{"id":58954,"date":"2026-09-24T00:38:32","date_gmt":"2026-09-23T17:38:32","guid":{"rendered":"https:\/\/lampungbarometer.id\/?p=58954"},"modified":"2026-09-24T00:38:32","modified_gmt":"2026-09-23T17:38:32","slug":"jenazah-abk-arupadhatu-1-ditemukan-347-km-dari-lokasi-hilang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/2026\/09\/24\/jenazah-abk-arupadhatu-1-ditemukan-347-km-dari-lokasi-hilang\/","title":{"rendered":"Jenazah ABK Arupadhatu 1 Ditemukan 347 Km dari Lokasi Hilang"},"content":{"rendered":"<p><em>Foto: dok. medsos<\/em><\/p>\n<p><strong>Banten (LB):<\/strong> Jenazah Surakman (50), anak buah kapal (ABK) Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, Sabtu (12\/9\/2026).<\/p>\n<p>Jenazah Surakman ditemukan sekitar 347 kilometer dari titik terakhir kapal Arupadhatu 1 hilang kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026.<\/p>\n<p>Polda Banten memastikan identitas jenazah yang sebelumnya berstatus tanpa identitas atau Mr X tersebut sebagai Surakman, ABK Arupadhatu 1. Identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan DNA yang kemudian dinyatakan cocok dengan DNA anak korban.<\/p>\n<p>&#8220;Jenazah Mr X tadi teridentifikasi sebagai Surahman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayat, putra kandung dari Bapak Surakman, ABK kapal Arupadhatu 1, yang meliput erupsi Anak Krakatau pada 7 September 2026,&#8221; kata Kapolda Banten Irjen Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23\/9\/2026).<\/p>\n<p>Hengki menjelaskan, setelah jenazah ditemukan di Pulau Enggano, Polda Bengkulu berkoordinasi dengan Polda Banten untuk proses identifikasi. Jenazah tersebut memiliki ciri-ciri mengenakan celana pendek berwarna hitam, tinggi sekitar 163 sentimeter, dan diperkirakan berusia 50 tahun.<\/p>\n<p>Tim <em>Disaster Victim Identification<\/em> (DVI) kemudian mencocokkan data <em>antemortem<\/em> dan <em>postmortem<\/em> dari keluarga rombongan Arupadhatu 1 yang dilaporkan hilang.<\/p>\n<p>Proses identifikasi mencakup pemeriksaan data primer berupa sidik jari, data gigi, dan DNA. Dari pemeriksaan tersebut, tim DVI menemukan kecocokan DNA jenazah dengan salah satu keluarga korban.<\/p>\n<p>&#8220;Proses identifikasi mayat, Kabiddokkes Polda Bengkulu berkomunikasi dengan Kabiddokkes Polda Banten. Disepakati untuk dilakukan identifikasi serta pencocokan oleh tim DVI terkait data <em>antemortem<\/em> dari delapan keluarga korban kapal Arupadhatu 1 terhadap seorang mayat Mr X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, baik meliputi data primer, yaitu sidik jari, gigi, dan DNA,&#8221; ujar Hengki.<\/p>\n<p>Dengan teridentifikasinya Surakman, masih ada tujuh orang yang belum ditemukan dalam insiden hilangnya kapal Arupadhatu 1, yang\u00a0terdiri atas lima jurnalis yang hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau, kapten kapal, dan seorang pemandu.<\/p>\n<p>Total delapan orang dilaporkan hilang setelah kapal Arupadhatu 1 yang membawa rombongan tersebut kehilangan kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026.<\/p>\n<p>Proses pencarian terhadap para korban telah dilakukan selama 10 hari. Namun, hingga pencarian dihentikan, tujuh orang lainnya belum ditemukan.<\/p>\n<p>Adapun delapan orang yang dilaporkan hilang dalam insiden tersebut adalah:<\/p>\n<p>1. M. Bagus Khoirunnas (Antara).<br \/>\n2. Arie Basuki (Merdeka.com).<br \/>\n3. Yudistiro Pranoto (iNews).<br \/>\n4. Firman Daus (Anadolu Agency).<br \/>\n5. Donal Husni (jurnalis lepas).<br \/>\n6. Warta\/Surakman (kapten kapal).<br \/>\n7. Surakman (ABK kapal).<br \/>\n8. Heriyanto (pemandu).<\/p>\n<p>(AK)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Foto: dok. medsos Banten (LB): Jenazah Surakman (50), anak buah kapal (ABK) Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, Sabtu (12\/9\/2026). Jenazah Surakman ditemukan sekitar 347 kilometer dari titik terakhir kapal Arupadhatu 1 hilang kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026. Polda Banten memastikan identitas jenazah yang sebelumnya berstatus tanpa identitas atau Mr X tersebut sebagai Surakman, ABK Arupadhatu 1. Identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan DNA yang kemudian dinyatakan cocok dengan DNA anak korban. &#8220;Jenazah Mr X tadi teridentifikasi sebagai Surahman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayat, putra kandung dari Bapak Surakman, ABK kapal Arupadhatu 1, yang meliput erupsi Anak Krakatau pada 7 September 2026,&#8221; kata Kapolda Banten Irjen Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23\/9\/2026). Hengki menjelaskan, setelah jenazah ditemukan di Pulau Enggano, Polda Bengkulu berkoordinasi dengan Polda Banten untuk proses identifikasi. Jenazah tersebut memiliki ciri-ciri mengenakan celana pendek berwarna hitam, tinggi sekitar 163 sentimeter, dan diperkirakan berusia 50 tahun. Tim Disaster Victim Identification (DVI) kemudian mencocokkan data antemortem dan postmortem dari keluarga rombongan Arupadhatu 1 yang dilaporkan hilang. Proses identifikasi mencakup pemeriksaan data primer berupa sidik jari, data gigi, dan DNA. Dari pemeriksaan tersebut, tim DVI [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":58955,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1251],"tags":[],"class_list":["post-58954","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-banten"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58954","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58954"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58954\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":58956,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58954\/revisions\/58956"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58955"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58954"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58954"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lampungbarometer.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58954"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}