","slug":"dua-tahun-beruntun-sma-al-kautsar-juara-musikalisasi-puisi-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/09\/26\/dua-tahun-beruntun-sma-al-kautsar-juara-musikalisasi-puisi-nasional\/","title":{"rendered":"Dua Tahun Beruntun, SMA Al Kautsar Juara Musikalisasi Puisi Nasional"},"content":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Nama Lampung kembali berkibar di panggung nasional. Tim Musikalisasi Puisi SMAS Al Kautsar Bandar Lampung sukses mempertahankan gelar Pemenang I Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional 2026 yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.<\/p>\n<p>Prestasi tersebut diraih setelah tim Al Kautsar tampil sebagai yang terbaik dalam babak final yang berlangsung di Hotel Luminor, Jakarta, Rabu (23\/9\/2026). Gelar juara tahun ini terasa istimewa karena Al Kautsar berhasil mempertahankan posisi sebagai Pemenang I Nasional untuk dua tahun berturut-turut.<\/p>\n<p>Perjalanan menuju podium tertinggi tidak mudah. Pada tahap penyisihan, tim Al Kautsar harus bersaing dengan 62 tim dari 31 provinsi di Indonesia. Penyisihan dilakukan secara daring melalui pengiriman video penampilan. Dari puluhan peserta tersebut, hanya 10 tim yang berhak melaju ke babak final secara luring di Jakarta.<\/p>\n<p>Di babak final, tim Al Kautsar membawakan dua karya, yakni puisi wajib \u201cAnak Laut\u201d karya Asrul Sani dan puisi pilihan \u201cRindu dan Ombak\u201d karya Theoresia Rumthe.<\/p>\n<p>Penampilan mereka dinilai oleh dewan juri yang terdiri atas Reda Gaudiamo, Hasan Aspahani, dan Jubing Kristianto.<br \/>\nAda empat aspek utama yang menjadi dasar penilaian, yakni penafsiran puisi, komposisi dan aransemen, keselarasan atau harmonisasi, serta penampilan.<\/p>\n<p>Hasilnya, tim SMAS Al Kautsar Bandar Lampung memperoleh nilai terbaik dan ditetapkan sebagai Pemenang I Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional 2026.<\/p>\n<p>Kemenangan tersebut sekaligus kembali membawa nama Provinsi Lampung ke posisi tertinggi dalam salah satu ajang musikalisasi puisi bergengsi tingkat nasional.<\/p>\n<p>Tim yang mengantarkan Lampung ke podium juara terdiri atas Tubagus Restu Wibowo sebagai guru pendamping sekaligus pelatih, serta enam siswa: Prayata Rakha Syahwira pada keyboard, Muhammad Matahariku Aska pada gitar, Eghy Rakha Setiawan pada vokal dan perkusi, Regina Pitaloka Prianti pada keyboard dan vokal, Fatisha Kireina pada vokal, serta Muhammad Alifian Hadaya pada perkusi dan keyboard.<\/p>\n<p>Guru pendamping sekaligus pelatih, Tubagus Restu Wibowo mengaku bersyukur atas keberhasilan anak didiknya mempertahankan gelar juara nasional.<\/p>\n<p>\u201cTentunya sangat bahagia karena kembali menjadi Juara I Nasional. Ini merupakan pencapaian tertinggi, buah dari jerih payah dan pengorbanan yang telah dilakukan,\u201d ujar Tubagus.<\/p>\n<p>Menurutnya, kemenangan tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan bagi SMAS Al Kautsar, tetapi juga bagi Balai Bahasa Provinsi Lampung dan Provinsi Lampung.<\/p>\n<p>\u201cKami juga bahagia karena prestasi ini dapat mengharumkan nama SMAS Al Kautsar, Balai Bahasa Provinsi Lampung, dan Provinsi Lampung,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Bagi Tubagus, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar piala. Ia menyebut proses panjang yang dijalani para siswa sebagai bagian paling berharga dari kompetisi tersebut. Para siswa tidak hanya ditempa untuk menghasilkan penampilan terbaik, tetapi juga belajar menghadapi tekanan, bekerja dalam tim, bertanggung jawab, dan saling mendukung.<\/p>\n<p>\u201cYang paling membanggakan adalah anak-anak dapat tampil dengan penampilan terbaiknya. Namun, yang lebih penting, mereka tidak hanya mendapatkan prestasi, tetapi juga belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, kerja sama, toleransi, rendah hati, saling mendukung, serta bertawakal kepada Allah,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Menurut Tubagus, keberhasilan mempertahankan gelar juara nasional pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang piala. Lebih dari itu, kompetisi menjadi ruang bagi siswa untuk belajar menghadapi proses, mengelola kegugupan, memperbaiki kesalahan, dan tetap memberikan kemampuan terbaik ketika berada di atas panggung.<\/p>\n<p>\u201cBagi saya, itulah yang paling penting, yaitu momen ketika mereka belajar dan tumbuh,\u201d pungkasnya. (*\/Red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung (LB): Nama Lampung kembali berkibar di panggung nasional. Tim Musikalisasi Puisi SMAS Al Kautsar Bandar Lampung sukses mempertahankan gelar Pemenang I Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional 2026 yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Prestasi tersebut diraih setelah tim Al Kautsar tampil sebagai yang terbaik dalam babak final yang berlangsung di Hotel Luminor, Jakarta, Rabu (23\/9\/2026). Gelar juara tahun ini terasa istimewa karena Al Kautsar berhasil mempertahankan posisi sebagai Pemenang I Nasional untuk dua tahun berturut-turut. Perjalanan menuju podium tertinggi tidak mudah. Pada tahap penyisihan, tim Al Kautsar harus bersaing dengan 62 tim dari 31 provinsi di Indonesia. Penyisihan dilakukan secara daring melalui pengiriman video penampilan. Dari puluhan peserta tersebut, hanya 10 tim yang berhak melaju ke babak final secara luring di Jakarta. Di babak final, tim Al Kautsar membawakan dua karya, yakni puisi wajib \u201cAnak Laut\u201d karya Asrul Sani dan puisi pilihan \u201cRindu dan Ombak\u201d karya Theoresia Rumthe. Penampilan mereka dinilai oleh dewan juri yang terdiri atas Reda Gaudiamo, Hasan Aspahani, dan Jubing Kristianto. Ada empat aspek utama yang menjadi dasar penilaian, yakni penafsiran puisi, komposisi dan aransemen, keselarasan atau harmonisasi, serta penampilan. Hasilnya, tim SMAS Al Kautsar Bandar Lampung memperoleh nilai terbaik dan ditetapkan sebagai Pemenang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":59002,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[406,15],"tags":[],"class_list":["post-59001","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59001","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=59001"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59001\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":59003,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/59001\/revisions\/59003"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/59002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=59001"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=59001"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=59001"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}